Tindak Lanjut Program SFC Mendukung Ketahanan Pangan
MOJOKERTO RAYA – Semua lembaga pendidikan tingkar SMA/SMK negeri di Mojokerto Raya diimbau untuk menanam pisang cavendish sebagai tindak lanjut program school food care (SFC). Dengan bibit tersebut diharapkan akan dapat membuka peluang usaha baru yang bisa bermanfaat bagi siswa dan lingkungan sekolah.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jawa Timur Wilayah Kabupaten-Kota Mojokerto Mudianto mengatakan, pisang cavendish dipatenkan sebagai ikon program SFC di Mojokerto. Selain bibit tanaman lainnya, pisang cavendish sudah bisa mulai ditanam oleh masing-masing satuan pendidikan.
’’Pisang cavendish kita jadikan ikon untuk mendukung program school food care ini. Sehingga seluruh sekolah kita minta menanam bibit pisang cavendish,’’ katanya, kemarin.
Mudianto juga mewajibkan semua SMA/SMK menanam tanaman tersebut. Sebab, dia melihat terdapat peluang usaha yang bisa bermanfaat bagi siswa dari penanaman piang cavendish dalam program ketahanan pangan di sekolah.
’’Implementasi pertama di SMKN 1 Trowulan. Kebetulan di sana juga ada program keahlian khusus pertanian, dan mulai jalan dengan penanaman pisang cavendish,’’ terang dia. Dari bibit pisang cavendish ini, nantinya hasil panen dapat dipasarkan ke masyarakat. Dengan demikian menambah peluang wirausaha bagi siswa setelah lulus nanti.
Tak sekadar menanam, lanjut dia, siswa juga diajari cara merawat bibit hingga panen. ’’Jadi nanti saat lulus siswa yang tidak ingin melanjutkan kuliah atau bekerja, bisa berwirausaha. Salah satunya mungkin membuka usaha pemasaran pisang cavendish, karena sudah dapat ilmunya saat di sekolah,’’ beber dia.
Sebelumnya SMAN 1 Pacet sudah lebih dulu menjadi pilot project SFC pertama di Mojokerto Raya. Selain berhasil mengembangkan perkebunan dan perikanan, sekolah ini juga diwajibkan untuk menanam pisang cavendish. ’’Budi daya yang lain tetap jalan, tapi pisang cavendish ini harus ditanam juga. Sehingga nantinya Mojokerto punya ikon identik untuk program school food care berupa pisang cavendish,’’ tandasnya. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi