alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Berbasis di Mojokerto untuk Rebut Surabaya

JEJAK perjuangan Sungkono mungkin jarang terdengar. Meski namanya dijadikan sebagai nama salah satu jalan dan sebuah perguruan tinggi (PT) swasta di Mojokerto. Hal itu tak lepas dari jasa pahlawan kemerdekaan Indonesia tersebut yang pernah menapaki masa perjuangannya di Kota Onde-Onde.

Sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq menceritakan, sebelum kemerdekaan, Sungkono bergabung dalam Inlandsche Marine Bond yang berpangkalan di pelabuhan Ujung Surabaya. Organisasi ini adalah kumpulan pribumi dalam angkatan laut Belanda. Sungkono pernah terlibat dalam peristiwa pemberontakan kapal Seven Provincien pada tahun 1933.

Kapal perang Belanda itu dibajak di Aceh dan dilarikan ke Surabaya. Belanda berhasil melumpuhkan kapal itu di selat Sunda. Beberapa orang yang terlibat dihukum. ”Termasuk Sungkono yang menerima hukuman delapan bulan penjara,” ungkapnya. Setelah keluar, Sungkono bergabung dalam kepanduan Surya Wirawan Surabaya yang dipimpin dr. Soetomo. Di organisasi ini, Sungkono digembleng langsung oleh tokoh pendiri Budi Utomo tersebut.

Pada saat Jepang membentuk kesatuan tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA), Sungkono juga ikut di dalamnya dengan menyandang pangkat Chodanco sebagai komandan kompi. Pada saat pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Sungkono ditunjuk menjadi kepala BKR Surabaya. Dengan demikian, Sungkono menjadi tokoh sentral dalam pertempuran Nopember 1945 di Surabaya.

Baca Juga :  Menko Airlangga Tekankan Implementasi Governance Risk and Control

Meski namanya tidak setenar Bung Tomo, karena Sungkono memang sosok yang low profile. Sebagai perwira militer, Sungkono memiliki tutur kata lembut dan tidak pernah membentak. ”Oleh karena itu, dia sangat disegani anak buahnya,” ulas Pria yang akrab disapa Yuhan ini. Meski demikian, nama Sungkono menyeruat ketika terjadinya pertempuran di Surabaya.

Hingga menjelang deadline tanggal 10 November 1945, pemerintah pusat di Jakarta tidak kunjung memberi keputusan untuk melawan atau menyerah. ”Pada saat itulah BKR Karesidenan Surabaya berkumpul di Pregolan Surabaya, dan memilih Sungkono sebagai komandan keamanan kota,” ungkapnya.

Setelah terpilih, Sungkono mengucapkan pidatonya. Dihadapan semua komandan BKR dan kelasykaran karesidenan Surabaya, dia berjanji, dirinya ingin mempertahankan Kota Surabaya. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini melanjutkan, dari pidato singkat itu yang kemudian diwujudkan menjadi deklarasi kebulatan tekad yang ditandatangani oleh semua komandan yang hadir untuk mempertahankan Kota Surabaya.

Baca Juga :  Luncurkan Program Migor Rakyat, Mendag Manfaatkan Teknologi Digital

Akan tetapi, saat Surabaya tidak bisa lagi dipertahankan, Sungkono yang akrab dipanggil Pak Kono itu mundur ke Mojokerto. Jabatannya sudah naik menjadi Panglima Divisi Narotama dan bermarkas di Mojokerto. Selain itu, Sungkono juga pernah menjadi Panglima Divisi Brawijaya atau disebut Kodam Brawijaya yang pertama. Pada tahun 1947, Sungkono terpaksa mundur ke Kediri karena Mojokerto jatuh ke tangan Belanda menjelang penandatanganan perjanjian Linggarjati.

Peristiwa pendudukan Mojokerto itu menyebabkan dia dicopot dari jabatannya oleh Kolonel Nasution. Sungkono akhirnya memilih jadi petani di Nganjuk. Atas perjuangannya tersebut, Sungkono cukup mendapat tempat di Mojokerto.

Namanya diabadikan sebagai nama jalan yang membentang dari ujung Jalan Gajah Mada ke timur menyusuri tepi Sungai Brantas hingga ke bekas pabrik spirtus di Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari. PT swasta juga menggunakan namanya. ”Memang, Sungkono selalu menjadikan Mojokerto sebagai basis untuk merebut kembali Kota Surabaya,” tandasnya.

