alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Monumen Patung Perjuangan, Mengenang Jasa Pejuang

PASCA proklamasi kemerdekaaan Republik Indonesia (RI), sejumlah daerah mulai mendirikan monumen sebagai penanda suatu peristiwa.

Termasuk di Mojokerto yang juga melewati masa perjuangan. Beberapa di antaranya didirikan sebuah tugu sebagai penanda bahwa lokasi itu pernah jadi medan pertempuran melawan penjajah.

Sementara beberapa lainnya ada yang dibentuk patung untuk mengenang tokoh pejuang tertentu. Salah satunya adalah monumen patung Letkol Wijono di Jalan Majapahit Selatan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

Oleh karena itu, monumen yang berdiri di persimpangan Jalan Reden Wijaya dan Jalan Majapahit itu juga dikenal sebagai Patung Kranggan.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq, mengungkapkan, patung Letkol Wijono merupakan salah satu dari 25 monumen dan tugu yang dibangun antara tahun 1968-1974 di seluruh penjuru Jawa Timur (Jatim).

Pembuatan penanda tersebut dilakukan oleh Kodam VIII Brawijaya (kini Kodam V/Brawijaya). Menurutnya, monumen Kranggan menjadi monumen yang terakhir diresmikan oleh Panglima Kodam Brawijaya yang saat itu dijabat Mayjen Widjojo Soejono.

Baca Juga :  Segarnya Air Panas Alami Curug Jodo Subang

”Peresmiannya bersamaan dengan monumen Gubernur Suryo di Magetan, dan monumen Garuda Pancasila di Sidoarjo,” ungkapnya. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menlanjutkan, upaya pembangunan 25 monumen yang disebar di wilayah Jatim bukan hanya semata untuk mengenang perjuangan kemerdekaan.

Melainkan lebih juga untuk mengingatkan pada kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI). Pasalnya, pada tahun 1974 merupakan peringatan satu dekade pasca meletupnya Gerakan 30 September atau yang dikenal G-30-S/PKI 1965.

Sebagai penanda terhadap pengkhianatan PKI itu dilakukan oleh TNI-ABRI dengan menerbitkan buku oleh Disjarah ABRI dan pembuatan beberapa monumen. ”Salah satunya adalah monumen di Mojokerto tersebut,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, Letkol Wijono adalah perwira yang berdinas di Staf Pertahanan Djawa Timur (SPDT) yang bermarkas di Madiun. Pada saat PKI memproklamasikan negara Sovyet Indonesia di Kota Pecel tersebut. Markas SPDT diserbu oleh pasukan Djoko Soejono yang berhaluan komunis.

Komandan Divisi SPDT Letkol Marhadi dan Letkol Wijono ditangkap. Mereka kemudian ditahan di Pabrik Gula (PG) Redjoagung, Madiun. Bersama tawanan lainnya, kedua perwira itu dipindahkan ke Dungus di daerah timur Kota Madiun.

Baca Juga :  Manfaatkan Belajar di Rumah, Karyanya Sudah Dibaca 1.000 Orang

”Para tawanan tersebut kemudian dibunuh saat pasukan TNI mulai gerakan penumpasan PKI,” ulasnya. Di lokasi pembunuhan itu kemudian dibuatkan monumen yang dinamakan Monumen Dungus.

Terdapat batu marmer yang bertuliskan nama-nama korban pembantaian dari tentara, aparat, hingga ulama. Oleh sebab itu, sebut Yuhan, didirikannya monumen Patung Letkol Wijono sebenarnya tidak memiliki keterkaitan dengan sejarah di Mojokerto.

Meski demikian, patung tersebut bisa menjadi pengingat salah salah satu tokoh pejuang itu. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini mengatakan, Patung Kranggan merupakan monumen dengan bentuk terbaik di antara monumen yang ada di Mojokerto.

Di sisi lain, patung Letkol Wijono juga menjadi salah satu landmark Kota Onde-Onde. Terlebih, penempatannya berada di lokasi yang strategis di Jalan Majapahit Selatan.

”Pada masa lalu, Jalan Majapahit menjadi jalur bus antarkota dengan terminal bus tepat di belakang patung itu,” tambahnya. 

