alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Pelengkap Suka Cita Antarumat

TRADISI bertukar hadiah adalah simbol kecintaan antarumat. Pelengkap suka cita yang membuat Natal semakin hangat dan khidmat. Keberadaanya jangan sampai mengurangi makna hari raya bagi umat kristiani itu sendiri.

Pendeta Indro Sujarwo menceritakan, bertukar hadiah berawal dari pelayanan para pemimpin gereja. Pada masanya, setiap Natal mereka memberi hadiah secara pribadi kepada anak-anak. Perbuatan itu dianggap baik dan kian mewabah sampai akhirnya menjadi tradisi.

Bahkan, dari sana pula muncul sosok sinterklas yang berkeliling membawa karung berisi beragam hadiah. Kehadirannya selalu ditunggu anak-anak saat Natal. ’’Hadiah itu salah satu perekat,’’ katanya. Pemberian hadiah, menurut dia adalah cerminan perasaan cinta dan saling mengasihi.

Dulu hadiah hanya diberikan secara langsung saat ibadah di gereja. Namun, seiring berkembangnya waktu, tradisi bertukar hadiah dikirim ke alamat tujuan masing-masing. Cara ini makin kentara ketika pandemi membuat orang sulit bertemu. Paket bingkisan seolah menjadi pengganti silaturahmi yang merekatkan satu sama lain.

Baca Juga :  Kerajinan Perak Batankrajan Menembus Pasar Benua Biru

Bagi Pendeta Grejo Kristen Jawi Wetan (GKJW) jemaat Mojokerto ini hadiah natal memiliki keistimewaan tersendira. Bukan soal isinya, tetapi lebih pada perasaan bahagia yang muncul ketika membuka bingkisan dari orang lain. Terlebih ketika pandemi membuat pertemuan lebih terbatas. Mendapat kiriman hadiah saat Natal merupakan kebahagiaan yang tak terukur.

’’Walaupun di rumah punya banyak hal, tapi ketika itu dapat hadiah dari gereja dan dikirim ke rumah saat pandemi itu kan rasanya sagat menyenangkan sekali,’’ ungkapnya. Di pandemi saat ini, lanjut Pendeta Indro, hadiah bahkan tidak hanya untuk kalangan sendiri. Bukan hanya sanak saudara atau kolega, namun kepada orang lain. ’’Berbagi kasih ke teman-teman sekitar gereja. Contohnya seperti anak-anak yang diajak berbagi ke teman sebanyanya di lingkungan dan di jalan. Walaupun yang menerima ibunya,’’ imbuh pria 53 tahun ini.

Baca Juga :  Pengangguran Tinggi, Penyebab Tenggelamnya Industri

Dia berpesan, hakikat hadiah Natal adalah menambah kehangatan hari raya. Keistimewaan yang semestinya membuat Natal semakin meriah tanpa mengurangi kekhidmatan ibadah Natal itu sendiri. ’’Ini pelengkap suka cita. Andaikan tidak ada hadiah, tetap Natal yang utama,’’ tuturnya. (adi/fen)

TRADISI bertukar hadiah adalah simbol kecintaan antarumat. Pelengkap suka cita yang membuat Natal semakin hangat dan khidmat. Keberadaanya jangan sampai mengurangi makna hari raya bagi umat kristiani itu sendiri.

Pendeta Indro Sujarwo menceritakan, bertukar hadiah berawal dari pelayanan para pemimpin gereja. Pada masanya, setiap Natal mereka memberi hadiah secara pribadi kepada anak-anak. Perbuatan itu dianggap baik dan kian mewabah sampai akhirnya menjadi tradisi.

Bahkan, dari sana pula muncul sosok sinterklas yang berkeliling membawa karung berisi beragam hadiah. Kehadirannya selalu ditunggu anak-anak saat Natal. ’’Hadiah itu salah satu perekat,’’ katanya. Pemberian hadiah, menurut dia adalah cerminan perasaan cinta dan saling mengasihi.

Dulu hadiah hanya diberikan secara langsung saat ibadah di gereja. Namun, seiring berkembangnya waktu, tradisi bertukar hadiah dikirim ke alamat tujuan masing-masing. Cara ini makin kentara ketika pandemi membuat orang sulit bertemu. Paket bingkisan seolah menjadi pengganti silaturahmi yang merekatkan satu sama lain.

Baca Juga :  Kesulitan Sparepart, Hunting hingga Barang Rongsokan

Bagi Pendeta Grejo Kristen Jawi Wetan (GKJW) jemaat Mojokerto ini hadiah natal memiliki keistimewaan tersendira. Bukan soal isinya, tetapi lebih pada perasaan bahagia yang muncul ketika membuka bingkisan dari orang lain. Terlebih ketika pandemi membuat pertemuan lebih terbatas. Mendapat kiriman hadiah saat Natal merupakan kebahagiaan yang tak terukur.

’’Walaupun di rumah punya banyak hal, tapi ketika itu dapat hadiah dari gereja dan dikirim ke rumah saat pandemi itu kan rasanya sagat menyenangkan sekali,’’ ungkapnya. Di pandemi saat ini, lanjut Pendeta Indro, hadiah bahkan tidak hanya untuk kalangan sendiri. Bukan hanya sanak saudara atau kolega, namun kepada orang lain. ’’Berbagi kasih ke teman-teman sekitar gereja. Contohnya seperti anak-anak yang diajak berbagi ke teman sebanyanya di lingkungan dan di jalan. Walaupun yang menerima ibunya,’’ imbuh pria 53 tahun ini.

Baca Juga :  Pengangguran Tinggi, Penyebab Tenggelamnya Industri
- Advertisement -

Dia berpesan, hakikat hadiah Natal adalah menambah kehangatan hari raya. Keistimewaan yang semestinya membuat Natal semakin meriah tanpa mengurangi kekhidmatan ibadah Natal itu sendiri. ’’Ini pelengkap suka cita. Andaikan tidak ada hadiah, tetap Natal yang utama,’’ tuturnya. (adi/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/