alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Bantah Tutup Akses, Jalan Yang Digali Hanya Untuk Normalisasi

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dugaan penutupan akses jalan di Dusun Kenongo, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, direspons pemilik lahan, Wahyudi (Wy). Pensiunan polisi sekaligus ayah dari cakades nomor urut 02, Aprizal WD ini, mengaku penggalian lahan yang biasa dimanfaatkan sebagai akses masuk warga tersebut untuk pembangunan gorong-gorong. Utamanya, dalam menghadapi musim penghujan nanti.

’’Tidak ada yang namanya penutupan jalan. Penggalihan ini untuk menormalisasi saluran air,’’ jelasnya ke Jawa Pos Radar Mojokerto, Jumat (25/10).

Menurutnya, tudingan jika penutupan akses dan mengisolor 10 rumah tersebut tidaklah dibenarkan. Bahkan terkesan tidak mendasar.

Apalagi, lanjut dia, jika penggalian tanah ini buntut dari kekecewaan keluarganya setelah Aprizal WD gagal terpilih dalam pilkades serentak, pada Rabu (23/10) lalu. ”Persoalan anak saya di pilkades, saya sudah ikhlas. Kami tidak mempermasalahkan. Dan, ini tidak ada kaitannya dengan penggalian untuk gorong-gorong itu,” tandasnya.

Baca Juga :  Ditarget Menang, Skuad Tak Utuh

Dia menuturkan, dari penggalian itu, diharapkan saluran normalisasi kembali lancar dari semula yang tertutup tanah. Sehingga, saat musim hujan tiba, saluran normalisasi rumah tangga tidak meluber ke lingkungan. ’’Makanya, saya tidak sejahat itu,” paparnya.

Disinggung perihal tudingan warga akan ada rencana penutup lahan sebagai akses jalan bagi sepuluh warga, Wahyudi membantahnya dengan tegas. ”Untuk saat ini, galian itu kami fungsikan sebagai gorong-gorong. Itu saja,” paparnya.

Namun, ia sendiri tidak menjamin apakah nanti lahan keluarga selama ini menjadi akses jalan itu, tidak akan dimanfaatkan. Sebab, lanjut dia, jika dalam jangka panjang nantinya jalan difungsikan untuk bangunan pun, hal itu dinilai tak menyalahi aturan.

Dengan alasan tanah selebar 2,5 meter tersebut secara sah milik keluarganya. ”Yang penting, sekarang ini tidak ada penutupan. Soal, nanti dimanfaatkan, tidak tahu lagi. Itu nanti,” kilahnya.

Baca Juga :  Dukung Terobosan Center for Future of Work UMM di KEK Singhasari

Polisi yang sudah memasuki masa pensiun (MPP) sejak 10 Oktober lalu juga menyangkal, sepuluh keluarga sekaligus tetangganya terancam terisolir. Akibat, adanya galian untuk pembangunan gorong-gorong.

Sebab, jika nanti akses jalan itu dimanfaatkan oleh keluarga dan warga, kata Wahyudi, mereka masih bisa beraktivitas. Dengan alasan, terdapat beberapa akses jalan, di sisi timur dan barat di antara permukiman.

’’Bukan lahan itu saja jadi akses satu-satunya. Masih ada jalan lain untuk keluar masuk. Makanya, kalau disebut ada warga terisolir ini kan jahat. Itu tidak ada,” pungkasnya.

Sebelumnya, sepuluh keluarga di Dusun Kenongo, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis terancam terisolir. Sebab, jalan yang selama ini sebagai satu-satunya akses keluar-masuk rumah, digali pemilik lahan. Disebut-sebut rencana penutupan jalan ini disinyalir buntut kekecewaan keluarga pemilik lahan, karena anaknya gagal terpilih sebagai kepala desa di pilkades serentak.

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dugaan penutupan akses jalan di Dusun Kenongo, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, direspons pemilik lahan, Wahyudi (Wy). Pensiunan polisi sekaligus ayah dari cakades nomor urut 02, Aprizal WD ini, mengaku penggalian lahan yang biasa dimanfaatkan sebagai akses masuk warga tersebut untuk pembangunan gorong-gorong. Utamanya, dalam menghadapi musim penghujan nanti.

’’Tidak ada yang namanya penutupan jalan. Penggalihan ini untuk menormalisasi saluran air,’’ jelasnya ke Jawa Pos Radar Mojokerto, Jumat (25/10).

Menurutnya, tudingan jika penutupan akses dan mengisolor 10 rumah tersebut tidaklah dibenarkan. Bahkan terkesan tidak mendasar.

Apalagi, lanjut dia, jika penggalian tanah ini buntut dari kekecewaan keluarganya setelah Aprizal WD gagal terpilih dalam pilkades serentak, pada Rabu (23/10) lalu. ”Persoalan anak saya di pilkades, saya sudah ikhlas. Kami tidak mempermasalahkan. Dan, ini tidak ada kaitannya dengan penggalian untuk gorong-gorong itu,” tandasnya.

Baca Juga :  Dukung Terobosan Center for Future of Work UMM di KEK Singhasari

Dia menuturkan, dari penggalian itu, diharapkan saluran normalisasi kembali lancar dari semula yang tertutup tanah. Sehingga, saat musim hujan tiba, saluran normalisasi rumah tangga tidak meluber ke lingkungan. ’’Makanya, saya tidak sejahat itu,” paparnya.

Disinggung perihal tudingan warga akan ada rencana penutup lahan sebagai akses jalan bagi sepuluh warga, Wahyudi membantahnya dengan tegas. ”Untuk saat ini, galian itu kami fungsikan sebagai gorong-gorong. Itu saja,” paparnya.

- Advertisement -

Namun, ia sendiri tidak menjamin apakah nanti lahan keluarga selama ini menjadi akses jalan itu, tidak akan dimanfaatkan. Sebab, lanjut dia, jika dalam jangka panjang nantinya jalan difungsikan untuk bangunan pun, hal itu dinilai tak menyalahi aturan.

Dengan alasan tanah selebar 2,5 meter tersebut secara sah milik keluarganya. ”Yang penting, sekarang ini tidak ada penutupan. Soal, nanti dimanfaatkan, tidak tahu lagi. Itu nanti,” kilahnya.

Baca Juga :  Surat Suara Tidak Sah Tinggi, Desak Hitung Ulang

Polisi yang sudah memasuki masa pensiun (MPP) sejak 10 Oktober lalu juga menyangkal, sepuluh keluarga sekaligus tetangganya terancam terisolir. Akibat, adanya galian untuk pembangunan gorong-gorong.

Sebab, jika nanti akses jalan itu dimanfaatkan oleh keluarga dan warga, kata Wahyudi, mereka masih bisa beraktivitas. Dengan alasan, terdapat beberapa akses jalan, di sisi timur dan barat di antara permukiman.

’’Bukan lahan itu saja jadi akses satu-satunya. Masih ada jalan lain untuk keluar masuk. Makanya, kalau disebut ada warga terisolir ini kan jahat. Itu tidak ada,” pungkasnya.

Sebelumnya, sepuluh keluarga di Dusun Kenongo, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis terancam terisolir. Sebab, jalan yang selama ini sebagai satu-satunya akses keluar-masuk rumah, digali pemilik lahan. Disebut-sebut rencana penutupan jalan ini disinyalir buntut kekecewaan keluarga pemilik lahan, karena anaknya gagal terpilih sebagai kepala desa di pilkades serentak.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/