PASCA proklamasi kemerdekaaan Republik Indonesia (RI), sejumlah daerah mulai mendirikan monumen sebagai penanda suatu peristiwa.

Termasuk di Mojokerto yang juga melewati masa perjuangan. Beberapa di antaranya didirikan sebuah tugu sebagai penanda bahwa lokasi itu pernah jadi medan pertempuran melawan penjajah.

Sementara beberapa lainnya ada yang dibentuk patung untuk mengenang tokoh pejuang tertentu. Salah satunya adalah monumen patung Letkol Wijono di Jalan Majapahit Selatan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

Oleh karena itu, monumen yang berdiri di persimpangan Jalan Reden Wijaya dan Jalan Majapahit itu juga dikenal sebagai Patung Kranggan.

- Advertisement -

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq, mengungkapkan, patung Letkol Wijono merupakan salah satu dari 25 monumen dan tugu yang dibangun antara tahun 1968-1974 di seluruh penjuru Jawa Timur (Jatim).

Pembuatan penanda tersebut dilakukan oleh Kodam VIII Brawijaya (kini Kodam V/Brawijaya). Menurutnya, monumen Kranggan menjadi monumen yang terakhir diresmikan oleh Panglima Kodam Brawijaya yang saat itu dijabat Mayjen Widjojo Soejono.

Baca Juga :  Pesona Vietnam Sajikan Ukiran Alam hingga Peradaban Kuno

”Peresmiannya bersamaan dengan monumen Gubernur Suryo di Magetan, dan monumen Garuda Pancasila di Sidoarjo,” ungkapnya. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menlanjutkan, upaya pembangunan 25 monumen yang disebar di wilayah Jatim bukan hanya semata untuk mengenang perjuangan kemerdekaan.

Melainkan lebih juga untuk mengingatkan pada kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI). Pasalnya, pada tahun 1974 merupakan peringatan satu dekade pasca meletupnya Gerakan 30 September atau yang dikenal G-30-S/PKI 1965.

Sebagai penanda terhadap pengkhianatan PKI itu dilakukan oleh TNI-ABRI dengan menerbitkan buku oleh Disjarah ABRI dan pembuatan beberapa monumen. ”Salah satunya adalah monumen di Mojokerto tersebut,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, Letkol Wijono adalah perwira yang berdinas di Staf Pertahanan Djawa Timur (SPDT) yang bermarkas di Madiun. Pada saat PKI memproklamasikan negara Sovyet Indonesia di Kota Pecel tersebut. Markas SPDT diserbu oleh pasukan Djoko Soejono yang berhaluan komunis.

Komandan Divisi SPDT Letkol Marhadi dan Letkol Wijono ditangkap. Mereka kemudian ditahan di Pabrik Gula (PG) Redjoagung, Madiun. Bersama tawanan lainnya, kedua perwira itu dipindahkan ke Dungus di daerah timur Kota Madiun.

Baca Juga :  POBSI Kota Getol Benahi Prestasi, Butuh Tiga Pebiliar Putri Lagi

”Para tawanan tersebut kemudian dibunuh saat pasukan TNI mulai gerakan penumpasan PKI,” ulasnya. Di lokasi pembunuhan itu kemudian dibuatkan monumen yang dinamakan Monumen Dungus.

Terdapat batu marmer yang bertuliskan nama-nama korban pembantaian dari tentara, aparat, hingga ulama. Oleh sebab itu, sebut Yuhan, didirikannya monumen Patung Letkol Wijono sebenarnya tidak memiliki keterkaitan dengan sejarah di Mojokerto.

Meski demikian, patung tersebut bisa menjadi pengingat salah salah satu tokoh pejuang itu. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini mengatakan, Patung Kranggan merupakan monumen dengan bentuk terbaik di antara monumen yang ada di Mojokerto.

Di sisi lain, patung Letkol Wijono juga menjadi salah satu landmark Kota Onde-Onde. Terlebih, penempatannya berada di lokasi yang strategis di Jalan Majapahit Selatan.

”Pada masa lalu, Jalan Majapahit menjadi jalur bus antarkota dengan terminal bus tepat di belakang patung itu,” tambahnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Objek Wisata Diberlakukan Buka-Tutup

Presisi dan Selalu Rapi

Artikel Terbaru


/