alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Penghasilan Rp 35 Juta per Bulan, Tembus Pasar Australia

Tak semua limbah tak berguna. Di tangan Fauziah Utami, kain perca kulit bisa diolah menjadi tas bernilai ekonomi tinggi. Satu produk hasil kreasi tangannya, bisa laku hingga Rp 1,5 juta. Penjualan pun tembus mancanegara.

SINTIYA SAFIRA, SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto

Deretan tas beraneka model itu berjajar rapi di etalase dan meja ruang tamu. Tas itu terlihat sangat indah. Mirip dedaunan beraneka warna. Karya ini, pasti lahir dari tangan seseorang dengan kreativitas tinggi. Ia adalah Fauziah Utami.

Di kediamannya, di Dusun Kepindon, Desa Japan, Kecamatan Sooko, perempuan berhijab itu sedang sibuk menata tas hasil kerajinannya. Sederet warna produknya itu ditata rapi di etalase dan mejanya. ’’Ini semua sudah ada yang punya. Semuanya sudah pesanan konsumen. Tinggal kirim,’’ ungkapnya mengawali ceritanya.

Semula, ia hanya bermodal Rp 500 ribu saja. Ibu tiga anak ini mengaku, usahanya ini sudah dilakoni sejak 2006. Inspirasi itu muncul saat dia yang melihat banyak limbah kulit sepatu di tempat kerjanya yang tak berguna.

Saat itu Utami berpikir untuk memanfaatkan limbah tersebut untuk dijadikan bahan kreasi tas. Percobaannya membuahkan hasil. Satu tas dibeli tetangganya seharga Rp 100 ribu. Inilah yang membuat Fauziah termotivasi untuk melanjutkan usahanya dengan membeli bahan baku.

Baca Juga :  Mertuaku Tak Semanis Dulu Lagi

Hingga akhirnya, Utami memiliki dua reseller untuk mempromosikan produk buatan tangannya. ’’Baru di tahun 2006 tas saya booming. Saat itu teman saya dari Surabaya membawa produk saya ke Malaysia dan ditawarkan dengan harga Rp 38 juta. Di situ mulai berkembang,’’ jelasnya.

Bahkan, dia yang awalnya membuka lapak bersama anaknya di pasar Turi Surabaya, kini sudah punya 112 karyawan dibeberapa bagian. Mulai penjahit, pemotongan, dan perajut. Bentuk tasnya yang unik memiliki daya tarik sendiri bagi pembeli. Pembuatannya juga tak begitu rumit. Dengan cara dirakit satu-satu dan dirajut dengan benang. Untuk menjahit satu tas membutuhkan waktu sekitar empat jam. ’’Sehari saya mampu membuat tas 100 pcs. Saya mempunyai tujuh penjahit, satu penjahit mempunyai lima belas karyawan,’’ tutur perempuan kelahiran 1982 itu.

Di era digital saat ini, dia tak kesulitan memasarkan hasil kerajinannya. Melalui media sosial, permintaan terus meningkat. Pemesanan bisa tembus 850 pcs per pekan. ’’Dan alhamdulillahm omzet sekarang tiap bulannya Rp 75 juta dengan laba bersih Rp 35 juta,’’ tandasnya seraya bersyukur.

Baca Juga :  Airlangga Minta Doa Ulama Sulsel agar UMKM Indonesia Bangkit Pasca Pandemi

Selain Mojokerto, konsumennya juga dari berbagai kota-kota besar di Indonesia. Seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogjakarta. Bahkan sampai ke luar negeri. ’’Selain Malaysia, kemarin saya kirim ke Australia sebanyak 100 pcs,’’ tegasnya.

Konsumen tertarik karena bentuknya yang unik, jahitannya yang begitu rapi membuat orang tertarik dan juga tasnya tidak tembus hujan bahannya dibuat dari barang yang berkualitas. “Tas ini ramai pembeli karena bisa dipakai semua kalangan dan soal harga pun terjangkau,” ujarnya.

