alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Dari Olah Limbah Tak Berguna hingga Ciptakan Objek Wisata

Desa diharapkan mampu mandiri. Bisa menghidupi diri sendiri tanpa harus mengandalkan suntikan dana dari pemerintah. Lalu, seperti apa langkah desa saat ini?

SUARA gergaji itu berdecit kencang. Kayu yang semula sangat kasar, dengan cepat menjadi halus. Motif kayu yang semula tak terlihat, nampak sangat mencolok. Sangat indah dan sedap dipandang.

Itulah Junaidi Abdillah. Pria 48 asal Dusun Tambaksari, RT 15 RW 5, Tambak Agung, Kecamatan Puri, itu tengah sibuk menghaluskan batangan kayu berukuran kecil. Kayu sisa-sisa itu rencananya untuk menyelesaikan pembuatan meja santai.

Junaidi adalah Ketua Badan Usaha Miliki Desa (BUMDes) di kampungnya. Ia dipiilih lantaran keahliannya yang luar biasa. Mampu memanfaatkan limbah kayu yang tak berguna, menjadi barang yang lebih bermanfaat. Mulai dari pigura, asbak, meja dan kursi.

Baca Juga :  Upgrade Alkes, RSUD Habiskan Ratusan Juta

Barang yang diproduksi itu akan dipasarkan. Sementara, BUMDes akan menikmati sebesar 30 persen dari pendapatan. ’’Sebagian dana hasil penjualan, akan masuk ke BUMDes,’’ kata Kades Tambak Agung, Filla Utomo.

Dikatakan dia, keberadaan BUMDes tak sekadar mengejar pendapatan. Namun, juga berimbas ke pemberdayaan masyarakat. ’’Di sini, anak-anak muda yang semula tidak ada pekerjaan, bisa mendapat kerja,’’ papar dia.

Soal pemasaran, diakuinya, masih banyak dikonsumsi warga sekitar. ’’Kita masih berproses. Kalau nanti sudah berkembang, kita akan menuju pemasaran secara online,’’ pungkas Filla.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Mojokerto Ardi Sepdianto, mengatakan, sudah seluruh desa di wilayahnya memiliki legalitas BUMDes. Akan tetapi, masih ada saja yang bingung mengembangkannya. ’’Untuk itu, kita lakukan pendampingan untuk pengembangan,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Ya Olahraga, Ya Herbal

Tak sedikit desa yang mulai mengembangkan usaha. Di antaranya, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas. Desa ini memanfaatkan tanah ganjaran menjadi objek wisata.

Dikonsep mirip alun-alun, desa ini mampu mendapatkan penghasilan yang cukup besar. Dana itulah yang akan menjadi pemasukan rutin bagi desa di kampungnya. ’’Yang lain, memanfaatkan potensi di kampungnya masing-masing,’’ pungkas dia. 

 

Desa diharapkan mampu mandiri. Bisa menghidupi diri sendiri tanpa harus mengandalkan suntikan dana dari pemerintah. Lalu, seperti apa langkah desa saat ini?

SUARA gergaji itu berdecit kencang. Kayu yang semula sangat kasar, dengan cepat menjadi halus. Motif kayu yang semula tak terlihat, nampak sangat mencolok. Sangat indah dan sedap dipandang.

Itulah Junaidi Abdillah. Pria 48 asal Dusun Tambaksari, RT 15 RW 5, Tambak Agung, Kecamatan Puri, itu tengah sibuk menghaluskan batangan kayu berukuran kecil. Kayu sisa-sisa itu rencananya untuk menyelesaikan pembuatan meja santai.

Junaidi adalah Ketua Badan Usaha Miliki Desa (BUMDes) di kampungnya. Ia dipiilih lantaran keahliannya yang luar biasa. Mampu memanfaatkan limbah kayu yang tak berguna, menjadi barang yang lebih bermanfaat. Mulai dari pigura, asbak, meja dan kursi.

Baca Juga :  Ada KUR UMKM, Airlangga Ajak Pemuda Muhammadiyah Berwirausaha

Barang yang diproduksi itu akan dipasarkan. Sementara, BUMDes akan menikmati sebesar 30 persen dari pendapatan. ’’Sebagian dana hasil penjualan, akan masuk ke BUMDes,’’ kata Kades Tambak Agung, Filla Utomo.

Dikatakan dia, keberadaan BUMDes tak sekadar mengejar pendapatan. Namun, juga berimbas ke pemberdayaan masyarakat. ’’Di sini, anak-anak muda yang semula tidak ada pekerjaan, bisa mendapat kerja,’’ papar dia.

- Advertisement -

Soal pemasaran, diakuinya, masih banyak dikonsumsi warga sekitar. ’’Kita masih berproses. Kalau nanti sudah berkembang, kita akan menuju pemasaran secara online,’’ pungkas Filla.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Mojokerto Ardi Sepdianto, mengatakan, sudah seluruh desa di wilayahnya memiliki legalitas BUMDes. Akan tetapi, masih ada saja yang bingung mengembangkannya. ’’Untuk itu, kita lakukan pendampingan untuk pengembangan,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Rakor Migor Sumut, Mendag Lutfi Minta Pelaku Penimbunan Ditindak Tegas

Tak sedikit desa yang mulai mengembangkan usaha. Di antaranya, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas. Desa ini memanfaatkan tanah ganjaran menjadi objek wisata.

Dikonsep mirip alun-alun, desa ini mampu mendapatkan penghasilan yang cukup besar. Dana itulah yang akan menjadi pemasukan rutin bagi desa di kampungnya. ’’Yang lain, memanfaatkan potensi di kampungnya masing-masing,’’ pungkas dia. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/