alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Online Shop, Simple dan Praktis, tapi Harus Selektif

Dewasa ini, berbagai aktivitas semakin termanjakan oleh canggihnya teknologi. Termasuk kegiatan berbelanja yang tak perlu repot-repot lagi pergi ke pasar atau swalayan demi mencari dan memilih barang yang sesuai kebutuhan.

Tinggal klik gambar di aplikasi online shop, barang yang diinginkan pun sampai ke tangan. Lantas, apakah fenomena belanja online ini sudah melengserkan dominasi belanja offline?

JIKA dilihat dari value dan jumlah transaksinya, belanja online memang masih kalah dengan belanja offline. Bahkan, belanja offline bisa dikatakan masih mendominasi kegiatan ekonomi di Indonesia. Situasi ini tak lepas dari usia belanja konvensional yang lebih tua ketimbang belanja dalam jaringan (daring).

Akan tetapi, bukan berarti aktivitas belanja online ini tak banyak diminati orang. Perkembangannya justru semakin pesat seiring bermunculan bidang usaha e-commerce lewat aplikasi smartphone. Termasuk aplikasi online shoping yang banyak menawarkan program sale gila-gilaan. Sehingga, pelanggan sangat diuntungkan dengan simple-nya cara berbelanja.

Khususnya bagi para wanita atau mama-mama muda yang dihimpit oleh padatnya aktivitas kerja. Belanja online pun menjadi solusi paling ampuh bagi mereka untuk mengurangi kesibukan. ’’Justru tambah ribet kalau beli offline. Kayak saya gini misalnya, punya anak tiga, kalau pas ngajak belanja di supermarket, pasti anak-anak mintanya barang-barang yang nggak penting.

Baca Juga :  Pung Bongkar Pasang Bacawabup

Jadi, malah nggak fokus belanja ke barang utamanya,’’ tutur Elok Rahmawati, warga Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Selain praktis dan simple, olshop juga diakui perempuan biasa disapa Ning Elok ini sebagai cara yang pas untuk berhemat. Di mana, konsentrasi belanja lebih tercurah pada satu titik barang yang dituju.

Situasi itu berbeda dengan belanja di swalayan yang lebih banyak tergoda oleh jenis barang lain yang terpampang jelas di rak yang tersedia. ’’Kebiasaan wanita pas belanja itu kan melebihi jatah uang yang sudah diplot. Tapi, itu sih tergantung masing-masing orangnya,’’ tambah istri Agus Ahmad Saifulloh ini.

Ditanya soal kualitas barang, Ning Elok mengaku belanja online butuh kecermatan dan konsentrasi tinggi dalam memilih barang. Bahkan, melebihi belanja offline yang memperlihatkan secara terang barang yang akan dibeli. Hal ini yang bisa membuat pelanggan deg-degan dengan kualitas yang dipilih.

Baca Juga :  PDIP: Jokowi 2 Periode, Coblos Gus Ipul-Mbak Puti

Sebab, barang yang kita beli di olshop masih dalam bentuk bayangan. Sehingga, butuh banyak pertimbangan sebelum mengklik dan mentransfer uang untuk mendatangkan barang. Pertimbangan itu tak lepas dari maraknya modus penipuan olshop sebagai jenis kejahatan baru.

Selain itu, juga banyaknya wujud barang yang tidak sesuai dengan gambar. Baik dari segi warna maupun bentuk. Sehingga, banyak pelanggan yang kecewa lantaran barang yang dibeli tak bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

’’Kita harus jeli membaca komentar para pelanggan. Juga harus melihat mutu toko olshop-nya dari jumlah bintang yang terpampang, apakah rekomended atau tidak,’’ pungkas alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini. 

 

Dewasa ini, berbagai aktivitas semakin termanjakan oleh canggihnya teknologi. Termasuk kegiatan berbelanja yang tak perlu repot-repot lagi pergi ke pasar atau swalayan demi mencari dan memilih barang yang sesuai kebutuhan.

Tinggal klik gambar di aplikasi online shop, barang yang diinginkan pun sampai ke tangan. Lantas, apakah fenomena belanja online ini sudah melengserkan dominasi belanja offline?

JIKA dilihat dari value dan jumlah transaksinya, belanja online memang masih kalah dengan belanja offline. Bahkan, belanja offline bisa dikatakan masih mendominasi kegiatan ekonomi di Indonesia. Situasi ini tak lepas dari usia belanja konvensional yang lebih tua ketimbang belanja dalam jaringan (daring).

Akan tetapi, bukan berarti aktivitas belanja online ini tak banyak diminati orang. Perkembangannya justru semakin pesat seiring bermunculan bidang usaha e-commerce lewat aplikasi smartphone. Termasuk aplikasi online shoping yang banyak menawarkan program sale gila-gilaan. Sehingga, pelanggan sangat diuntungkan dengan simple-nya cara berbelanja.

Khususnya bagi para wanita atau mama-mama muda yang dihimpit oleh padatnya aktivitas kerja. Belanja online pun menjadi solusi paling ampuh bagi mereka untuk mengurangi kesibukan. ’’Justru tambah ribet kalau beli offline. Kayak saya gini misalnya, punya anak tiga, kalau pas ngajak belanja di supermarket, pasti anak-anak mintanya barang-barang yang nggak penting.

Baca Juga :  Jadi Tempat Pertemuan Politik Kiai Wahid Hasyim

Jadi, malah nggak fokus belanja ke barang utamanya,’’ tutur Elok Rahmawati, warga Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Selain praktis dan simple, olshop juga diakui perempuan biasa disapa Ning Elok ini sebagai cara yang pas untuk berhemat. Di mana, konsentrasi belanja lebih tercurah pada satu titik barang yang dituju.

- Advertisement -

Situasi itu berbeda dengan belanja di swalayan yang lebih banyak tergoda oleh jenis barang lain yang terpampang jelas di rak yang tersedia. ’’Kebiasaan wanita pas belanja itu kan melebihi jatah uang yang sudah diplot. Tapi, itu sih tergantung masing-masing orangnya,’’ tambah istri Agus Ahmad Saifulloh ini.

Ditanya soal kualitas barang, Ning Elok mengaku belanja online butuh kecermatan dan konsentrasi tinggi dalam memilih barang. Bahkan, melebihi belanja offline yang memperlihatkan secara terang barang yang akan dibeli. Hal ini yang bisa membuat pelanggan deg-degan dengan kualitas yang dipilih.

Baca Juga :  Diajak Berwisata Sejarah dan Nikmati Destinasi Alam

Sebab, barang yang kita beli di olshop masih dalam bentuk bayangan. Sehingga, butuh banyak pertimbangan sebelum mengklik dan mentransfer uang untuk mendatangkan barang. Pertimbangan itu tak lepas dari maraknya modus penipuan olshop sebagai jenis kejahatan baru.

Selain itu, juga banyaknya wujud barang yang tidak sesuai dengan gambar. Baik dari segi warna maupun bentuk. Sehingga, banyak pelanggan yang kecewa lantaran barang yang dibeli tak bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

’’Kita harus jeli membaca komentar para pelanggan. Juga harus melihat mutu toko olshop-nya dari jumlah bintang yang terpampang, apakah rekomended atau tidak,’’ pungkas alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/