alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Datangkan Sembilan Kiai, Napi Diajari Memandikan Jenazah

TIDAK semua hal di dalam penjara selalu bersifat negatif. Banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan narapidana (napi) demi merubah dirinya menjadi lebih baik. Termasuk mengikuti kegiatan keagamaan di Pesantren At Taubah yang berdiri di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-B Mojokerto.

Hari-hari berada di balik jeruji besi lapas mau tak mau harus dijalani setiap napi atas hukuman dari sifat khilaf yang telah diperbuat di masa lampau. Terpisah jauh dari keluarga dan sanak saudara membuat mereka kerap dilanda rasa rindu berlebih yang menusuk kalbu.

Bahkan, rasa rindu yang berlipat itu terkadang membuat para napi dihinggapi rasa depresi atas hukuman yang telah dijatuhkan. Hingga kerap melakukan tindakan di luar kontrol, meski telah dijaga ketat oleh petugas lapas atau sipir.

Akan tetapi, perasaan seperti itu lambat laun kini mulai dirasakan menurun cukup signifikan oleh sebagian besar napi Lapas Kelas II-B Mojokerto. Mereka justru merasa lebih sabar dan tawakal dalam menjalani sisa hukuman.

Tidak ada lagi rasa amarah yang menggebu hingga membuat rusuh di sekitarnya. Perubahan itu yang menjadi nilai positif dari situasi lapas yang berdiri sejak tahun 1918 tersebut sejak setahun terakhir. Hal inilah yang diakui banyak napi sebagai efek positif dari aktivitasnya sebagai santri di Pondok Pesantren (Ponpes) At Taubah.

Baca Juga :  Pemain Wajib Diasuransikan

Di mana ponpes yang didirikan sejak Juli 2016 lalu itu banyak mengajarkan ilmu agama hingga membuat para napi semakin sadar dan mengenal Tuhan lebih dekat. Padahal, membina napi tidaklah semudah yang dibayangkan. Butuh kesabaran dan ketabahan luar biasa dalam membimbing napi kembali ke jalan yang benar.

’’Ya kebanyakan mereka (napi, Red) memang karena ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Meskipun memang tidak semua napi yang menghuni ikut menjadi santrinya. Setiap hari selalu ada kegiatan salat dan ngaji dari mulai pagi sampai sore. Sekarang ini kurang lebih sekitar 75 dari 300 napi yang menghuni. Kita beri nama At Taubah karena menjadi tempat paling efektif dalam menjalani pertobatan,’’ terang Ahmad Nuri Dhuka, Kasi Binadik Lapas Kelas II-B Mojokerto, kemarin.

Dhuka menjelaskan, salah satu keberhasilan ponpes ini tegak berdiri adalah kesamaan visi antara para kiai, petugas lapas dan napi itu sendiri. Di mana, merubah diri menjadi lebih baik adalah tujuan utama ponpes ini berdiri. Meski tidak seperti ponpes pada umumnya, namun tidak mengurangi keseriusan para napi mendalami ilmu agama. Hal ini tak lepas dari banyaknya kegiatan yang dilakukan para santri napi.

Baca Juga :  Galian Liar Marak, Gubernur Diminta Ikut Bertanggung Jawab

Di mana setiap hari mereka dianjurkan untuk menjalani salat Duha disamping salat wajib lima waktu. Setelah itu juga kegiatan mengaji mulai dari siang sampai sore hari. Tidak hanya membaca Alquran, kegiatan mengaji juga diisi dengan materi ceramah dari berbagai kitab yang disediakan.

Nah, untuk membantu para napi mendalami ilmu agama, lapas sengaja mengundang banyak kiai dari berbagai lembaga. Menurut Dhuka, ada sembilan kiai yang kami datangkan setiap hari. Mulai dari Kemenag Kota dan Kabupaten Mojokerto, LDNU, Ponpes Az Zahro Krian, PP Mayangan Jombang, hingga Yayasan Kedungsari Mojokerto.

Selain ibadah wajib rukun Islam, warga binaan juga diajarkan ilmu fiqih, tauhid dan akidah dari berbagai kitab. Termasuk juga ilmu lainnya. Seperti menjadi bagaimana menjadi muadzin, bilal, sampai khatib. ”Mungkin dalam waktu dekat kita ajarkan juga tata cara memandikan jenazah dan cara talqin jenazah,’’ imbuhnya.

