alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Sulap Jadi Berbagai Macam Furnitur

Di tangan Puput Pujianto, bahan limbah kayu palet bisa disulap jadi barang cantik. Dari kreativitas tangannya, dia bisa ciptakan furnitur bernilai jual tinggi.

Industri kecil menengah (IKM) ini belum lama ditekuni warga asal Dusun Clangap, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis. Namun, peluang ini nyatanya bisa membuatnya tetap produktif di tengah pandemi Covid-19. Terbukti, hingga empat tahun berjalan, bapak satu anak ini mengaku tak pernah kesulitan mencari pelanggan. Jika banyak orang terpuruk akibat gempuran pandemi Covid-19, dia malah bangkit dan kebanjiran orderan. ’’Tiap hari ada saja pesanan yang harus saya kerjakan. Macam-macam furnitur. Kadang meja, almari, dan kursi. Banyak juga yang pesan rak bunga. Pokoknya segala furnitur. Termasuk, juga pernak pernik untuk hiasan interior atau pun eksterior rumah,’’ katanya.

Pria yang mulai fokus tekuni kerajinan furnitur sejak 2018 ini mengaku, pesanan memang terus mengalir meski saat pandemi Covid-19. Tak hanya konsumen lokal Mojokerto, melainkan banyak juga yang dari luar kota. Seperti, Sidoarjo, Surabaya, hingga Pulau Dewata Bali. Apalagi banyak bermunculannya cafe-cafe baru menjadi mangsa pasar baru baginya. ’’Booth stand dan meja bar juga lagi naik daun. Karena masa pandemi gini, banyak orang yang berfikir bagaimana caranya buka usaha untuk bertahan hidup, peluang itu yang saya masuki,’’ tuturnya bersyukur.

Baca Juga :  Kader PDIP Laporkan Pembakaran Bendera Partai ke Polisi

Harganya bervariatif menyesuaikan ukuran dan kesulitan. Seperti satu set meja bar dengan ukuran 1,5 meter x 70 centimeter dan tinggi 90 centimeter, dibandrol Rp 2,5 juta. Sedangkan meja minimalis, dipatok mulai Rp 300 ribu. Ada juga Rp 600 ribu menyesuaikan ukuran. Dengan omzet Rp 10 juta per bulan, selama ini dia cukup menikmati. ’’Prinsip saya, kenapa kita harus mengembangkan usaha orang lain jika kita punya skill. Senang saja, namanya usaha pasti ada pasang surut,’’ kata Pujianto yang pilih berhenti jadi buruh pabrik.

Kerajinan yang dihasilkan juga tak monoton, sambil berjalan, dia selalu up date dan mengikuti tren pasar dengan berselancar di sosial media. Meliputi, Instagram, TikTok, dan Facebook. Seperti saat masyarakat banyak yang menggandrungi akuarium. Saat itu, dirinya juga harus membuat berbagai model meja akuarium untuk memikat pelanggannya. ’’Saya bisa customize model. Bahan dasarnya Jati Belanda. Seratnya juga bagus. Bukan masalah limbah kayu paletnya, tapi bagaimana kita mengeksekusinya jadi kerajinan istimewa dan bernilai,’’ ujarnya ditemui di tempat produksinya jalan Raya Kemantren, Kecamatan Gedeg.

Baca Juga :  Gagah di Usia Senja

Hingga kini, pemasaran hasil karyanya, masih mengandalkan sosial media. Selain mulut ke mulut dari konsumen yang puas. Banjirnya permintaan belakangan juga membuat Pujianto mampu mempekerjakan tiga mahasiswa dalam membantunya memenuhi pesanan pelanggan. Hal itu sesuai motivasinya sejak awal terjun di usaha furnitur. Yakni, merangkul anak-anak muda untuk bisa produktif dan kreatif sebagai bekal masa depan. ’’Ada yang sudah berhasil, bahkan sekarang dia (anak didiknya) sampai buka cabang tiga,’’ tuturnya bangga. (ori/fen)

Di tangan Puput Pujianto, bahan limbah kayu palet bisa disulap jadi barang cantik. Dari kreativitas tangannya, dia bisa ciptakan furnitur bernilai jual tinggi.

Industri kecil menengah (IKM) ini belum lama ditekuni warga asal Dusun Clangap, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis. Namun, peluang ini nyatanya bisa membuatnya tetap produktif di tengah pandemi Covid-19. Terbukti, hingga empat tahun berjalan, bapak satu anak ini mengaku tak pernah kesulitan mencari pelanggan. Jika banyak orang terpuruk akibat gempuran pandemi Covid-19, dia malah bangkit dan kebanjiran orderan. ’’Tiap hari ada saja pesanan yang harus saya kerjakan. Macam-macam furnitur. Kadang meja, almari, dan kursi. Banyak juga yang pesan rak bunga. Pokoknya segala furnitur. Termasuk, juga pernak pernik untuk hiasan interior atau pun eksterior rumah,’’ katanya.

Pria yang mulai fokus tekuni kerajinan furnitur sejak 2018 ini mengaku, pesanan memang terus mengalir meski saat pandemi Covid-19. Tak hanya konsumen lokal Mojokerto, melainkan banyak juga yang dari luar kota. Seperti, Sidoarjo, Surabaya, hingga Pulau Dewata Bali. Apalagi banyak bermunculannya cafe-cafe baru menjadi mangsa pasar baru baginya. ’’Booth stand dan meja bar juga lagi naik daun. Karena masa pandemi gini, banyak orang yang berfikir bagaimana caranya buka usaha untuk bertahan hidup, peluang itu yang saya masuki,’’ tuturnya bersyukur.

Baca Juga :  Kader PDIP Laporkan Pembakaran Bendera Partai ke Polisi

Harganya bervariatif menyesuaikan ukuran dan kesulitan. Seperti satu set meja bar dengan ukuran 1,5 meter x 70 centimeter dan tinggi 90 centimeter, dibandrol Rp 2,5 juta. Sedangkan meja minimalis, dipatok mulai Rp 300 ribu. Ada juga Rp 600 ribu menyesuaikan ukuran. Dengan omzet Rp 10 juta per bulan, selama ini dia cukup menikmati. ’’Prinsip saya, kenapa kita harus mengembangkan usaha orang lain jika kita punya skill. Senang saja, namanya usaha pasti ada pasang surut,’’ kata Pujianto yang pilih berhenti jadi buruh pabrik.

Kerajinan yang dihasilkan juga tak monoton, sambil berjalan, dia selalu up date dan mengikuti tren pasar dengan berselancar di sosial media. Meliputi, Instagram, TikTok, dan Facebook. Seperti saat masyarakat banyak yang menggandrungi akuarium. Saat itu, dirinya juga harus membuat berbagai model meja akuarium untuk memikat pelanggannya. ’’Saya bisa customize model. Bahan dasarnya Jati Belanda. Seratnya juga bagus. Bukan masalah limbah kayu paletnya, tapi bagaimana kita mengeksekusinya jadi kerajinan istimewa dan bernilai,’’ ujarnya ditemui di tempat produksinya jalan Raya Kemantren, Kecamatan Gedeg.

Baca Juga :  Nasdem Sorong Tiga Nama Cabup

Hingga kini, pemasaran hasil karyanya, masih mengandalkan sosial media. Selain mulut ke mulut dari konsumen yang puas. Banjirnya permintaan belakangan juga membuat Pujianto mampu mempekerjakan tiga mahasiswa dalam membantunya memenuhi pesanan pelanggan. Hal itu sesuai motivasinya sejak awal terjun di usaha furnitur. Yakni, merangkul anak-anak muda untuk bisa produktif dan kreatif sebagai bekal masa depan. ’’Ada yang sudah berhasil, bahkan sekarang dia (anak didiknya) sampai buka cabang tiga,’’ tuturnya bangga. (ori/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/