27.8 C
Mojokerto
Saturday, December 3, 2022

Selama 9 Bulan Terjadi 71 Kebakaran di Mojokerto

Mayoritas Dipicu Faktor Kelalaian Manusia

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Setidaknya telah terjadi 71 insiden kebakaran di wilayah Kabupaten Mojokerto sejak delapan bulan terakhir. Peristiwa kebakaran kian meningkat seiring memasuki puncak kemarau beberapa pekan lalu.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto mencatat, sejak Februari hingga bulan September setidaknya terjadi 71 peristiwa kebakaran. Mulai dari kebakaran kendaraan, rumah, lahan, hingga pabrik. Tidak satu pun amukan si jago merah tersebut menimbulkan korban jiwa. Hanya saja, angka peristiwa kebakaran kian melonjak saat memasuki puncak musim kemarau di bulan Agustus-September.

Sepanjang Februari hingga Juni peristiwa kebakaran yang dilaporkan ke Damkar BPBD Kabupaten Mojokerto rata-rata di bawah 10 kejadian. Masing-masing 4 peristiwa di Februari, 1 di bulan Maret, bulan April dan Mei terjadi 4 kebakaran, dan 7 kebakaran di bulan Juni.
Angka kebakaran kian meningkat sejak bulan Juli dengan 12 kejadian, Agustus 14 peristiwa, hingga terjadi 21 insiden kebaran di bulan September. Sejak Februari hingga September, didominasi peristiwa kebaran dengan 31 kejadian. Dengan kata lain, sekitar 44 persen dari total peristiwa adalah kebakaran lahan.

Baca Juga :  Puncak Kemarau, Puluhan Rumah-Lahan Terbakar

’’Sesuai prediksi BMKG, puncak kemarau terjadi antara bulan Agustus-September. Tapi sebenarnya itu tidak berpengaruh langsung dengan terjadinya kebakaran. Justru, pemicu kebakaran ini mayoritas karena faktor manusia atau kelalaian manusia sendiri,’’ ungkap Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat, kemarin.

Seperti kebakaran lahan yang mendominasi, lanjut Djoko, mengeringnya tanaman akibat panasnya suhu udara tidak berpengaruh banyak untuk memicu sumber api. ’’Banyaknya tanaman, ranting, maupun daun kering itu membuat masyarakat bakar-bakar sampah. Nah, kasusnya, mereka banyak yang bakar-bakar di sekitar lahan. Setelah bakar-bakar itu ditinggal sebelum apinya dipastikan benar-benar mati. Jadi apinya merembet ke lahan,’’ bebernya.

Menurutnya, kebakaran rumah yang terjadi sejauh ini juga diakibatkan faktor kelalaian manusia. Korsleting listrik misalnya. Masih banyak masyarkat yang belum paham akan pentingnya pemakaian alat kelistrikan terstandar SNI. ’’Jadi ketika meninggalkan rumah dengan alat elektronik menyala ada kemungkinan terjadi korslet sehingga memicu kebakaran,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Korsleting Pompa Air, Gudang Rongsokan Ludes

Terlebih, sejumlah kasus kebakaran rumah dipicu masih menyalanya kompor saat rumah ditinggal kosong maupun kebocoran gas elpiji. Sehingga pihaknya mengimbau, agar masyarakat tidak sembrono saat memantik api. Berikut memastikan meninggalkan rumah dalam kondisi aman dari kemungkinan terjadinya pemicu kebakaran.

’’Kami mengimbau pada masyarakat agar memastikan api benar-benar padam ketika selesai bakar-bakar sampah. Apalagi saat bakar-bakar di dekat bahan yang mudah terbakar. Dan alangkah baiknya memakai instalasi listrik terstandar SNI untuk meminimalisir korsleting listrik yang bisa memicu kebakaran rumah,’’ tandas Djoko. (vad/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/