27.8 C
Mojokerto
Friday, June 9, 2023

Didatangi atawa Mendatangi

DALAM tradisi kaum santri di Nusantara, seorang santri yang hendak mencari ilmu, disyaratkan menempuh proses ”nyantri” itu dalam jangka waktu lama dan datang langsung ke kiai.

Tahun 1989 silam, semasa tinggal di salah satu pesantren tradisional di Suci, Gresik, penulis masih menemui para santri yang sudah belasan bahkan di atas 20 tahun di pondok itu. Bahkan, dari sisi usia, sudah ada yang berusia kisaran 30 tahun.

Tentu mereka sudah menjadi guru di pondok itu, namun tetap ”nyantri’ pada sang Kiai. Ketika itu, para santri senior yang sudah menjadi guru (bukan istilah ustad yang menjamur sebagaimana sekarang), berkeyakinan bila keberkahan ilmu, terkait dengan seberapa lama seorang santri itu ”nyantri” dan ”ngawula” pada sang Kiai.

Tak heran bila di antara para santri itu, banyak yang memilih bertahan di pondok, dengan modal hidup yang nyaris tidak ada, bahkan sering menahan lapar. Dari sini diketahui bila dalam tradisi seorang santri, ada tiga hal paling penting dalam proses mencari ilmu, yaitu thuluz-zaman (masa yang lama), berguru langsung agar mendapat ”piwulang” dari kiai (irsyadusy-syaikh), dan itu dilakukan guna mendapat keberkahan (al-barakah) dari Allah, Sang Maha Esa, sebab ketaatan dan kepatuhan serta kekawulaan santri pada sang kiai.

 Kebiasaan para santri ini juga merujuk pada tradisi ulama-ulama di Nusantara terdahulu, semisal guru mulia Mbah Hasyim Asy’ari dan guru mulia Mbah Yasin Padang. Banyak kisah mutawatir yang sahih tentang beliau berdua saat ”nyantri” di Nusantara maupun saat di Makkah. Begitu pula tradisi para ulama secara umum di dunia Islam, sebut saja Syekh Zakaria Al-Anshari, seorang ulama besar yang ”nyantri” di Mesir.

 Dalam Kitab At-Thabaqat Al-Kubra (Jilid 2/111), disebutkan bila Syekh Zakaria muda semasa ”nyantri” di Mesir, sering menahan lapar. Bahkan, beliau sering kelaparan karena tidak punya uang untuk membeli makanan. Hingga beliau memakan apa saja yang halal, semisal memakan kulit buah semangka yang telah dimakan orang.

Baca Juga :  Lebih Praktis dan Rapi

Meski demikian, beliau dapat menghafalkan kitab Mukhtashar At-Tabrizy, Al-Minhaj, Alfiyah Ibnu Malik, As-Syatibiyyah, Ar-Ra’iyah dan sebagian dari kitab Al-Minhaj al-Ashly, Alfiyah Hadits, At-Tashil.

Kisah para santri di tahun 1990-an yang penulis kutip di atas, yang merujuk pada tradisi ”nyantri” para ulama besar, berbeda dengan kondisi saat ini. Adagium prinsipil di masa lalu, yang merujuk pada prinsip Imam Malik, yaitu al-‘ilmu yu’ta wa la ya’ti (ilmu itu didatangi, bukan mendatangi), hampir tidak berlaku saat ini.

Sebab saat ini, dengan android murahan sekali pun, siapa pun bisa ”nyantri” secara daring. Baik itu berupa tulisan, video, gambar animatif, maupun gambar kutipan. Semuanya sudah dengan sangat mudah didapatkan. Kini saat panggung dakwah sangat semarak, para pendakwah justru mendatangi mereka yang seharusnya datang.

Tapi, memang beda antara kiai dengan pendakwah agama. Kiai tidak mesti bisa menjadi pendakwah mahir, meski secara keilmuan sangat mumpuni. Tapi, para pendakwah saat ini, banyak yang sekadar jualan propaganda provokatif, untuk datang menyebarkan provokasi berbungkus agama ke banyak orang. Suatu hal yang sangat degradatif.

Dulu jika ingin belajar, maka para santri harus datang ke kiai. Kini tanpa datang ke kiai, siapa saja bisa belajar agama. Dan memang diakui kaum santri, cara mencari ilmu di abad milenial ini memang telah berubah. Para santri yang masih aktif di pesantren maupun sudah pulang, dengan mudah mengikuti pengajian para kiai melalui media daring. Tak punya uang, cukup datang ke warung kopi mendengar ceramah agama.

Baca Juga :  Peneliti Politik Puji Komitmen KIB Usung Capres Internal

Perbedaan cara mencari ilmu di kalangan kaum santri ini, tentu bukan hal yang mengejutkan. Sebab sedari awal, kaum santri yang terwakili dalam kalangan pesantren NU, mempunyai prinsip al-Muhafadzatu ‘alal qadimis-shalih wal akhdzu bil jadidil-ashlah (menjaga nilai-nilai tradisi yang baik dan mengambil secara selektif terhadap nilai-nilai baru yang lebih berguna).

Dalam istilah Kiai Ma’ruf Amin, kaum santri harus berprinsip al-ashlah ila ma huwal-ashlah tsummal ashlah fal ashlah, inovatif dan terus berimprovisasi dalam hal kebaikan dan kemaslahatan. Kemudahan yang sangat mudah dalam hal mencari ilmu ini, jauh-jauh hari telah dinikmati oleh mereka yang masih pemula dan ingin belajar beragama secara ”serius”. Pemula dalam hal ini bukan karena mereka masih anak-anak.

Namun, mereka rerata sudah kuliah atau bahkan sudah jadi pejabat, tapi baru belajar agama. Istilah ”serius” ini penulis gunakan, sebab sering kali kaum santri dianggap beragama dengan ”tidak serius” oleh mereka, hanya sebab banyak humor dalam pengajiannya.

Mereka lupa bila Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga kerap bercanda. Perbedaannya, kaum santri dengan mudah akan mengikuti mana pengajian daring yang akan diikuti. Mereka akan mencari nama kitab atau nama kiai secara daring, kemudian memutar video atau membaca artikel.

Sementara mereka yang baru belajar, mencari apa saja yang sesuai dengan nalar mereka, dan bahkan sering kali mencari yang sesuai dengan aspirasi politis mereka. Tak heran bila seseorang yang suka ”cak-cuk” dalam ceramahnya saja, bisa memiliki ribuan viewer dan bahkan sering berceramah seperti ulama, dan bahkan berfatwa seperti mufti. (*)

 

*)Penulis adalah Pengasuh Pesantren Sigramilir, Kota Mojokerto.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/