alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Ingin Bisa Berjalan Normal Kembali tanpa Bantuan

Semangat Siti Nur Mujawaroh, 16, tak lepas dari dukungan banyak pihak. Selain mengalir dari guru dan teman di sekolah, motivasi juga datang dari keluarganya. Setiap berangkat dan pulang sekolah, siswi kelas IX itu selalu diantar oleh ayahnya, Mukid. 

MESKI sempat dilanda perasaan tidak percaya diri setelah sebelah kakinya diamputasi, namun Siti Nur Mujawaroh tidak mau berlama-lama berkutat dalam kesedihan. Dia kemudian memutuskan untuk bangkit dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Hal itu tak lepas dari orang-orang terdekatnya.

Diakuinya, pasca melakukan amputasi akibat penyakit kanker tulang yang menyerang kaki kannya, perempuan yang akrab disapa Nur ini cukup kesulitan menjalani aktivitas hanya dengan satu kaki. Jangankan berjalan, duduk pun dia merasa sulit.

Ya, setelah menjalani amputasi untuk kali kedua, dia harus merelakan kehilangan kaki kanannya mulai ujung hingga bagian pangkal paha. Kendati demikian, dia tak sedikit pun terbesit untuk putus sekolah. Meski pada saat itu  masa pengobatan dan pemulihan kakinya menyita cukup banyak waktunya.

Bahkan, dia terpaksa harus tinggal kelas dan mengulang di kelas IX. ”Teman-teman banyak yang dukung. Keluarga juga selalu support dan berpesan jangan menghiraukan kalau ada yang mengejek saya,” terangnya.

Baca Juga :  Airlangga Minta Doa Ulama Sulsel agar UMKM Indonesia Bangkit Pasca Pandemi

Perempuan berhijab ini menceritakan, setiap hendak memasuki kelas, sejumlah teman-teman selalu membantunya. Dengan memakai kursi roda milik neneknya, teman-teman kelas membantu mendorong hingga sampai ke kelasnya XI A. Setelah itu, siswi kelahiran 24 Agustus 2001 berjalan dengan menggunakan sepasang kruk atau alat bantu jalan.

Pun demikian saat sepulang sekolah, beberapa teman juga mengantarkan hingga ke halaman depan sekolah. Bahkan temannya juga rela menemani hingga dia dijemput. Kendati demikian Nur tidak ingin terus menggantungkan dirinya pada teman maupun orang lainnya.

Oleh kerena itu, dia berharap bisa kembali berjalan sendiri tanpa menggunakan alat bantu. ”Saya ingin bisa jalan normal kembali tanpa tongkat, hanya itu,” harapnya. Satu-satunya cara untuk mewujudkan keinginannya itu adalah dengan menggunakan kaki palsu.

Anak dari pasangan Mukid-Khoiriyah ini menyatakan, sebelum dilakukan tindakan amputasi yang terakhir kalinya, Nur sempat menanyakan kepada dokter terkait peluang pemasangan kaki palsu. ”Waktu itu saya tanya, apakah masih bisa dipakai kaki palsu? Kata dokter masih bisa,” terangnya. Jawaban dokter itulah yang menjadi pelecut semangatnya untuk menjalani amputasi.

Baca Juga :  Rapid Test Reaktif, Petugas Coklit Langsung Dicoret

Namun, kondisi ekonomi keluarganya yang tergolong tidak mampu harus menunda keinginannya gadis berkacamata itu. Mukid, ayahnya sehari-hari hanya bekerja sebagai tukang becak. Ayahnyalah yang setiap hari mengantar dan menjemput putri semata wayangnya.

Kendati demikian, siswi asal Dusun Genengan, RT 02/RW 14, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri ini tidak mudah patah arang. Bahkan, saat lulus nanti, Nur tetap berkeinginan melanjutkan ke jenjang SMA, bahkan hingga ke bangku kuliah. Hal itu senada dengan keinginan orang tuanya.

Mukid menyatakan, dirinya juga berharap kondisi fisik tidak sampai menghalangi anaknya untuk melanjutkan pendidikan. ”Harapan saya Nur tetap sekolah sampai tuntas,” paparnya. Tukang becak yang sehari-hari mangkal di simpang empat Sooko ini menyatakan, meski  penghasilan terbilang pas-pasan, tetapi dia berusaha melakukan apa pun untuk mewujudkan cita-cita putrinya.

Mukid mengaku penghasilan rata-rata hanya Rp 15ribu-Rp 30 ribu per hari. Terlebih, Nur satu-satunya pewaris tunggal masa depannya. Sebab, anak pertamanya telah meninggal sejak kecil akibat penyakit usus buntu. ”Tinggal Nur satu-satunya. Kalau dia (Nur, Red) semangat melanjutkan sekolah, pasti saya akan terus usahakan sampai tuntas,” pungkasnya.

