alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Berlebaran dengan SARS-CoV-2

Konsep ’’New Normal’’ belakangan sering menggaung di telinga kita, terbaca di berbagai media sosial, atau jejaring grup komunikasi.

Ya, sejak korona: Covid-19 atau SARS-CoV-2 melanda, manusia yang sejatinya makhluk yang tidak bisa hidup soliter ini, mau tidak mau, suka atau tidak suka harus belajar kembali berinteraksi dengan cara baru. Apa itu ’’new normal’’?

Secara definisi per kamus, new normal adalah adaptasi atau penyesuaian yang terjadi akibat perubahan dramatis yang tidak diduga sebelumnya, untuk bertahan hidup dengan cara yang sebelumnya dianggap kurang lazim, menjadi keseharian yang lazim dijalani.

Berawal dari Desember 2019 di Wuhan, China, virus ini meluas persebarannya. Tidak lain, karena manusia sebagai host (inang) terus melakukan perjalanan, interaksi, dan mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain.

Perlu diingat, bahwa virus yang merupakan tiny single stranded enveloped RNA organism berukuran mikron, tidak akan mampu melakukan perjalanan dari Wuhan ke Canada, Papua, atau Mojokerto Kota bila tidak ada perpindahan manusia.

Virus ini melintasi batas wilayah negara, dan benua dengan pesawat, kapal, mobil, motor, bus, kereta api, dll karena inangnya tidak berdiam diri. Sebelum outbreak SARS-CoV-2, sebetulnya sudah dikenal outbreak varian coronavirus lain yaitu: SARS-CoV di tahun 2002 dan MERS-CoV pada tahun 2012, dengan percepatan persebaran yang tidak sedramatis varian SARS-CoV-2.

Saat ini, SARS-CoV2 sudah menjadi new-emerging disease yang menjadi global health concern. Hingga 24 Mei 2020, telah tercatat sekitar 341.000 kematian akibat SARS-CoV-2 di seluruh dunia. Cara penularan yang mudah adalah salah satu faktor penyebab tingginya spreading rate dari SARS-CoV-2, yaitu: melalui droplets.

Droplets adalah percikan cairan yang keluar saat seseorang berbicara, batuk, maupun bersin. Kalau kata orang jawa: ’’muncrat’’. Tidak tanggung-tanggung, dari data disebutkan bahwa droplets ini bisa mencapai radius 1 hingga 2 meter, baik bila terhirup langsung oleh manusia lain, atau tertempel dan bertahan pada permukaan benda hingga waktu tertentu, seperti: daun pintu, tombol lift, eskalator, piring, uang kertas, tombol ATM dan lain sebagainya.

Ironinya, bukan hanya manusia terjangkit dan bergejala yang dapat menularkan; seseorang yang tubuhnya sudah menjadi inang SARS-CoV-2 meski tanpa keluhan sakit pun, dropletsnya mengandung virus: demikian yang sering dikenal dengan istilah OTG (orang tanpa gejala).

Dilema, karena keterbatasan biaya dan sarana, kecil kemungkinan dilakukan screening swab tenggorok masal dengan metode PCR untuk mendeteksi OTG di negeri tercinta kita: Indonesia. Kalau kemudian dikatakan, ’’Kan ada rapid test?; jujur, sampai saat ini belum ada satu pun rapid test yang sensitifitas dan spesifitasnya betul-betul akurat merepresentasikan SARS-CoV-2 di Indonesia.

Ada yang namanya false negative (seolah-olah negatif), dan ada false positive (seolah-olah positif). Dengan demikian, saya sendiri bahkan tidak yakin, apakah saya positif?! Dan begitu pula sebaliknya, apakah Anda yakin bahwa Anda negatif?

Baca Juga :  Kerupuk Singkong Kekinian, Sekali Kriuk, Langsung Habis

Jadi mari kita pahami bersama, bahwa esensi ’’jaga jarak’’, atau ’’berdiam di rumah aja’’ selama ini terutama bertujuan untuk meminimalisir risiko penularan dari mereka yang terjangkit, namun tidak merasa sakit.

Karena yang sakit, dan merasa sakit, pada umumnya sudah datang berobat ke rumah sakit untuk diperiksa, dirawat, dan diisolasi. Demikian pula, bahwa esensi cuci tangan, penggunaan hand sanitizer, atau penyemprotan cairan disinfektan adalah untuk membunuh virus seandainya SARS-CoV-2 ini telah menempel pada jemari dan telapak tangan.