TIDAK semua hal di dalam penjara selalu bersifat negatif. Banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan narapidana (napi) demi merubah dirinya menjadi lebih baik. Termasuk mengikuti kegiatan keagamaan di Pesantren At Taubah yang berdiri di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-B Mojokerto.

Hari-hari berada di balik jeruji besi lapas mau tak mau harus dijalani setiap napi atas hukuman dari sifat khilaf yang telah diperbuat di masa lampau. Terpisah jauh dari keluarga dan sanak saudara membuat mereka kerap dilanda rasa rindu berlebih yang menusuk kalbu.

Bahkan, rasa rindu yang berlipat itu terkadang membuat para napi dihinggapi rasa depresi atas hukuman yang telah dijatuhkan. Hingga kerap melakukan tindakan di luar kontrol, meski telah dijaga ketat oleh petugas lapas atau sipir.

Akan tetapi, perasaan seperti itu lambat laun kini mulai dirasakan menurun cukup signifikan oleh sebagian besar napi Lapas Kelas II-B Mojokerto. Mereka justru merasa lebih sabar dan tawakal dalam menjalani sisa hukuman.

- Advertisement -

Tidak ada lagi rasa amarah yang menggebu hingga membuat rusuh di sekitarnya. Perubahan itu yang menjadi nilai positif dari situasi lapas yang berdiri sejak tahun 1918 tersebut sejak setahun terakhir. Hal inilah yang diakui banyak napi sebagai efek positif dari aktivitasnya sebagai santri di Pondok Pesantren (Ponpes) At Taubah.

Baca Juga :  Pemain Wajib Diasuransikan

Di mana ponpes yang didirikan sejak Juli 2016 lalu itu banyak mengajarkan ilmu agama hingga membuat para napi semakin sadar dan mengenal Tuhan lebih dekat. Padahal, membina napi tidaklah semudah yang dibayangkan. Butuh kesabaran dan ketabahan luar biasa dalam membimbing napi kembali ke jalan yang benar.

’’Ya kebanyakan mereka (napi, Red) memang karena ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Meskipun memang tidak semua napi yang menghuni ikut menjadi santrinya. Setiap hari selalu ada kegiatan salat dan ngaji dari mulai pagi sampai sore. Sekarang ini kurang lebih sekitar 75 dari 300 napi yang menghuni. Kita beri nama At Taubah karena menjadi tempat paling efektif dalam menjalani pertobatan,’’ terang Ahmad Nuri Dhuka, Kasi Binadik Lapas Kelas II-B Mojokerto, kemarin.

Dhuka menjelaskan, salah satu keberhasilan ponpes ini tegak berdiri adalah kesamaan visi antara para kiai, petugas lapas dan napi itu sendiri. Di mana, merubah diri menjadi lebih baik adalah tujuan utama ponpes ini berdiri. Meski tidak seperti ponpes pada umumnya, namun tidak mengurangi keseriusan para napi mendalami ilmu agama. Hal ini tak lepas dari banyaknya kegiatan yang dilakukan para santri napi.

Baca Juga :  Suporter Sindir Kejanggalan lewat Simbol Koreo VW

Di mana setiap hari mereka dianjurkan untuk menjalani salat Duha disamping salat wajib lima waktu. Setelah itu juga kegiatan mengaji mulai dari siang sampai sore hari. Tidak hanya membaca Alquran, kegiatan mengaji juga diisi dengan materi ceramah dari berbagai kitab yang disediakan.

Nah, untuk membantu para napi mendalami ilmu agama, lapas sengaja mengundang banyak kiai dari berbagai lembaga. Menurut Dhuka, ada sembilan kiai yang kami datangkan setiap hari. Mulai dari Kemenag Kota dan Kabupaten Mojokerto, LDNU, Ponpes Az Zahro Krian, PP Mayangan Jombang, hingga Yayasan Kedungsari Mojokerto.

Selain ibadah wajib rukun Islam, warga binaan juga diajarkan ilmu fiqih, tauhid dan akidah dari berbagai kitab. Termasuk juga ilmu lainnya. Seperti menjadi bagaimana menjadi muadzin, bilal, sampai khatib. ”Mungkin dalam waktu dekat kita ajarkan juga tata cara memandikan jenazah dan cara talqin jenazah,’’ imbuhnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/