Sebelum MPLS, siswa baru lebih dulu mengikuti rangkaian mastasa (masa taaruf santri) agar terbiasa dengan pola hidup di pondok.
Setelahnya, siswa mendapat pembekalan yang tercangkup dalam tiga kewajiban sebagai manusia.
Kepala SMP Darul Quran Dewi Maimunah mengatakan, sebagai sekolah berbabis pondok pesantren, siswa baru mendapat pemaparan tentang kepesantrenan di samping pembelajaran sekolah.
”Karena kebetulan anak yang sekolah di sini ini ya mondok di sini. Ketika di jam sekolah menjadi seorang pelajar, ketika sore dia harus menjadi santri,” ujarnya.
Masa pra-MPLS diisi dengan rangkaian mastasa yang diisi dengan berbagai kegiatan penguatan melalui tema santri di era society 5.0.
Guna menyambut era serba digital, santri dibekali pemahaman dan kemampuan tiga kewajiban santri sebagai manusia. Yakni kewajiban kepada tuhan dari kegiatan ibadah hingga mengaji.
Kemudian, kewajiban kepada sesama seperti pembiasaan rutin sekolah dan pondok.
”Jadi mereka dikenalkan dengan apel dan senam pagi untuk penguatan psikis, penguatan kebangsaan dengan bergantian menjadi pemimpin apel, serta kultum dari anak-anak sendiri,” terangnya.
Keutamaan yang ketiga yakni kewajiban kepada diri sendiri. Hal ini diaplikasikan dengan menjaga kesehatan melalui rajin olahraga hingga minum multivitamin.
Dalam kegiatan MPLS, siswa baru juga dikenalkan dengan berbagai rutinitas sekolah serta ekstrakurikuler. Antara lain ekskul pramuka, membatik, banjari, dan qiroah, dan paskibraka. Kegiatan itu didemonstrasikan untuk memacu minat dan bakat siswa. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah