alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Untuk Memperingati Pertempuran 10 November di Surabaya

Lusa nanti, Kota Mojokerto akan kembali dibanjiri ribuan peserta Gerak Jalan Perjuangan (GJP) Mojokerto-Surabaya (Mojosuro). Hingga kemarin, jumlah pendaftar tercatat sebanyak 1.500 lebih peserta.

Terbagi atas perorangan dan 497 peserta beregu. Bagaimana asal muasal gerak jalan yang menjadi event akbar tahunan di Jatim itu?

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, awal kegiatan GJP Mojosuro merupakan inisiasi Pemerintah Darerah Tingkat 1 Jawa Timur (Jatim). Event itu digelar pertama kali di tahun 1955.

”Tepatnya, ketika memperingati Hari Pahlawan ke-10 tahun,” ujarnya. Saat itu, rute keberangkatan mulai dari Pandaan, Kabupaten Pasuruan menuju Kota Surabaya.

Namun, rute tersebut hanya berlangsung hingga tiga tahun saja. Sebab, sejak 1959 Alun-Alun Kota Mojokerto dipilih sebagai titik pemberangkatan. Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengaku tidak mengetahui pasti alasan perubahan rute baru tersebut.

Namun, jika merujuk pada sejarah pertempuran Surabaya 1945, jalur Pandaan-Surabaya merupakan area pertahanan selatan. Sementara jalur Mojokerto menjadi area pertahanan di sektor barat.

Baca Juga :  Berbalut Sensasi Rempah

”Mungkin karena Mojokerto merupakan pusat komando pertahanan Jatim pada waktu itu. Sehingga dianggap lebih relevan untuk menggambarkan semangat perjuangan,” paparnya.

Menurut Yuhan, pemilihan lokasi start juga sarat mengandung makna. Pasalnya, Alun-Alun Mojokerto terdapat monumen yang dinamakan Tugu Proklamasi.

Tetengger itu dibangun pada tahun 1949. Sementara titik finis ada di monumen Tugu Pahlawan yang didirikan awal dekade tahun 1950-an.

”Maka filosofinya adalah sekelompok orang yang berjuang membela proklamasi kemerdekaan dalam pertempuran 10 November di Surabaya,” ulasnya.

Dengan demikian, GJP Mojosuro menjadi event yang setiap tahun semakin semarak. Yuhan mencatat, acara tersebut sempat dua kali terhenti.

Itu terjadi ketika tahun 1965 akibat terjadinya peristiwa pemberontakan PKI. Setelah kondisi politik dinilai pulih, pada 1968 lomba jalan beregu dan perorangan itu kembali diadakan.

Tidak terselenggaranya acara juga terjadi ketika terjadi krisis politik di tahun 1987. Bahkan, kali ini vakum cukup lama dan baru digelar lagi 19 tahun berikutnya atau pada 2006.

Baca Juga :  Jalur Afirmasi Mendominasi

Akan tetapi, dia menilai makna filosofis itu agaknya telah memudar pada beberapa tahun ke belakang. Mengingat, titik pemberangkatan dipindah ke lapangan Raden Wijaya, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

GJP Mojosuro mengalami masa kejayaannya di era 1980 hingga 1990 an. Bahkan, saking semaraknya, animonya sudah terasa beberapa minggu sebelumnya.

Para peserta yang ingin mengikuti lomba melakukan latihan jalan berbaris di jalan sekitar tempat tinggalnya. Yuhan menyatakan, pada 1980-an event HJP Mojosuro menjadi pelaksanaan gerak jalan dengan peserta terbanyak.

Jumlah peserta perorangan mencapai 1.600 orang. Sementara jumlah peserta beregu menembus 1.100 pendaftar. Dengan masing-masing regu berjumlah 21 orang, maka mencapai 23 ribu lebih peserta.

”Itu belum ditambah dengan beberapa orang sebagai cadangan sekaligus pengantar,” paparnya. 

 

Lusa nanti, Kota Mojokerto akan kembali dibanjiri ribuan peserta Gerak Jalan Perjuangan (GJP) Mojokerto-Surabaya (Mojosuro). Hingga kemarin, jumlah pendaftar tercatat sebanyak 1.500 lebih peserta.

Terbagi atas perorangan dan 497 peserta beregu. Bagaimana asal muasal gerak jalan yang menjadi event akbar tahunan di Jatim itu?

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, awal kegiatan GJP Mojosuro merupakan inisiasi Pemerintah Darerah Tingkat 1 Jawa Timur (Jatim). Event itu digelar pertama kali di tahun 1955.

”Tepatnya, ketika memperingati Hari Pahlawan ke-10 tahun,” ujarnya. Saat itu, rute keberangkatan mulai dari Pandaan, Kabupaten Pasuruan menuju Kota Surabaya.

- Advertisement -

Namun, rute tersebut hanya berlangsung hingga tiga tahun saja. Sebab, sejak 1959 Alun-Alun Kota Mojokerto dipilih sebagai titik pemberangkatan. Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengaku tidak mengetahui pasti alasan perubahan rute baru tersebut.

Namun, jika merujuk pada sejarah pertempuran Surabaya 1945, jalur Pandaan-Surabaya merupakan area pertahanan selatan. Sementara jalur Mojokerto menjadi area pertahanan di sektor barat.

Baca Juga :  Pecatur Menjaga Feeling dengan Berlatih Mandiri

”Mungkin karena Mojokerto merupakan pusat komando pertahanan Jatim pada waktu itu. Sehingga dianggap lebih relevan untuk menggambarkan semangat perjuangan,” paparnya.

Menurut Yuhan, pemilihan lokasi start juga sarat mengandung makna. Pasalnya, Alun-Alun Mojokerto terdapat monumen yang dinamakan Tugu Proklamasi.

Tetengger itu dibangun pada tahun 1949. Sementara titik finis ada di monumen Tugu Pahlawan yang didirikan awal dekade tahun 1950-an.

”Maka filosofinya adalah sekelompok orang yang berjuang membela proklamasi kemerdekaan dalam pertempuran 10 November di Surabaya,” ulasnya.

Dengan demikian, GJP Mojosuro menjadi event yang setiap tahun semakin semarak. Yuhan mencatat, acara tersebut sempat dua kali terhenti.

Itu terjadi ketika tahun 1965 akibat terjadinya peristiwa pemberontakan PKI. Setelah kondisi politik dinilai pulih, pada 1968 lomba jalan beregu dan perorangan itu kembali diadakan.

Tidak terselenggaranya acara juga terjadi ketika terjadi krisis politik di tahun 1987. Bahkan, kali ini vakum cukup lama dan baru digelar lagi 19 tahun berikutnya atau pada 2006.

Baca Juga :  Jalur Afirmasi Mendominasi

Akan tetapi, dia menilai makna filosofis itu agaknya telah memudar pada beberapa tahun ke belakang. Mengingat, titik pemberangkatan dipindah ke lapangan Raden Wijaya, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

GJP Mojosuro mengalami masa kejayaannya di era 1980 hingga 1990 an. Bahkan, saking semaraknya, animonya sudah terasa beberapa minggu sebelumnya.

Para peserta yang ingin mengikuti lomba melakukan latihan jalan berbaris di jalan sekitar tempat tinggalnya. Yuhan menyatakan, pada 1980-an event HJP Mojosuro menjadi pelaksanaan gerak jalan dengan peserta terbanyak.

Jumlah peserta perorangan mencapai 1.600 orang. Sementara jumlah peserta beregu menembus 1.100 pendaftar. Dengan masing-masing regu berjumlah 21 orang, maka mencapai 23 ribu lebih peserta.

”Itu belum ditambah dengan beberapa orang sebagai cadangan sekaligus pengantar,” paparnya. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/