25.8 C
Mojokerto
Sunday, December 4, 2022

Menilik Gedung SDN Tawangrejo, Jatirejo, Mengungsi ke Teras saat Hujan Deras

Infrastruktur masih menjadi salah satu masalah pelik di dunia pendidikan. Banyak sekolah dengan bangunan yang sudah tak layak. Sehingga siswa terpaksa harus mengungsi belajar saat diguyur hujan deras.

INDAH OCEANANDA, Jatirejo, Jawa Pos Radar Mojokerto

FENOMENA tersebut terjadi di SD Negeri Tawangrejo. Selama tiga tahun berturut-turut, siswa di lembaga yang terletak di Dusun Kulubanyu, Desa Tawangrejo, Kecamatan Jatirejo ini kerap mengungsi saat hujan datang. Sebab, kondisi kelas mengalami kerusakan pada bagian atap. Sehingga mengakibatkan air hujan masuk melalui celah atap dan menggenangi ruangan.

”Mulai kelas I sampai IV yang mengungsi. Biasanya belajar di teras ruang guru. Kadang juga kelas yang siswanya sedikit kami ajak belajar di ruang guru. Pas tidak hujan gitu, tetap khawatir nanti sewaktu-waktu jatuh terus nimpa anak-anak,” ujar Kepala SDN Tawangrejo Henti Yanusri Mawar.

Dari pengamatan Jawa Pos Radar Mojokerto, kondisi kerusakan atap di ruangan kelas SDN Tawangrejo menyentuh ruang kelas I-IV dan ruang perpustakaan yang digabung dengan UKS. Plafon di dalam kelas dan teras sekolah sudah banyak yang berlubang dan nyaris ambruk. Belum lagi, rangka atap bangunan berbahan kayu di sejumlah sudut sudah mulai lapuk akibat rembesan air hujan.

Baca Juga :  Tiga SD Negeri di Dawarblandong Mojokerto Jaga Kelestarian Seni Budaya

”Tetap menggelar KBM meskipun ngemper di teras, jangan sampai karena hujan saja anak-anak libur. Mereka harus tetap dapat ilmu meski kondisi sekolahnya rusak,” ucap Mawar. Dia menambahkan, usai jam pelajaran berakhir, biasanya ia dan siswanya gotong royong mengepel ruang kelas agar bisa digunakan kembali.

SEDERHANA: Suasana pembelajaran kelas III yang diberi sekat dengan kelas II akibat keterbatasan ruangan di SDN Tawangrejo, Kecamatan Jatirejo. Setiap musim penghujan, mereka terpaksa belajar di teras karena kelasnya digenangi banjir.

Selain mengalami kerusakan pada bagian atap, lembaga dengan jumlah 46 murid ini juga minim fasilitas sarana prasarana. Satu ruangan terpaksa dijadikan ruang serbaguna. Yakni UKS dan perpustakaan. Sedangkan untuk pembelajaran agama, siswa dan guru sekolah tersebut biasanya menumpang di musala milik dusun setempat. ”Laboratorium komputer juga belum punya, jadi pelaksanaan ANBK kita numpang di SMPN 2 Jatirejo. Siswa diantar sama gurunya untuk ikut ujian di sana,” jelas dia.

Baca Juga :  Tulkiyem Pilih Suami Berjas

Belum lagi, salah satu ruangan yakni kelas II dan III terpaksa harus diberi sekat. Dikarenakan jumlah siswa yang sedikit dan keterbatasan ruang kelas yang dimiliki. Maklum, sekolah ini terletak di kaki bukit Watu Jengger dan hanya mengandalkan siswa dari dua dusun saja. ”Siswa di sini memang sedikit, karena letaknya yang pelosok dan jauh. Biasanya, tiap tahun yang sekolah di sini siswa barunya, ya warga dari Dusun Kulubanyu dan Dusun Nawangan,” imbuh wanita yang berdomisili di Kecamatan Gondang tersebut.

Disinggung terkait perbaikan, Mawar mengaku sudah mengajukan usulan rehabilitasi. Dispendik Kabupaten Mojokerto juga telah melakukan survei terhadap kerusakan bangunan yang dialami sekolah di ujung Kecamatan Jatirejo ini. Namun, hingga kini, sekolah tersebut tak kunjung diperbaiki. Ia berharap rehabilitasi gedung yang sudah berdiri sejak tahun 1981 ini dapat terealisasi pada 2023. ”Saya harap perbaikan bisa terwujud tahun depan, agar kita tidak was-was lagi saat melaksanakan pembelajaran di kelas,’’ pungkasnya. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/