Harganya juga relatif. Menyesuaikan besar kecil dan motifnya. Termasuk kerumitan dalam pembuatannya. Dari mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1,5 juta. Selain tas juga membuat dompet, jaket, hingga ID card. ’’Pelanggan juga bisa request modelnya. Suka-suka inginnya apa. Bisa tas model slempang dan jinjing,’’ ujarnya. (ron)

Tak semua limbah tak berguna. Di tangan Fauziah Utami, kain perca kulit bisa diolah menjadi tas bernilai ekonomi tinggi. Satu produk hasil kreasi tangannya, bisa laku hingga Rp 1,5 juta. Penjualan pun tembus mancanegara.

SINTIYA SAFIRA, SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto

Deretan tas beraneka model itu berjajar rapi di etalase dan meja ruang tamu. Tas itu terlihat sangat indah. Mirip dedaunan beraneka warna. Karya ini, pasti lahir dari tangan seseorang dengan kreativitas tinggi. Ia adalah Fauziah Utami.

Di kediamannya, di Dusun Kepindon, Desa Japan, Kecamatan Sooko, perempuan berhijab itu sedang sibuk menata tas hasil kerajinannya. Sederet warna produknya itu ditata rapi di etalase dan mejanya. ’’Ini semua sudah ada yang punya. Semuanya sudah pesanan konsumen. Tinggal kirim,’’ ungkapnya mengawali ceritanya.

Semula, ia hanya bermodal Rp 500 ribu saja. Ibu tiga anak ini mengaku, usahanya ini sudah dilakoni sejak 2006. Inspirasi itu muncul saat dia yang melihat banyak limbah kulit sepatu di tempat kerjanya yang tak berguna.

Saat itu Utami berpikir untuk memanfaatkan limbah tersebut untuk dijadikan bahan kreasi tas. Percobaannya membuahkan hasil. Satu tas dibeli tetangganya seharga Rp 100 ribu. Inilah yang membuat Fauziah termotivasi untuk melanjutkan usahanya dengan membeli bahan baku.

Baca Juga :  28 Tahun Terbaring di Kamar, Komunikasi Hanya lewat HT
- Advertisement -

Hingga akhirnya, Utami memiliki dua reseller untuk mempromosikan produk buatan tangannya. ’’Baru di tahun 2006 tas saya booming. Saat itu teman saya dari Surabaya membawa produk saya ke Malaysia dan ditawarkan dengan harga Rp 38 juta. Di situ mulai berkembang,’’ jelasnya.

Bahkan, dia yang awalnya membuka lapak bersama anaknya di pasar Turi Surabaya, kini sudah punya 112 karyawan dibeberapa bagian. Mulai penjahit, pemotongan, dan perajut. Bentuk tasnya yang unik memiliki daya tarik sendiri bagi pembeli. Pembuatannya juga tak begitu rumit. Dengan cara dirakit satu-satu dan dirajut dengan benang. Untuk menjahit satu tas membutuhkan waktu sekitar empat jam. ’’Sehari saya mampu membuat tas 100 pcs. Saya mempunyai tujuh penjahit, satu penjahit mempunyai lima belas karyawan,’’ tutur perempuan kelahiran 1982 itu.

Di era digital saat ini, dia tak kesulitan memasarkan hasil kerajinannya. Melalui media sosial, permintaan terus meningkat. Pemesanan bisa tembus 850 pcs per pekan. ’’Dan alhamdulillahm omzet sekarang tiap bulannya Rp 75 juta dengan laba bersih Rp 35 juta,’’ tandasnya seraya bersyukur.

Baca Juga :  Mertuaku Tak Semanis Dulu Lagi

Selain Mojokerto, konsumennya juga dari berbagai kota-kota besar di Indonesia. Seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogjakarta. Bahkan sampai ke luar negeri. ’’Selain Malaysia, kemarin saya kirim ke Australia sebanyak 100 pcs,’’ tegasnya.

Konsumen tertarik karena bentuknya yang unik, jahitannya yang begitu rapi membuat orang tertarik dan juga tasnya tidak tembus hujan bahannya dibuat dari barang yang berkualitas. “Tas ini ramai pembeli karena bisa dipakai semua kalangan dan soal harga pun terjangkau,” ujarnya.

Harganya juga relatif. Menyesuaikan besar kecil dan motifnya. Termasuk kerumitan dalam pembuatannya. Dari mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1,5 juta. Selain tas juga membuat dompet, jaket, hingga ID card. ’’Pelanggan juga bisa request modelnya. Suka-suka inginnya apa. Bisa tas model slempang dan jinjing,’’ ujarnya. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/