alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Jangan Parno, Tetap Positif Thinking

Diakui atau tidak, kehamilan menjadi faktor komorbid setara lansia, diabetes, atau hipertensi bagi ibu-ibu di situasi pandemi Covid-19 saat ini. Tak ayal, kekhawatiran terpapar virus menjadi momok paling menakutkan bagi wanita yang tengah menyiapkan persalinannya. Akan tetapi, ketakutan seperti itu sebaiknya dihindari demi kesehatan sang jabang bayi.

Pada dasarnya, kekhawatiran itulah yang justru menjadi pendukung wanita hamil rentan terpapar virus. Mental yang down hingga paranoid (parno) dalam beraktivitas selama hamil justru membuat kesehatan janin tidak stabil.

Pengalaman seperti itu sejatinya tengah dirasakan Nine Kristin Cahyani, guru salah satu SD negeri di Kota Mojokerto. Namun, Nine memiliki resep jitu agar kondisi fisiknya dan tiga calon buah hatinya tetap terjaga. Bahkan bisa jadi obat mujarab agar ibu dan janin tetap sehat dan selamat saat melahirkan. Yakni dengan selalu berpikiran positif dan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat. ’’Selalu berpikir positif saja. Tetap terus berdoa dan tidak parno dengan hal-hal di sekiling kita,’’ terangnya.

Di awal-awal kehamilannya, Nine memang sempat khawatir akan kondisinya yang diselimuti dengan suasana persebaran Covid-19. Apalagi, selama PPKM diterapkan, sejumlah orang terpapar terus meningkat, baik itu dalam kondisi tanpa gejala, gejala sedang maupun berat. Termasuk di sekitar rumahnya di perumahan Wates, Kota Mojokerto yang cukup tinggi tingkat persebarannya.

Hal itu membuat situasi kian drop. Padahal, dari hasil konsultasi dokter, kesehatan janin tidak hanya ditentukan dari kondisi fisik saja. Kesehatan mental sang ibu nyatanya juga harus dijaga agar tidak stress. ’’Justru ketika parno dan stress, malah membuat tubuh tidak bisa beraktivitas, nafsu makan malah turun dan itu bisa diikuti dengan kondisi bayi,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Bukan Menebar Ketakutan, Hanya Ingin Sampaikan Pesan

Ibu 4 orang anak ini bukannya tanpa ikhtiar lahiriyah dalam menjaga calon buah hatinya yang diprediksi kembar tiga sekaligus. Selain menjaga ritme makan dengan komposisi lengkap, istirahat cukup juga selalu ia prioritaskan. Termasuk juga menerapkan prokes ketat agar tidak mudah terpapar virus.

Mulai dari sering berjemur di pagi hari, selalu mengenakan masker dobel dan saat keluar rumah hingga rutin konsultasi ke dokter. ’’Sebulan ini saya sudah total istirahat dan beraktivitas mengajar di rumah. Kontrol ke dokter dua minggu sekali, dan sering konsultasi via seluler,’’ pungkasnya. 

Tetap Ekstra Waspada

PANDEMI membuat semua harus waspada. Terlebih, kalangan ibu hamil. Mereka harus ekstra hati-hati. Karena, tak hanya menjaga kesehatan dirinya sendiri, melainkan juga janin di kandungannya.

Kalangan bumil yang tidak bekerja, bukan berarti aman. Kalangan ini juga memiliki kerawanan tersendiri tertular Covid-19 dari anggota keluarga lain. Oleh karena itu, prokes yang ketat tidak hanya dilakukan bumil melainkan pula ke seluruh anggota keluarga. ’’Baik suami, anak-anak, kakak, adik, sampai orang tua juga wajib prokes,’’ ungkap dr Kurnia Dian SPOG.

Baca Juga :  Sejak Kecil Sudah Diakrabkan Ayah dengan Binatang Melata

Dokter berjilbab ini menjelaskan, meski tidak bekerja, bumil tetap rentan tertular korona. Itu dari anggota keluarga serumah. Itu bisa terjadi lantaran dalam menggunakan masker, makan bersama di luar, berkerumun dan lainnya. ’’Bumil wajib jalankan prokes 6M dengan baik. Bahkan menggunakan masker rekomendasi terbaru yaitu masker dobel (masker kain dan bedah) dan tidak makan bersama di tempat kerja,’’ jelas dia.

Dokter yang juga buka praktek di klinik perawatan anak di Kelurahan Wates Kecamatan Magersari Kota Mojokerto ini menuturkan, pada bumil risiko rendah, pembatasan kontrol kehamilan sudah diterapkan. Maksudnya, mengurangi kontak ibu hamil dengan pasien lain di suatu instansi kesehatan. ’’Ini memungkinkan terjadinya penularan,’’ tutur dia.

Di samping itu, saat ini ada rekomendasi terbaru dari Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Yang mana, sedang menggencarkan revisi rekomendasi mengenai vaksinasi pada ibu hamil. ’’Ibu hamil menjadi kalangan yang diprioritaskan untuk mendapatkan vaksinasi,’’ beber dr Kurnia.

Cara itu, untuk mencegah gejala apabila terinfeksi Covid-19. Sekaligus, bumil tidak menjadi potensial spreader (OTG) di lingkungannya sendiri. Itu karena berdasarkan data, sebanyak 50 persen ibu hamil yang terinfeksi Covid-19 diketahui ternyata tanpa gejala. ’’Vaksin ini penting sekali,’’ tandasnya mengulang.

