alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Semua Job Dibatalkan, Khawatir Budaya Jawa Kian Terkikis

Para pelaku seni dan budaya, gigit jari selama pandemi. Sejumlah regulasi membatasi pentas dan hajatan, menjadi batu sandungan mereka. Lantas bagaimana mereka bisa mampu melalui itu dan bertahan hingga saat ini?

 

MARTDA VADETYA, Jetis , Jawa Pos Radar Mojokerto

 

Pranata adicara memiliki peran penting di sejumlah hajatan. Mereka bertugas memimpin sebuah acara yang kental dengan nuansa adat jawa. Seperti tedak siten hingga temu manten. Mereka wajib menguasai Bahasa Jawa. Seperti Bahasa Jawa Kawi dan Madya.

Lantaran kagiatannya berhubungan dengan budaya yang sarat kerumunan, para pelaku budaya ini harus gigit jari selama pandemi. Seperti yang dialami Paguyuban Warsejiwa. Perkumpulan para pranatacara dan seniman ini turut dihantam imbas pandemi Covid-19. Dua tahun terakhir, job mereka dibatalkan lantaran terbentur regulasi dan kebijakan. ”Dibatalkan semua, jadi bener-bener ndak ada job,” sebut Ketua Paguyuban Warsejiwa Wuriyanto.

Baca Juga :  Sosialisasi Good Design Indonesia, Jaga Momentum Peningkatan Ekspor

Penghasilan pelaku budaya ini nihil selama PPKM. Padahal, biasanya, dalam setahun, mereka bisa mendapat job lebih dari 100 acara. Meski mereka tak mendapat job sepanjang bulan. Lantaran hajatan seperti nikahan, selalu padat di bulan-bulan tertentu. ”Jelas kita ya nangis, ndak ada job,” ujar pria dengan nama panggung Cak Siwur itu.

Tak dipungkiri. Dari total 26 orang anggotanya, punya pekerjaan lain selain mengandalkan pranatacara sebagai pengahasilan utama. Hanya saja, mereka sebatas membuka usaha kecil yang turut terdampak regulasi pandemi. ”Rata-rata ya warungan. Kalau saya warung kopi, itu pun kena batasan waktu nongkrongnya. Jadi ya sama saja,” imbuhnya.

Sepinya job, dimanfaatkan komunitas ini untuk mengasah kemampuan. Mereka menggelar latihan rutin. ”Ya kita isi sama latihan rutin itu. Jadi latihan ini yang tetap bikin kita solid sekaligus menjaga silaturahmi,” katanya.

Baca Juga :  Mewah dengan Carbon Kevlar

Ia khawatir, jika sejumlah kegiatan kebudayaan layaknya tedak siten, tujuh bulanan, grebek suro, hingga temu manten tak digelar tak sesuai adat, justru terkikis. ”Jelas khawatir budaya jawa terkikis. Baik digelar tapi ndak sesuai pakemnya atau bahkan ndak dipakai adat sama sekali,” terang pria 45 tahun itu.

Belakangan, sejumlah regulasi mulai dilonggarkan, tak serta merta mampu kembali menggebrak perekonomian para pelaku budaya ini. Sebab, warga Bumi Majapahit masih jarang yang berani menggelar hajatan besar. ”Sebulan ini sudah mulai (ada gelaran hajatan) tapi ya cuma satu dua saja. Itu pun diam-diam. Nggak undang tamu. Cuma ada pranatacaranya karena ada rangkaian adatnya,” tukas Cak Siwur. (ron)

Para pelaku seni dan budaya, gigit jari selama pandemi. Sejumlah regulasi membatasi pentas dan hajatan, menjadi batu sandungan mereka. Lantas bagaimana mereka bisa mampu melalui itu dan bertahan hingga saat ini?

 

MARTDA VADETYA, Jetis , Jawa Pos Radar Mojokerto

 

Pranata adicara memiliki peran penting di sejumlah hajatan. Mereka bertugas memimpin sebuah acara yang kental dengan nuansa adat jawa. Seperti tedak siten hingga temu manten. Mereka wajib menguasai Bahasa Jawa. Seperti Bahasa Jawa Kawi dan Madya.

Lantaran kagiatannya berhubungan dengan budaya yang sarat kerumunan, para pelaku budaya ini harus gigit jari selama pandemi. Seperti yang dialami Paguyuban Warsejiwa. Perkumpulan para pranatacara dan seniman ini turut dihantam imbas pandemi Covid-19. Dua tahun terakhir, job mereka dibatalkan lantaran terbentur regulasi dan kebijakan. ”Dibatalkan semua, jadi bener-bener ndak ada job,” sebut Ketua Paguyuban Warsejiwa Wuriyanto.

Baca Juga :  Paling Aman Pakai Toples
- Advertisement -

Penghasilan pelaku budaya ini nihil selama PPKM. Padahal, biasanya, dalam setahun, mereka bisa mendapat job lebih dari 100 acara. Meski mereka tak mendapat job sepanjang bulan. Lantaran hajatan seperti nikahan, selalu padat di bulan-bulan tertentu. ”Jelas kita ya nangis, ndak ada job,” ujar pria dengan nama panggung Cak Siwur itu.

Tak dipungkiri. Dari total 26 orang anggotanya, punya pekerjaan lain selain mengandalkan pranatacara sebagai pengahasilan utama. Hanya saja, mereka sebatas membuka usaha kecil yang turut terdampak regulasi pandemi. ”Rata-rata ya warungan. Kalau saya warung kopi, itu pun kena batasan waktu nongkrongnya. Jadi ya sama saja,” imbuhnya.

Sepinya job, dimanfaatkan komunitas ini untuk mengasah kemampuan. Mereka menggelar latihan rutin. ”Ya kita isi sama latihan rutin itu. Jadi latihan ini yang tetap bikin kita solid sekaligus menjaga silaturahmi,” katanya.

Baca Juga :  Warga Rela Terinjak demi Maulidan

Ia khawatir, jika sejumlah kegiatan kebudayaan layaknya tedak siten, tujuh bulanan, grebek suro, hingga temu manten tak digelar tak sesuai adat, justru terkikis. ”Jelas khawatir budaya jawa terkikis. Baik digelar tapi ndak sesuai pakemnya atau bahkan ndak dipakai adat sama sekali,” terang pria 45 tahun itu.

Belakangan, sejumlah regulasi mulai dilonggarkan, tak serta merta mampu kembali menggebrak perekonomian para pelaku budaya ini. Sebab, warga Bumi Majapahit masih jarang yang berani menggelar hajatan besar. ”Sebulan ini sudah mulai (ada gelaran hajatan) tapi ya cuma satu dua saja. Itu pun diam-diam. Nggak undang tamu. Cuma ada pranatacaranya karena ada rangkaian adatnya,” tukas Cak Siwur. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/