alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Rindu Berebut Tabuh Jidor

ANTARA Banyuwangi-Mojokerto memang tidak terlalu jauh. Tapi Ramadan kali ini sepertinya kami tidak bisa mudik, karena adanya wabah coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Kami sekeluarga sepakat untuk mengikuti imbauan pemerintah, karena kami nilai lebih banyak manfaatnya. Lagian siapa juga yang mau dikarantina 14 hari di kampung halaman.

Asal saya dari Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Tepatnya di belakang pasar Dlanggu. Sejak kelas IV SD saya keluar dari Mojokerto mengikuti papa saya bertugas. Dan hal itu rupanya menurun ke diri saya untuk bertugas di luar kampung halaman sampai saat ini.

Di Banyuwangi sendiri, saya mulai tinggal tahun 2014 sampai sekarang. Sehari-hari menjadi pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ditempatkan di di sini.

Biasanya, menjelang Lebaran, kami berangkat mudik ke Mojokerto. Mudik biasa melalui ruas jalan nasional. Ya, biasanya lebih dari setengah hari perjalanannya. Kalau tidak mampir-mampir.

Pada bulan Ramadan seperti saat ini, hal yang paling kami rindukan adalah pasti berkumpul dengan keluarga besar di Dlanggu. Berbagi cerita, berbagi tawa, sambil saling mengolok bercanda satu sama lain antar saudara.

Baca Juga :  Kolase Kemerdekaan HUT Republik Indonesia

Jika waktu tarawih tiba, kami berangkat bersama ke musala. Selesai tarawih anak-anak mulai ramai tabuh jidor. Tradisi ini udah ada sejak dulu.

Kebiasaan itu juga menjadi hal yang menarik bagi anak anak kecil untuk berangkat ke musala sembari belajar salat. Jika akhir Ramadan tiba, maka malamnya kami keliling desa mendampingi anak-anak untuk takbir keliling.

Obor dan suara takbir mengiringi perjalanan kami, seru? Pasti! Itu salah satu cerita dari sekian ratus cerita Ramadan di Dlanggu. Mudah-mudahan wabah ini segera berakhir, supaya kami dan para perantau yang lain tidak waswas untuk pulang kampung.

Berbahagialah kita yang masih bisa bertemu orang tua dan keluarga yang lain setiap saat. Kami, di Banyuwangi, di tanah rantau pada saat bulan Ramadan, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bedanya mungkin tidak ada lagi buka bersama, berburu takjil atau sekadar jalan-jalan (ngabuburit) sambil menunggu buka puasa. Alhamdulillah, masjid di dekat rumah masih menyelenggarakan salat berjamaah lima waktu, bahkan salat Tarawih.

Baca Juga :  Indahnya Pesisir Pulau Garam

Akan tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan yang berlaku juga. Tarawih malam pertama terlihat ramai daripada malam-malam selain Ramadan, tetapi tidak seramai tarawih tahun lalu.

Rumah kami berada di perumahan di Klatak, dekat dengan pelabuhan Ketapang. Tetangga kami di sini juga mayoritas perantauan. Ada yang dari Jakarta, Ciamis, Kalimantan, dan tempat-tempat lainnya.

Pada saat kami ngobrol-ngobrol santai sepertinya mereka juga mikir-mikir jika pulang kampung waktu Lebaran. Risikonya terlalu tinggi apalagi jika menggunakaan transportasi umum.

Sepertinya Lebaran kali ini kami bersama tetangga yang juga sesama perantau dari daerah lainnya juga. Di manapun kita berada, sebaiknya tetap “langit dijunjung, bumi diinjak”, karena bagi kami para perantau yang jauh dari keluarga, tetangga terdekat kita lah keluarga kita di sini. (*)

*)Disarikan dari hasil wawancara Jawa Pos Radar Mojokerto.

 

 

ANTARA Banyuwangi-Mojokerto memang tidak terlalu jauh. Tapi Ramadan kali ini sepertinya kami tidak bisa mudik, karena adanya wabah coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Kami sekeluarga sepakat untuk mengikuti imbauan pemerintah, karena kami nilai lebih banyak manfaatnya. Lagian siapa juga yang mau dikarantina 14 hari di kampung halaman.

Asal saya dari Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Tepatnya di belakang pasar Dlanggu. Sejak kelas IV SD saya keluar dari Mojokerto mengikuti papa saya bertugas. Dan hal itu rupanya menurun ke diri saya untuk bertugas di luar kampung halaman sampai saat ini.

Di Banyuwangi sendiri, saya mulai tinggal tahun 2014 sampai sekarang. Sehari-hari menjadi pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ditempatkan di di sini.

Biasanya, menjelang Lebaran, kami berangkat mudik ke Mojokerto. Mudik biasa melalui ruas jalan nasional. Ya, biasanya lebih dari setengah hari perjalanannya. Kalau tidak mampir-mampir.

Pada bulan Ramadan seperti saat ini, hal yang paling kami rindukan adalah pasti berkumpul dengan keluarga besar di Dlanggu. Berbagi cerita, berbagi tawa, sambil saling mengolok bercanda satu sama lain antar saudara.

Baca Juga :  Indahnya Pesisir Pulau Garam
- Advertisement -

Jika waktu tarawih tiba, kami berangkat bersama ke musala. Selesai tarawih anak-anak mulai ramai tabuh jidor. Tradisi ini udah ada sejak dulu.

Kebiasaan itu juga menjadi hal yang menarik bagi anak anak kecil untuk berangkat ke musala sembari belajar salat. Jika akhir Ramadan tiba, maka malamnya kami keliling desa mendampingi anak-anak untuk takbir keliling.

Obor dan suara takbir mengiringi perjalanan kami, seru? Pasti! Itu salah satu cerita dari sekian ratus cerita Ramadan di Dlanggu. Mudah-mudahan wabah ini segera berakhir, supaya kami dan para perantau yang lain tidak waswas untuk pulang kampung.

Berbahagialah kita yang masih bisa bertemu orang tua dan keluarga yang lain setiap saat. Kami, di Banyuwangi, di tanah rantau pada saat bulan Ramadan, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bedanya mungkin tidak ada lagi buka bersama, berburu takjil atau sekadar jalan-jalan (ngabuburit) sambil menunggu buka puasa. Alhamdulillah, masjid di dekat rumah masih menyelenggarakan salat berjamaah lima waktu, bahkan salat Tarawih.

Baca Juga :  10 Desember Ning Ita-Cak Rizal Dilantik di Grahadi

Akan tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan yang berlaku juga. Tarawih malam pertama terlihat ramai daripada malam-malam selain Ramadan, tetapi tidak seramai tarawih tahun lalu.

Rumah kami berada di perumahan di Klatak, dekat dengan pelabuhan Ketapang. Tetangga kami di sini juga mayoritas perantauan. Ada yang dari Jakarta, Ciamis, Kalimantan, dan tempat-tempat lainnya.

Pada saat kami ngobrol-ngobrol santai sepertinya mereka juga mikir-mikir jika pulang kampung waktu Lebaran. Risikonya terlalu tinggi apalagi jika menggunakaan transportasi umum.

Sepertinya Lebaran kali ini kami bersama tetangga yang juga sesama perantau dari daerah lainnya juga. Di manapun kita berada, sebaiknya tetap “langit dijunjung, bumi diinjak”, karena bagi kami para perantau yang jauh dari keluarga, tetangga terdekat kita lah keluarga kita di sini. (*)

*)Disarikan dari hasil wawancara Jawa Pos Radar Mojokerto.

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/