Diakui atau tidak, kehamilan menjadi faktor komorbid setara lansia, diabetes, atau hipertensi bagi ibu-ibu di situasi pandemi Covid-19 saat ini. Tak ayal, kekhawatiran terpapar virus menjadi momok paling menakutkan bagi wanita yang tengah menyiapkan persalinannya. Akan tetapi, ketakutan seperti itu sebaiknya dihindari demi kesehatan sang jabang bayi.

Pada dasarnya, kekhawatiran itulah yang justru menjadi pendukung wanita hamil rentan terpapar virus. Mental yang down hingga paranoid (parno) dalam beraktivitas selama hamil justru membuat kesehatan janin tidak stabil.

Pengalaman seperti itu sejatinya tengah dirasakan Nine Kristin Cahyani, guru salah satu SD negeri di Kota Mojokerto. Namun, Nine memiliki resep jitu agar kondisi fisiknya dan tiga calon buah hatinya tetap terjaga. Bahkan bisa jadi obat mujarab agar ibu dan janin tetap sehat dan selamat saat melahirkan. Yakni dengan selalu berpikiran positif dan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat. ’’Selalu berpikir positif saja. Tetap terus berdoa dan tidak parno dengan hal-hal di sekiling kita,’’ terangnya.

Di awal-awal kehamilannya, Nine memang sempat khawatir akan kondisinya yang diselimuti dengan suasana persebaran Covid-19. Apalagi, selama PPKM diterapkan, sejumlah orang terpapar terus meningkat, baik itu dalam kondisi tanpa gejala, gejala sedang maupun berat. Termasuk di sekitar rumahnya di perumahan Wates, Kota Mojokerto yang cukup tinggi tingkat persebarannya.

Hal itu membuat situasi kian drop. Padahal, dari hasil konsultasi dokter, kesehatan janin tidak hanya ditentukan dari kondisi fisik saja. Kesehatan mental sang ibu nyatanya juga harus dijaga agar tidak stress. ’’Justru ketika parno dan stress, malah membuat tubuh tidak bisa beraktivitas, nafsu makan malah turun dan itu bisa diikuti dengan kondisi bayi,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Ditarget Menang, Skuad Tak Utuh

Ibu 4 orang anak ini bukannya tanpa ikhtiar lahiriyah dalam menjaga calon buah hatinya yang diprediksi kembar tiga sekaligus. Selain menjaga ritme makan dengan komposisi lengkap, istirahat cukup juga selalu ia prioritaskan. Termasuk juga menerapkan prokes ketat agar tidak mudah terpapar virus.

- Advertisement -

Mulai dari sering berjemur di pagi hari, selalu mengenakan masker dobel dan saat keluar rumah hingga rutin konsultasi ke dokter. ’’Sebulan ini saya sudah total istirahat dan beraktivitas mengajar di rumah. Kontrol ke dokter dua minggu sekali, dan sering konsultasi via seluler,’’ pungkasnya. 

Tetap Ekstra Waspada

PANDEMI membuat semua harus waspada. Terlebih, kalangan ibu hamil. Mereka harus ekstra hati-hati. Karena, tak hanya menjaga kesehatan dirinya sendiri, melainkan juga janin di kandungannya.

Kalangan bumil yang tidak bekerja, bukan berarti aman. Kalangan ini juga memiliki kerawanan tersendiri tertular Covid-19 dari anggota keluarga lain. Oleh karena itu, prokes yang ketat tidak hanya dilakukan bumil melainkan pula ke seluruh anggota keluarga. ’’Baik suami, anak-anak, kakak, adik, sampai orang tua juga wajib prokes,’’ ungkap dr Kurnia Dian SPOG.

Baca Juga :  Diburu Warga, Obat Terapi Langka

Dokter berjilbab ini menjelaskan, meski tidak bekerja, bumil tetap rentan tertular korona. Itu dari anggota keluarga serumah. Itu bisa terjadi lantaran dalam menggunakan masker, makan bersama di luar, berkerumun dan lainnya. ’’Bumil wajib jalankan prokes 6M dengan baik. Bahkan menggunakan masker rekomendasi terbaru yaitu masker dobel (masker kain dan bedah) dan tidak makan bersama di tempat kerja,’’ jelas dia.

Dokter yang juga buka praktek di klinik perawatan anak di Kelurahan Wates Kecamatan Magersari Kota Mojokerto ini menuturkan, pada bumil risiko rendah, pembatasan kontrol kehamilan sudah diterapkan. Maksudnya, mengurangi kontak ibu hamil dengan pasien lain di suatu instansi kesehatan. ’’Ini memungkinkan terjadinya penularan,’’ tutur dia.

Di samping itu, saat ini ada rekomendasi terbaru dari Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Yang mana, sedang menggencarkan revisi rekomendasi mengenai vaksinasi pada ibu hamil. ’’Ibu hamil menjadi kalangan yang diprioritaskan untuk mendapatkan vaksinasi,’’ beber dr Kurnia.

Cara itu, untuk mencegah gejala apabila terinfeksi Covid-19. Sekaligus, bumil tidak menjadi potensial spreader (OTG) di lingkungannya sendiri. Itu karena berdasarkan data, sebanyak 50 persen ibu hamil yang terinfeksi Covid-19 diketahui ternyata tanpa gejala. ’’Vaksin ini penting sekali,’’ tandasnya mengulang.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/