alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Punya Enam Musala, Ada Gua Sepanjang 300 Meter

MASJID dalam bumi banyak disebut masyarakat setempat sebagai masjid timbul atau masjid pendem. Masjid yang dibangun tahun 1995 ini bukan hasil peninggalan kerajaan Majapahit. Namun di dalamnya menyimpan banyak keunikan. Seperti apa?

Pagi itu terlihat suasana hening di sekitar masjid dalam bumi. Masjid ini dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan masjid bawah tanah. Karena posisi tanah dengan kedalaman lima hingga tujuh meter. Masjid ini juga digunakan untuk pondok pesantren. Namun, banyak yang tidak mengetahui jika di dalamnya terdapat puluhan santri sedang menekuni ilmu agama dan kerohanian.

Ya, masjid dengan beberapa sebutan, seperti timbul, mumbul (muncul), tiban karena kebanyakan masyarakat menganggap masjid ini tiba-tiba muncul dan dalam kondisi sudah dibangun pada zaman Kerajaan Majapahit dulu.

”Masyarakat mengira masjid ini langsung ada tiba-tiba, padahal sebenarnya masjid ini dibangun sendiri oleh Ki Imam Malik bersama sepuluh santrinya di tahun 1995. Memang, pembangunan masjid ini tidak pernah melibatkan masyarakat,” ujar Abdullah Said, salah satu putra Ki Imam Malik.

Banyak yang mengira masjid di Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, ini merupakan bangunan kuno. Padahal, masjid ini benar adanya dan dibangun. Bukan dari peninggalan Kerajaan Majapahit

”Memang, dulu, tujuh hingga sepuluh santri di sini beserta Ki Imam Malik sama-sama mengerjakan bersama, membangun bersama. Tapi, masyarakat banyak yang tidak mengetahui saat pembangunannya. Dikira langsung ada berbentuk masjid,” imbuhnya.

Masjid di belakang pemukiman warga menghadap areal persawahan ini dibuat mengelilingi rumah Ki Imam malik. Banyak pengunjung datang dari luar kota untuk sekadar melihat keunikan masjid. Di antaranya dari Sidoarjo, Kediri, Surabaya, Gresik, Lamongan, dan Jateng. Mereka penasaran setelah mendengar ada masjid berada di bawah tanah.

Baca Juga :  Petahana Incar Politisi PKB

”Bahkan masyarakat sekitar sendiri banyak yang tidak mengetahui. Mereka mengetahui kalau ada masjid, akan tetapi hanya tahu dari cerita dan tidak mengetahui bagaimana di dalamnya,” imbuhnya. Masjid dalam tanah ini mempunyai keunikan berbeda dari masjid pada umumnya. Di dalam masjid terdapat enam musala, tujuh sumur, dua kolam mandi, lorong gua terbuat dari tanah liat sepanjang 300 meter.

Ada tiga ruang dalam masjid. Setiap ruang terdapat lima tiang. Selain itu, masjid ini juga disebut sebagai masjid lawang pitu, karena mempunyai tujuh lorong pada bawah tanah. Hanya batu bata, semen, serta bambu sebagai penyangga bangunan untuk membuat lorong dan gua tanpa menggunakan besi. ”Proses pembuatan gua selama lima tahun. Bahkan, dulu belum selesai sudah banyak pengunjung yang datang,” ungkap Said.

Dari enam musala, musala terbesar dapat menampung 50 jamaah. Namun, selama ini musala tersebut tidak digunakan untuk salat atau kegiatan peribadahan. Sedangkan, musala lainnya dapat menampung 15 orang per musala.

”Arsitek seperti tua, tapi nuansa lama dan cara pembangunan hanya ala kadarnya,” paparnya. Setiap hari, masjid ini digunakan masyarakat untuk salat berjamaah dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Dinding gapura masuk masjid tertulis tiga bahasa, yaitu bahasa Arab, bahasa Jawa dan bahasa latin.