JEJAK perjuangan Sungkono mungkin jarang terdengar. Meski namanya dijadikan sebagai nama salah satu jalan dan sebuah perguruan tinggi (PT) swasta di Mojokerto. Hal itu tak lepas dari jasa pahlawan kemerdekaan Indonesia tersebut yang pernah menapaki masa perjuangannya di Kota Onde-Onde.

Sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq menceritakan, sebelum kemerdekaan, Sungkono bergabung dalam Inlandsche Marine Bond yang berpangkalan di pelabuhan Ujung Surabaya. Organisasi ini adalah kumpulan pribumi dalam angkatan laut Belanda. Sungkono pernah terlibat dalam peristiwa pemberontakan kapal Seven Provincien pada tahun 1933.

Kapal perang Belanda itu dibajak di Aceh dan dilarikan ke Surabaya. Belanda berhasil melumpuhkan kapal itu di selat Sunda. Beberapa orang yang terlibat dihukum. ”Termasuk Sungkono yang menerima hukuman delapan bulan penjara,” ungkapnya. Setelah keluar, Sungkono bergabung dalam kepanduan Surya Wirawan Surabaya yang dipimpin dr. Soetomo. Di organisasi ini, Sungkono digembleng langsung oleh tokoh pendiri Budi Utomo tersebut.

Pada saat Jepang membentuk kesatuan tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA), Sungkono juga ikut di dalamnya dengan menyandang pangkat Chodanco sebagai komandan kompi. Pada saat pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Sungkono ditunjuk menjadi kepala BKR Surabaya. Dengan demikian, Sungkono menjadi tokoh sentral dalam pertempuran Nopember 1945 di Surabaya.

Baca Juga :  Istri Galak, Datangani Pengadilan Agama
- Advertisement -

Meski namanya tidak setenar Bung Tomo, karena Sungkono memang sosok yang low profile. Sebagai perwira militer, Sungkono memiliki tutur kata lembut dan tidak pernah membentak. ”Oleh karena itu, dia sangat disegani anak buahnya,” ulas Pria yang akrab disapa Yuhan ini. Meski demikian, nama Sungkono menyeruat ketika terjadinya pertempuran di Surabaya.

Hingga menjelang deadline tanggal 10 November 1945, pemerintah pusat di Jakarta tidak kunjung memberi keputusan untuk melawan atau menyerah. ”Pada saat itulah BKR Karesidenan Surabaya berkumpul di Pregolan Surabaya, dan memilih Sungkono sebagai komandan keamanan kota,” ungkapnya.

Setelah terpilih, Sungkono mengucapkan pidatonya. Dihadapan semua komandan BKR dan kelasykaran karesidenan Surabaya, dia berjanji, dirinya ingin mempertahankan Kota Surabaya. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini melanjutkan, dari pidato singkat itu yang kemudian diwujudkan menjadi deklarasi kebulatan tekad yang ditandatangani oleh semua komandan yang hadir untuk mempertahankan Kota Surabaya.

Baca Juga :  Presiden Klub Tak Bisa Bayangkan Nasib PSMP ke Depan

Akan tetapi, saat Surabaya tidak bisa lagi dipertahankan, Sungkono yang akrab dipanggil Pak Kono itu mundur ke Mojokerto. Jabatannya sudah naik menjadi Panglima Divisi Narotama dan bermarkas di Mojokerto. Selain itu, Sungkono juga pernah menjadi Panglima Divisi Brawijaya atau disebut Kodam Brawijaya yang pertama. Pada tahun 1947, Sungkono terpaksa mundur ke Kediri karena Mojokerto jatuh ke tangan Belanda menjelang penandatanganan perjanjian Linggarjati.

Peristiwa pendudukan Mojokerto itu menyebabkan dia dicopot dari jabatannya oleh Kolonel Nasution. Sungkono akhirnya memilih jadi petani di Nganjuk. Atas perjuangannya tersebut, Sungkono cukup mendapat tempat di Mojokerto.

Namanya diabadikan sebagai nama jalan yang membentang dari ujung Jalan Gajah Mada ke timur menyusuri tepi Sungai Brantas hingga ke bekas pabrik spirtus di Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari. PT swasta juga menggunakan namanya. ”Memang, Sungkono selalu menjadikan Mojokerto sebagai basis untuk merebut kembali Kota Surabaya,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/