Semangat Siti Nur Mujawaroh, 16, tak lepas dari dukungan banyak pihak. Selain mengalir dari guru dan teman di sekolah, motivasi juga datang dari keluarganya. Setiap berangkat dan pulang sekolah, siswi kelas IX itu selalu diantar oleh ayahnya, Mukid. 

MESKI sempat dilanda perasaan tidak percaya diri setelah sebelah kakinya diamputasi, namun Siti Nur Mujawaroh tidak mau berlama-lama berkutat dalam kesedihan. Dia kemudian memutuskan untuk bangkit dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Hal itu tak lepas dari orang-orang terdekatnya.

Diakuinya, pasca melakukan amputasi akibat penyakit kanker tulang yang menyerang kaki kannya, perempuan yang akrab disapa Nur ini cukup kesulitan menjalani aktivitas hanya dengan satu kaki. Jangankan berjalan, duduk pun dia merasa sulit.

Ya, setelah menjalani amputasi untuk kali kedua, dia harus merelakan kehilangan kaki kanannya mulai ujung hingga bagian pangkal paha. Kendati demikian, dia tak sedikit pun terbesit untuk putus sekolah. Meski pada saat itu  masa pengobatan dan pemulihan kakinya menyita cukup banyak waktunya.

- Advertisement -

Bahkan, dia terpaksa harus tinggal kelas dan mengulang di kelas IX. ”Teman-teman banyak yang dukung. Keluarga juga selalu support dan berpesan jangan menghiraukan kalau ada yang mengejek saya,” terangnya.

Baca Juga :  Target Lolos Babak Penyisihan

Perempuan berhijab ini menceritakan, setiap hendak memasuki kelas, sejumlah teman-teman selalu membantunya. Dengan memakai kursi roda milik neneknya, teman-teman kelas membantu mendorong hingga sampai ke kelasnya XI A. Setelah itu, siswi kelahiran 24 Agustus 2001 berjalan dengan menggunakan sepasang kruk atau alat bantu jalan.

Pun demikian saat sepulang sekolah, beberapa teman juga mengantarkan hingga ke halaman depan sekolah. Bahkan temannya juga rela menemani hingga dia dijemput. Kendati demikian Nur tidak ingin terus menggantungkan dirinya pada teman maupun orang lainnya.

Oleh kerena itu, dia berharap bisa kembali berjalan sendiri tanpa menggunakan alat bantu. ”Saya ingin bisa jalan normal kembali tanpa tongkat, hanya itu,” harapnya. Satu-satunya cara untuk mewujudkan keinginannya itu adalah dengan menggunakan kaki palsu.

Anak dari pasangan Mukid-Khoiriyah ini menyatakan, sebelum dilakukan tindakan amputasi yang terakhir kalinya, Nur sempat menanyakan kepada dokter terkait peluang pemasangan kaki palsu. ”Waktu itu saya tanya, apakah masih bisa dipakai kaki palsu? Kata dokter masih bisa,” terangnya. Jawaban dokter itulah yang menjadi pelecut semangatnya untuk menjalani amputasi.

Baca Juga :  Sangat Menikmati, Tepis Anggapan Musiknya Orang Lawas

Namun, kondisi ekonomi keluarganya yang tergolong tidak mampu harus menunda keinginannya gadis berkacamata itu. Mukid, ayahnya sehari-hari hanya bekerja sebagai tukang becak. Ayahnyalah yang setiap hari mengantar dan menjemput putri semata wayangnya.

Kendati demikian, siswi asal Dusun Genengan, RT 02/RW 14, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri ini tidak mudah patah arang. Bahkan, saat lulus nanti, Nur tetap berkeinginan melanjutkan ke jenjang SMA, bahkan hingga ke bangku kuliah. Hal itu senada dengan keinginan orang tuanya.

Mukid menyatakan, dirinya juga berharap kondisi fisik tidak sampai menghalangi anaknya untuk melanjutkan pendidikan. ”Harapan saya Nur tetap sekolah sampai tuntas,” paparnya. Tukang becak yang sehari-hari mangkal di simpang empat Sooko ini menyatakan, meski  penghasilan terbilang pas-pasan, tetapi dia berusaha melakukan apa pun untuk mewujudkan cita-cita putrinya.

Mukid mengaku penghasilan rata-rata hanya Rp 15ribu-Rp 30 ribu per hari. Terlebih, Nur satu-satunya pewaris tunggal masa depannya. Sebab, anak pertamanya telah meninggal sejak kecil akibat penyakit usus buntu. ”Tinggal Nur satu-satunya. Kalau dia (Nur, Red) semangat melanjutkan sekolah, pasti saya akan terus usahakan sampai tuntas,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/