Tulisan itu menyimpan makna tersendiri. Dengan tujuan yang sama, yaitu melakukan ritual kerohanian untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan mengingat-Nya. Selain itu pula, masjid dan gua digunakan untuk riyadah dan mujahadah. Di tahun 2000-an, masjid ini pernah mengundang perhatian Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Mojokerto. ”Masjid ini tidak pernah digunakan untuk wisata. Tidak seperti makam Troloyo Trowulan. Mereka yang datang itu yang pernah ke sini.

Baca Juga :  Lembutnya Pasir dan Sapaan Manja Ombak Pantai Pangubungan

Banyak dari mereka setelah dari makam Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), Bung Karno (Soekarno) kemudian mampir ke sini. Dinas pariwisata dulu pernah memberi opsi untuk pengelolaan, dikelola dinas dengan dibuatkan tiket masuk dan sebagainya. Tapi, pihak keluarga menolak karena didirikannya masjid ini bukan untuk wisata,” jelas Said

Menurutnya, pembangunan masjid bukan untuk tujuan komersil, akan tetapi untuk ibadah. Dari awal, pihak keluarga Ki Imam Malik, mengelola masjid ini tidak pernah digunakan sebagai tempat wisata. ”Kita tidak pernah mau dijadikan tempat wisata, dan tidak pernah meminta untuk dijadikan wisata. Itu dari masyarakat sendiri,” tandasnya.

Masyarakat sekitar juga antusias terhadap keberadaan masjid karena lebih dekat untuk salat berjamaah. ”Masjid ini pernah menjadi wisata religi, masjidnya juga untuk pondok saat masih ada Ki Imam Malik,” ujar Fatimah, salah satu warga.

Keberadaan gua di dalam masjid diakui warga setempat mengundang banyak orang untuk mengunjungi. ”Banyak yang ke sini karena penasaran. Yang sering dikunjunginya itu gua. Sekarang masjidnya digunakan untuk istighotsah juga,” tambahnya. (eza)

 

 

 

 

MASJID dalam bumi banyak disebut masyarakat setempat sebagai masjid timbul atau masjid pendem. Masjid yang dibangun tahun 1995 ini bukan hasil peninggalan kerajaan Majapahit. Namun di dalamnya menyimpan banyak keunikan. Seperti apa?

Pagi itu terlihat suasana hening di sekitar masjid dalam bumi. Masjid ini dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan masjid bawah tanah. Karena posisi tanah dengan kedalaman lima hingga tujuh meter. Masjid ini juga digunakan untuk pondok pesantren. Namun, banyak yang tidak mengetahui jika di dalamnya terdapat puluhan santri sedang menekuni ilmu agama dan kerohanian.

Ya, masjid dengan beberapa sebutan, seperti timbul, mumbul (muncul), tiban karena kebanyakan masyarakat menganggap masjid ini tiba-tiba muncul dan dalam kondisi sudah dibangun pada zaman Kerajaan Majapahit dulu.

”Masyarakat mengira masjid ini langsung ada tiba-tiba, padahal sebenarnya masjid ini dibangun sendiri oleh Ki Imam Malik bersama sepuluh santrinya di tahun 1995. Memang, pembangunan masjid ini tidak pernah melibatkan masyarakat,” ujar Abdullah Said, salah satu putra Ki Imam Malik.

- Advertisement -

Banyak yang mengira masjid di Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, ini merupakan bangunan kuno. Padahal, masjid ini benar adanya dan dibangun. Bukan dari peninggalan Kerajaan Majapahit

”Memang, dulu, tujuh hingga sepuluh santri di sini beserta Ki Imam Malik sama-sama mengerjakan bersama, membangun bersama. Tapi, masyarakat banyak yang tidak mengetahui saat pembangunannya. Dikira langsung ada berbentuk masjid,” imbuhnya.