Apakah Anda yakin orang di sekitar sehat saat melakukan transaksi di bank? Dan apakah kita yakin bahwa mereka yang berbelanja baju Lebaran satu pun tidak ada yang positif dropletnya? No one knows..

Masa inkubasi virus SARS-CoV-2 bisa mencapai 14 hari sejak awal paparan, dengan rata-rata 4-5 hari. Dan apabila sudah menjadi simptomatik, maka gejala sakit hingga meninggal dunia akan dialami selama 6 hingga 41 hari, dengan rata-rata 14 hari, bergantung dari usia dan status imun (kekebalan tubuh) penderita.

Gejala klinis yang dialami pun sangat bervariasi, mulai hanya demam, lemas, batuk pilek, pusing dan nyeri tenggorokan biasa; diare, mual, muntah, hingga sesak napas berat.

Bahkan pada kasus khusus, ketika SARS-CoV-2 ini sudah mengganggu sistem koagulasi (pembekuan darah) secara sistemik, tampilan klinis yang muncul dapat berupa stroke penyumbatan (emboli), infark miokard akut (angina duduk), atau emboli paru (penggumpalan darah pada pembuluh darah paru).

Terlepas dari goyangan isu konspirasi atau bukan, ini di luar kemampuan bijak kita untuk menilai. Bila memang virus ini ada ’’campur tangan’’ manusia dalam proses mutasinya, lalu lantas kita biarkan saja? Atau, seandainya bila memang ada skenario politik vaksin global, lalu bagaimana dengan mereka yang sedang terbaring sakit?

Jelas, hati nurani tidak mungkin akan mengabaikan. Manusia diciptakan berakal, dan dengan tingginya angka kesakitan dan kematian yang ada, manusia perlahan belajar memahami pola-pola ’’menjinakkan’’ SARS-CoV-2.

Maka, menurut hemat saya, sudah bukan saatnya lagi kita berdebat kusir saling menyalahkan; tapi hadapi saja, apa yang di depan mata. Pandemi SARS-CoV-2 ini sudah jelas merugikan berbagai aspek secara multidimensi, mulai dari mereka yang ’’memutar uang besar’’ hingga mereka yang bekerja sebagai buruh harian: domino effect.

Maka dari itulah, dari SARS-CoV-2 ini, manusia seharusnya belajar untuk kembali tidak egois, karena yang susah bukan hanya saya, atau Anda.. tapi juga mereka. Di tengah momen 1 Syawal ini, seharusnya manusia belajar untuk kembali pada fitrah akalnya untuk berpikir jernih, hakikat hatinya untuk lebih merasakan, telinganya untuk mendengar, dan tangannya untuk lebih berbuat kebaikan-kebaikan.

Karena saya yakin, siapa pun bisa menjadi pahlawan! Bantulah bapak-bapak polisi, satpol PP, atau TNI yang sudah lelah menjaga perbatasan wilayah. Jangan lupa, banyak dari mereka yang sudah tidak muda lagi lho ya!

Baca Juga :  Pajang Deretan Karya Tiga Maestro Seni Lukis

Sebagian juga sudah ’’sambat’’ khawatir terpapar karena mereka pun termasuk golongan berisiko dengan penyerta penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, atau gangguan irama jantung yang diderita.

Bantulah tetangga kanan kiri Anda yang menjadi pantauan puskesmas atau dinas kesehatan dengan tidak mengucilkan, karena yang dihindari itu virusnya, bukan manusianya! Stigma negatif hanya akan membuat mereka yang bergejala takut berobat karena ’’stempel’’ isolasi masyarakat lebih mengerikan dari makna isolasi yang sesungguhnya.

Betapa indahnya, bila tetangga sekitar menggantungkan sekadar plastik berisi beras, tahu tempe, atau sayuran sederhana di pagar-pagar rumah ODP-PDP yang sedang melakukan isolasi mandiri.

Atau, bila ’’emak-emak dan handai taulan’’ di grup percakapan komunikasi rutin memberikan semangat untuk mereka yang sedang berusaha menyembuhkan diri; bukan alih-alih mencibir atau ’’ngerasani’’. Hihi.. bisakah kamu, Indonesia?? Ahh.. membayangkan saja sudah indah rasanya!

Biarlah cukup tenaga medis yang berjuang langsung berjibaku di rumah sakit, dengan hazmat-hazmat panas dan masker-masker ketat yang dengan memakainya sebentar saja sudah seperti kekurangan udara: hypoxia; tapi satu permintaan kami: bantu kami memotong mata rantai penularan SARS-CoV-2 ini.

