alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Hanya Jadi Kembang Kasur, Andalkan Penghasilan Nenek

Kesehatan dan pendidikan harus dinikmati oleh semua generasi bangsa. Namun, realitanya masih saja didapati warga yang tidak bisa berobat ke rumah sakit dan berhenti sekolah akibat terhambat biaya. Setidaknya itulah nasib yang dialami Muhammad Imam Shodikin. Seperti apa kisahnya?

PROGRAM kesehatan ternyata belum menyentuh semua lapisan. Muhammad Imam Shodikin, 17, harus menanggung penyakit komplikasinya dengan hanya dirawat di rumah, karena alasan tidak ada biaya.

Imam adalah anak dari keluarga miskin di Dusun/Desa/Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Sejak tiga bulan lalu, karena tidak ada biaya, remaja ini hanya bisa berbaring di rumahnya yang hanya berukuran 6 x 4 meter akibat menderita sakit komplikasi.

”Pertama, saya hanya sakit kepala, terus paru-paru. Besoknya lagi, perut, kaki hingga tidak bisa jalan,’’ katanya. Imam terpaksa putus sekolah karena tidak mampu membayar.  Apalagi SPP-nya kini sudah naik hingga mencapai Rp 100 ribu per bulan.

Baca Juga :  Diduga Selewengkan Dana Desa

Walau hingga sekarang, dia mengaku masih berkeinginan besar untuk tetap melanjutkan pendidikan. Namun apa daya. Nasib buruk harus diterimanya. ”Dulu saya sekolah di SMA di Jatirejo, sudah kelas dua,’’ ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Ahmadi, 40, ayah Imam bercerita. Sebenarnya dia tidak tega melihat penderitaan anak tunggalnya. Dari tiga bulan lalu, dia harus rela menjadi penganguran dan menetap di rumah karena harus menjaga Imam setiap hari.

”Dulu saya kerjanya serabutan. Apa saja dikerjakan untuk bisa sekolah dan memenuhi kebutuhan Imam. Sekarang saya terpaksa tidak kerja,’’ kata dia. Kini, lanjut Ahmadi, keluarga kecilnya yang sudah ditinggal istrinya dari tahun 2001 silam.

Hanya bisa makan seadaanya dari penghasilan nenek Imam sebagai tukang urut. Pasalnya, dia hingga saat ini tidak bisa lagi mendapatkan uang karena harus menjaga sang anak. ”Setiap hari biasanya dikasih uang Rp 50 ribu sama neneknya Imam dari hasil urut,’’ lanjutnya.

Baca Juga :  NU Minta Kader Tak Bawa Atribut saat Pilbup

Yang paling menyedihkan, setiap hari dia harus makan apa adanya. Sedangkan untuk pembelian obat-obatan anaknya hanya mengandalkan pemberian dari teman karib. ”Ke puskesmas ya pernah. Setiap hari Kamis biasanya ada teman dan dokter terdekat yang ngasih obat. Itupun tidak tentu,’’ jelasnya.

Untuk bantuan dari pemerintah setempat, Ahmad mengaku belum pernah menerima apa pun. Pasalnya, dia sangat berharap dan menginginkan ada pihak yang membantu memerikan bantuan pengobatan bagi anaknya hingga sembuh total.

”Iya, ini anak saya satu-satunya. Kemarin saya dengar ada pihak pemerintah yang ingin ke rumah. Tapi, belum ada yang datang,’’ ujarnya. (ras)

 

 

Kesehatan dan pendidikan harus dinikmati oleh semua generasi bangsa. Namun, realitanya masih saja didapati warga yang tidak bisa berobat ke rumah sakit dan berhenti sekolah akibat terhambat biaya. Setidaknya itulah nasib yang dialami Muhammad Imam Shodikin. Seperti apa kisahnya?

PROGRAM kesehatan ternyata belum menyentuh semua lapisan. Muhammad Imam Shodikin, 17, harus menanggung penyakit komplikasinya dengan hanya dirawat di rumah, karena alasan tidak ada biaya.

Imam adalah anak dari keluarga miskin di Dusun/Desa/Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Sejak tiga bulan lalu, karena tidak ada biaya, remaja ini hanya bisa berbaring di rumahnya yang hanya berukuran 6 x 4 meter akibat menderita sakit komplikasi.

”Pertama, saya hanya sakit kepala, terus paru-paru. Besoknya lagi, perut, kaki hingga tidak bisa jalan,’’ katanya. Imam terpaksa putus sekolah karena tidak mampu membayar.  Apalagi SPP-nya kini sudah naik hingga mencapai Rp 100 ribu per bulan.

Baca Juga :  Situs Talud, Bagian dari Kota Kerajaan Majapahit
- Advertisement -

Walau hingga sekarang, dia mengaku masih berkeinginan besar untuk tetap melanjutkan pendidikan. Namun apa daya. Nasib buruk harus diterimanya. ”Dulu saya sekolah di SMA di Jatirejo, sudah kelas dua,’’ ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Ahmadi, 40, ayah Imam bercerita. Sebenarnya dia tidak tega melihat penderitaan anak tunggalnya. Dari tiga bulan lalu, dia harus rela menjadi penganguran dan menetap di rumah karena harus menjaga Imam setiap hari.

”Dulu saya kerjanya serabutan. Apa saja dikerjakan untuk bisa sekolah dan memenuhi kebutuhan Imam. Sekarang saya terpaksa tidak kerja,’’ kata dia. Kini, lanjut Ahmadi, keluarga kecilnya yang sudah ditinggal istrinya dari tahun 2001 silam.

Hanya bisa makan seadaanya dari penghasilan nenek Imam sebagai tukang urut. Pasalnya, dia hingga saat ini tidak bisa lagi mendapatkan uang karena harus menjaga sang anak. ”Setiap hari biasanya dikasih uang Rp 50 ribu sama neneknya Imam dari hasil urut,’’ lanjutnya.

Baca Juga :  Dicoret Jadi Calon Kades, Protes Panitia, Lalu Ditetapkan. Kok Bisa?

Yang paling menyedihkan, setiap hari dia harus makan apa adanya. Sedangkan untuk pembelian obat-obatan anaknya hanya mengandalkan pemberian dari teman karib. ”Ke puskesmas ya pernah. Setiap hari Kamis biasanya ada teman dan dokter terdekat yang ngasih obat. Itupun tidak tentu,’’ jelasnya.

Untuk bantuan dari pemerintah setempat, Ahmad mengaku belum pernah menerima apa pun. Pasalnya, dia sangat berharap dan menginginkan ada pihak yang membantu memerikan bantuan pengobatan bagi anaknya hingga sembuh total.

”Iya, ini anak saya satu-satunya. Kemarin saya dengar ada pihak pemerintah yang ingin ke rumah. Tapi, belum ada yang datang,’’ ujarnya. (ras)

 

 

Artikel Terkait

Most Read

PNS Calon Kades Terjaring OTT

Pengantin-Saksi Wajib Uji Swab

Artikel Terbaru


/