Masjid di belakang pemukiman warga menghadap areal persawahan ini dibuat mengelilingi rumah Ki Imam malik. Banyak pengunjung datang dari luar kota untuk sekadar melihat keunikan masjid. Di antaranya dari Sidoarjo, Kediri, Surabaya, Gresik, Lamongan, dan Jateng. Mereka penasaran setelah mendengar ada masjid berada di bawah tanah.

Baca Juga :  Menikmati Matahari Terbit di Antara Gunung Penanggungan dan Welirang

”Bahkan masyarakat sekitar sendiri banyak yang tidak mengetahui. Mereka mengetahui kalau ada masjid, akan tetapi hanya tahu dari cerita dan tidak mengetahui bagaimana di dalamnya,” imbuhnya. Masjid dalam tanah ini mempunyai keunikan berbeda dari masjid pada umumnya. Di dalam masjid terdapat enam musala, tujuh sumur, dua kolam mandi, lorong gua terbuat dari tanah liat sepanjang 300 meter.

Ada tiga ruang dalam masjid. Setiap ruang terdapat lima tiang. Selain itu, masjid ini juga disebut sebagai masjid lawang pitu, karena mempunyai tujuh lorong pada bawah tanah. Hanya batu bata, semen, serta bambu sebagai penyangga bangunan untuk membuat lorong dan gua tanpa menggunakan besi. ”Proses pembuatan gua selama lima tahun. Bahkan, dulu belum selesai sudah banyak pengunjung yang datang,” ungkap Said.

Dari enam musala, musala terbesar dapat menampung 50 jamaah. Namun, selama ini musala tersebut tidak digunakan untuk salat atau kegiatan peribadahan. Sedangkan, musala lainnya dapat menampung 15 orang per musala.

”Arsitek seperti tua, tapi nuansa lama dan cara pembangunan hanya ala kadarnya,” paparnya. Setiap hari, masjid ini digunakan masyarakat untuk salat berjamaah dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Dinding gapura masuk masjid tertulis tiga bahasa, yaitu bahasa Arab, bahasa Jawa dan bahasa latin.

Tulisan itu menyimpan makna tersendiri. Dengan tujuan yang sama, yaitu melakukan ritual kerohanian untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan mengingat-Nya. Selain itu pula, masjid dan gua digunakan untuk riyadah dan mujahadah. Di tahun 2000-an, masjid ini pernah mengundang perhatian Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Mojokerto. ”Masjid ini tidak pernah digunakan untuk wisata. Tidak seperti makam Troloyo Trowulan. Mereka yang datang itu yang pernah ke sini.

Baca Juga :  Riwayat Museum OVM Trowulan Jadi Cikal Bakal PIM

Banyak dari mereka setelah dari makam Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), Bung Karno (Soekarno) kemudian mampir ke sini. Dinas pariwisata dulu pernah memberi opsi untuk pengelolaan, dikelola dinas dengan dibuatkan tiket masuk dan sebagainya. Tapi, pihak keluarga menolak karena didirikannya masjid ini bukan untuk wisata,” jelas Said

Menurutnya, pembangunan masjid bukan untuk tujuan komersil, akan tetapi untuk ibadah. Dari awal, pihak keluarga Ki Imam Malik, mengelola masjid ini tidak pernah digunakan sebagai tempat wisata. ”Kita tidak pernah mau dijadikan tempat wisata, dan tidak pernah meminta untuk dijadikan wisata. Itu dari masyarakat sendiri,” tandasnya.

Masyarakat sekitar juga antusias terhadap keberadaan masjid karena lebih dekat untuk salat berjamaah. ”Masjid ini pernah menjadi wisata religi, masjidnya juga untuk pondok saat masih ada Ki Imam Malik,” ujar Fatimah, salah satu warga.

Keberadaan gua di dalam masjid diakui warga setempat mengundang banyak orang untuk mengunjungi. ”Banyak yang ke sini karena penasaran. Yang sering dikunjunginya itu gua. Sekarang masjidnya digunakan untuk istighotsah juga,” tambahnya. (eza)

 

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/