Bila mulanya rumah sakit hanya merawat PDP SARS-CoV-2 dengan gejala pneumonia ringan hingga gagal napas, saat ini banyak rumah sakit sudah merawat OTG positif swab yang harus menjalani operasi sectio caesaria, bedah usus, tulang, sampai bedah kepala. 

Atau bahkan, bisa jadi pasien stroke dan angin duduk di depan mata kita, sebetulnya adalah OTG yang tidak sempat terambil swab-nya. Maka demikian, bisa dipahami bila banyak perawat, dokter umum, dokter spesialis, radiografer, apoteker ’’tumbang’’ sendiri berbalik menjadi pasien di ruang isolasi.

Terakhir, sedikit catatan untuk pemerintah yang memegang ketok palu kekuasaan. Bantulah negeri ini dengan mulai memutar arah kebijakan dan melakukan tracing-tracing pencegahan penyebaran daripada sekedar fokus menghitung temuan.

Konsep ’’new normal’’ dan hidup berdamai dengan SARS-CoV-2 masih gamang rasanya diterapkan di Indonesia dalam waktu dekat, karena belum juga tampak angka penurunan kasus baru secara berturut-turut dan nyata dalam sekian minggu.

We know that we’re gonna live with this SARS-CoV-2 forever. Mungkin suatu saat pandemik ini akan berubah menjadi endemik semacam demam berdarah dengue, malaria, atau tuberkulosis yang sudah menjadi trade-mark di belahan bumi, dan negara tertentu (termasuk di dalamnya: Indonesia).

Tapi, apakah langkah ini sudah yang terbijak? Semoga langkah-langkah visioner selain kebijakan ’’new normal’’ tadi sudah dibuat, di antaranya dengan mendorong pusat-pusat riset perguruan tinggi untuk mulai bekerja sama membuat klasifikasi epigenetik virus, cluster, strain, hingga diperoleh vaksin yang sekiranya mampu menyelamatkan manusia-manusia bangsa ini; karena ’’new normal’’ bukan berarti kalah, atau menyerah. Wallahualam

Selamat Idul Fitri.. Jangan lelah menjaga dirimu, keluargamu, orang di sekitarmu.. dan tidak lupa, jagalah Indonesia-mu, Indonesia kita bersama!

 

Konsep ’’New Normal’’ belakangan sering menggaung di telinga kita, terbaca di berbagai media sosial, atau jejaring grup komunikasi.

Ya, sejak korona: Covid-19 atau SARS-CoV-2 melanda, manusia yang sejatinya makhluk yang tidak bisa hidup soliter ini, mau tidak mau, suka atau tidak suka harus belajar kembali berinteraksi dengan cara baru. Apa itu ’’new normal’’?

Secara definisi per kamus, new normal adalah adaptasi atau penyesuaian yang terjadi akibat perubahan dramatis yang tidak diduga sebelumnya, untuk bertahan hidup dengan cara yang sebelumnya dianggap kurang lazim, menjadi keseharian yang lazim dijalani.

Berawal dari Desember 2019 di Wuhan, China, virus ini meluas persebarannya. Tidak lain, karena manusia sebagai host (inang) terus melakukan perjalanan, interaksi, dan mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain.

Perlu diingat, bahwa virus yang merupakan tiny single stranded enveloped RNA organism berukuran mikron, tidak akan mampu melakukan perjalanan dari Wuhan ke Canada, Papua, atau Mojokerto Kota bila tidak ada perpindahan manusia.

Virus ini melintasi batas wilayah negara, dan benua dengan pesawat, kapal, mobil, motor, bus, kereta api, dll karena inangnya tidak berdiam diri. Sebelum outbreak SARS-CoV-2, sebetulnya sudah dikenal outbreak varian coronavirus lain yaitu: SARS-CoV di tahun 2002 dan MERS-CoV pada tahun 2012, dengan percepatan persebaran yang tidak sedramatis varian SARS-CoV-2.

- Advertisement -

Saat ini, SARS-CoV2 sudah menjadi new-emerging disease yang menjadi global health concern. Hingga 24 Mei 2020, telah tercatat sekitar 341.000 kematian akibat SARS-CoV-2 di seluruh dunia. Cara penularan yang mudah adalah salah satu faktor penyebab tingginya spreading rate dari SARS-CoV-2, yaitu: melalui droplets.

Droplets adalah percikan cairan yang keluar saat seseorang berbicara, batuk, maupun bersin. Kalau kata orang jawa: ’’muncrat’’. Tidak tanggung-tanggung, dari data disebutkan bahwa droplets ini bisa mencapai radius 1 hingga 2 meter, baik bila terhirup langsung oleh manusia lain, atau tertempel dan bertahan pada permukaan benda hingga waktu tertentu, seperti: daun pintu, tombol lift, eskalator, piring, uang kertas, tombol ATM dan lain sebagainya.

Ironinya, bukan hanya manusia terjangkit dan bergejala yang dapat menularkan; seseorang yang tubuhnya sudah menjadi inang SARS-CoV-2 meski tanpa keluhan sakit pun, dropletsnya mengandung virus: demikian yang sering dikenal dengan istilah OTG (orang tanpa gejala).

Dilema, karena keterbatasan biaya dan sarana, kecil kemungkinan dilakukan screening swab tenggorok masal dengan metode PCR untuk mendeteksi OTG di negeri tercinta kita: Indonesia. Kalau kemudian dikatakan, ’’Kan ada rapid test?; jujur, sampai saat ini belum ada satu pun rapid test yang sensitifitas dan spesifitasnya betul-betul akurat merepresentasikan SARS-CoV-2 di Indonesia.

Ada yang namanya false negative (seolah-olah negatif), dan ada false positive (seolah-olah positif). Dengan demikian, saya sendiri bahkan tidak yakin, apakah saya positif?! Dan begitu pula sebaliknya, apakah Anda yakin bahwa Anda negatif?

Baca Juga :  Honor Pengawasan Pilbup di Kabupaten Mojokerto Stagnan

Jadi mari kita pahami bersama, bahwa esensi ’’jaga jarak’’, atau ’’berdiam di rumah aja’’ selama ini terutama bertujuan untuk meminimalisir risiko penularan dari mereka yang terjangkit, namun tidak merasa sakit.

Karena yang sakit, dan merasa sakit, pada umumnya sudah datang berobat ke rumah sakit untuk diperiksa, dirawat, dan diisolasi. Demikian pula, bahwa esensi cuci tangan, penggunaan hand sanitizer, atau penyemprotan cairan disinfektan adalah untuk membunuh virus seandainya SARS-CoV-2 ini telah menempel pada jemari dan telapak tangan.

Apakah Anda yakin orang di sekitar sehat saat melakukan transaksi di bank? Dan apakah kita yakin bahwa mereka yang berbelanja baju Lebaran satu pun tidak ada yang positif dropletnya? No one knows..

Masa inkubasi virus SARS-CoV-2 bisa mencapai 14 hari sejak awal paparan, dengan rata-rata 4-5 hari. Dan apabila sudah menjadi simptomatik, maka gejala sakit hingga meninggal dunia akan dialami selama 6 hingga 41 hari, dengan rata-rata 14 hari, bergantung dari usia dan status imun (kekebalan tubuh) penderita.

Gejala klinis yang dialami pun sangat bervariasi, mulai hanya demam, lemas, batuk pilek, pusing dan nyeri tenggorokan biasa; diare, mual, muntah, hingga sesak napas berat.

Bahkan pada kasus khusus, ketika SARS-CoV-2 ini sudah mengganggu sistem koagulasi (pembekuan darah) secara sistemik, tampilan klinis yang muncul dapat berupa stroke penyumbatan (emboli), infark miokard akut (angina duduk), atau emboli paru (penggumpalan darah pada pembuluh darah paru).

Terlepas dari goyangan isu konspirasi atau bukan, ini di luar kemampuan bijak kita untuk menilai. Bila memang virus ini ada ’’campur tangan’’ manusia dalam proses mutasinya, lalu lantas kita biarkan saja? Atau, seandainya bila memang ada skenario politik vaksin global, lalu bagaimana dengan mereka yang sedang terbaring sakit?

Jelas, hati nurani tidak mungkin akan mengabaikan. Manusia diciptakan berakal, dan dengan tingginya angka kesakitan dan kematian yang ada, manusia perlahan belajar memahami pola-pola ’’menjinakkan’’ SARS-CoV-2.

Maka, menurut hemat saya, sudah bukan saatnya lagi kita berdebat kusir saling menyalahkan; tapi hadapi saja, apa yang di depan mata. Pandemi SARS-CoV-2 ini sudah jelas merugikan berbagai aspek secara multidimensi, mulai dari mereka yang ’’memutar uang besar’’ hingga mereka yang bekerja sebagai buruh harian: domino effect.

Maka dari itulah, dari SARS-CoV-2 ini, manusia seharusnya belajar untuk kembali tidak egois, karena yang susah bukan hanya saya, atau Anda.. tapi juga mereka. Di tengah momen 1 Syawal ini, seharusnya manusia belajar untuk kembali pada fitrah akalnya untuk berpikir jernih, hakikat hatinya untuk lebih merasakan, telinganya untuk mendengar, dan tangannya untuk lebih berbuat kebaikan-kebaikan.

Karena saya yakin, siapa pun bisa menjadi pahlawan! Bantulah bapak-bapak polisi, satpol PP, atau TNI yang sudah lelah menjaga perbatasan wilayah. Jangan lupa, banyak dari mereka yang sudah tidak muda lagi lho ya!

Baca Juga :  Punya Enam Musala, Ada Gua Sepanjang 300 Meter

Sebagian juga sudah ’’sambat’’ khawatir terpapar karena mereka pun termasuk golongan berisiko dengan penyerta penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, atau gangguan irama jantung yang diderita.

Bantulah tetangga kanan kiri Anda yang menjadi pantauan puskesmas atau dinas kesehatan dengan tidak mengucilkan, karena yang dihindari itu virusnya, bukan manusianya! Stigma negatif hanya akan membuat mereka yang bergejala takut berobat karena ’’stempel’’ isolasi masyarakat lebih mengerikan dari makna isolasi yang sesungguhnya.

Betapa indahnya, bila tetangga sekitar menggantungkan sekadar plastik berisi beras, tahu tempe, atau sayuran sederhana di pagar-pagar rumah ODP-PDP yang sedang melakukan isolasi mandiri.

Atau, bila ’’emak-emak dan handai taulan’’ di grup percakapan komunikasi rutin memberikan semangat untuk mereka yang sedang berusaha menyembuhkan diri; bukan alih-alih mencibir atau ’’ngerasani’’. Hihi.. bisakah kamu, Indonesia?? Ahh.. membayangkan saja sudah indah rasanya!

Biarlah cukup tenaga medis yang berjuang langsung berjibaku di rumah sakit, dengan hazmat-hazmat panas dan masker-masker ketat yang dengan memakainya sebentar saja sudah seperti kekurangan udara: hypoxia; tapi satu permintaan kami: bantu kami memotong mata rantai penularan SARS-CoV-2 ini.

Bila mulanya rumah sakit hanya merawat PDP SARS-CoV-2 dengan gejala pneumonia ringan hingga gagal napas, saat ini banyak rumah sakit sudah merawat OTG positif swab yang harus menjalani operasi sectio caesaria, bedah usus, tulang, sampai bedah kepala. 

Atau bahkan, bisa jadi pasien stroke dan angin duduk di depan mata kita, sebetulnya adalah OTG yang tidak sempat terambil swab-nya. Maka demikian, bisa dipahami bila banyak perawat, dokter umum, dokter spesialis, radiografer, apoteker ’’tumbang’’ sendiri berbalik menjadi pasien di ruang isolasi.

Terakhir, sedikit catatan untuk pemerintah yang memegang ketok palu kekuasaan. Bantulah negeri ini dengan mulai memutar arah kebijakan dan melakukan tracing-tracing pencegahan penyebaran daripada sekedar fokus menghitung temuan.

Konsep ’’new normal’’ dan hidup berdamai dengan SARS-CoV-2 masih gamang rasanya diterapkan di Indonesia dalam waktu dekat, karena belum juga tampak angka penurunan kasus baru secara berturut-turut dan nyata dalam sekian minggu.

We know that we’re gonna live with this SARS-CoV-2 forever. Mungkin suatu saat pandemik ini akan berubah menjadi endemik semacam demam berdarah dengue, malaria, atau tuberkulosis yang sudah menjadi trade-mark di belahan bumi, dan negara tertentu (termasuk di dalamnya: Indonesia).

Tapi, apakah langkah ini sudah yang terbijak? Semoga langkah-langkah visioner selain kebijakan ’’new normal’’ tadi sudah dibuat, di antaranya dengan mendorong pusat-pusat riset perguruan tinggi untuk mulai bekerja sama membuat klasifikasi epigenetik virus, cluster, strain, hingga diperoleh vaksin yang sekiranya mampu menyelamatkan manusia-manusia bangsa ini; karena ’’new normal’’ bukan berarti kalah, atau menyerah. Wallahualam

Selamat Idul Fitri.. Jangan lelah menjaga dirimu, keluargamu, orang di sekitarmu.. dan tidak lupa, jagalah Indonesia-mu, Indonesia kita bersama!

 

Artikel Terkait

Most Read

Harga Telur Meroket

Artikel Terbaru


/