alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Jaga Mata Air Tetap Lestari, Gelar Tradisi Berebut Ikan di Lahan Padi

Dalam sekejap, telaga kecil di Dusun Sidorejo, Desa Wonosari, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, berubah menjadi lautan manusia.

Ribuan orang saling berlomba menceburkan diri ke kolam air untuk mengikuti bedah sumber. Sebuah tradisi menangkap ikan secara masal.

MINGGU (24/3) kemarin, warga setempat menggelar tradisi bedah sumber. Tradisi yang diselenggarakan setiap tahun itu memang selalu menyedot antusiasme masyarakat.

Yang menjadi daya tarik tentu adalah berebut menangkap ikan secara cuma-cuma di telaga yang disebut warga sebagai Sumber Wuluh itu. Seribu lebih warga tumplek-blek. Mulai orang tua, dewasa, hingga anak-anak. Mereka beramai-ramai nyemplung ke dalam sumber.

Animo warga terlihat sejak matahari baru terbit. Mereka sudah saling berdatangan ke area Sumber Wuluh. Tidak hanya warga Desa Wonosari, namun juga datang dari berbagai penjuru desa. Bahkan kecamatan lainnya.

Seakan tidak sabar menunggu sejak pagi, sebelum dibuka secara resmi oleh panitia, ribuan warga langsung masuk ke kolam sedalam 50 sentimeter hingga 1 meter itu. Mereka pun mulai memburu berbagai jenis ikan yang memang sengaja dipelihara untuk dipanen saat bedah sumber. Di antaranya, tombro, mujair, lele, dan gurame, yang berkisar 3 ton lebih.

Baca Juga :  Nasdem Sorong Tiga Nama Cabup

Buwono, panitia acara bedah sumber, mengatakan, tradisi bedah Sumber Wuluh adalah sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya rezeki yang didapatkan warga. Oleh karena itu, momen bedah sumber diadakan setelah panen raya padi. ’’Dulu, orang-orang tua kita meninggalkan sumber ini agar tetap dirawat,’’ paparnya.

Di sisi lain, bedah sumber juga merupakan upaya untuk melestarikan sumber mata air. Karena selama ini, air yang memancar dari sela-sela akar pepohonan rindang itu nyaris tidak pernah surut sepanjang musim.

Masyarakat percaya dengan digelarnya bedah sumber akan menambah rezeki berupa melimpahnya air yang terus mengalir dari mata air di Sumber Wuluh. Mengingat, selain dimanfaatkan sebagai perikanan, juga menjadi tumpuan perairan sawah warga.

Sehingga meski saat kemarau tiba, pata petani tetap bisa bercocok tanam. ’’Ada sekitar empat hektare sawah yang dialiri air dari Sumber Wuluh ini. Tiap tahun kita harus bedah untuk membersihkannya,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Tunjukkan Kemampuan Terbaik, Sepuluh Peserta Pildarama Tampil Memukau

Mardi, salah satu warga yang mengikuti tradisi bedah sumber, mengatakan, dirinya selalu rutin mengikuti agenda menangkap ikan secara masal itu. Dia meyakini bahwa dengan mendapatkan ikan, maka rezekinya akan bertambah.

’’Kalau mendapat ikan besar, rezekinya juga akan besar,’’ ujar warga Desa Candiharjo, Kecamatan Ngoro ini. Bagi warga sekitar, Sumber Wuluh merupakan sumber mata air alami yang cukup sakral. Konon, telaga itu sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka.

Bahkan sumber itu juga dianggap sebagai awal mula keberadaan desa yang mereka tempati saat ini. Karena di dekat mata air, ada makam yang ditengarai menjadi orang yang babat alas desa setempat. Bahkan, jika mandi atau sekadar membasuh wajah dari mata air sumber secara langsung, juga dipercaya membawa keberkahan tersendiri.

Dalam sekejap, telaga kecil di Dusun Sidorejo, Desa Wonosari, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, berubah menjadi lautan manusia.

Ribuan orang saling berlomba menceburkan diri ke kolam air untuk mengikuti bedah sumber. Sebuah tradisi menangkap ikan secara masal.

MINGGU (24/3) kemarin, warga setempat menggelar tradisi bedah sumber. Tradisi yang diselenggarakan setiap tahun itu memang selalu menyedot antusiasme masyarakat.

Yang menjadi daya tarik tentu adalah berebut menangkap ikan secara cuma-cuma di telaga yang disebut warga sebagai Sumber Wuluh itu. Seribu lebih warga tumplek-blek. Mulai orang tua, dewasa, hingga anak-anak. Mereka beramai-ramai nyemplung ke dalam sumber.

Animo warga terlihat sejak matahari baru terbit. Mereka sudah saling berdatangan ke area Sumber Wuluh. Tidak hanya warga Desa Wonosari, namun juga datang dari berbagai penjuru desa. Bahkan kecamatan lainnya.

Seakan tidak sabar menunggu sejak pagi, sebelum dibuka secara resmi oleh panitia, ribuan warga langsung masuk ke kolam sedalam 50 sentimeter hingga 1 meter itu. Mereka pun mulai memburu berbagai jenis ikan yang memang sengaja dipelihara untuk dipanen saat bedah sumber. Di antaranya, tombro, mujair, lele, dan gurame, yang berkisar 3 ton lebih.

Baca Juga :  Memegang Prinsip Filosofi Akar Pohon
- Advertisement -

Buwono, panitia acara bedah sumber, mengatakan, tradisi bedah Sumber Wuluh adalah sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya rezeki yang didapatkan warga. Oleh karena itu, momen bedah sumber diadakan setelah panen raya padi. ’’Dulu, orang-orang tua kita meninggalkan sumber ini agar tetap dirawat,’’ paparnya.

Di sisi lain, bedah sumber juga merupakan upaya untuk melestarikan sumber mata air. Karena selama ini, air yang memancar dari sela-sela akar pepohonan rindang itu nyaris tidak pernah surut sepanjang musim.

Masyarakat percaya dengan digelarnya bedah sumber akan menambah rezeki berupa melimpahnya air yang terus mengalir dari mata air di Sumber Wuluh. Mengingat, selain dimanfaatkan sebagai perikanan, juga menjadi tumpuan perairan sawah warga.

Sehingga meski saat kemarau tiba, pata petani tetap bisa bercocok tanam. ’’Ada sekitar empat hektare sawah yang dialiri air dari Sumber Wuluh ini. Tiap tahun kita harus bedah untuk membersihkannya,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Partai Modern dengan Sistem Merit Terbaik di Indonesia

Mardi, salah satu warga yang mengikuti tradisi bedah sumber, mengatakan, dirinya selalu rutin mengikuti agenda menangkap ikan secara masal itu. Dia meyakini bahwa dengan mendapatkan ikan, maka rezekinya akan bertambah.

’’Kalau mendapat ikan besar, rezekinya juga akan besar,’’ ujar warga Desa Candiharjo, Kecamatan Ngoro ini. Bagi warga sekitar, Sumber Wuluh merupakan sumber mata air alami yang cukup sakral. Konon, telaga itu sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka.

Bahkan sumber itu juga dianggap sebagai awal mula keberadaan desa yang mereka tempati saat ini. Karena di dekat mata air, ada makam yang ditengarai menjadi orang yang babat alas desa setempat. Bahkan, jika mandi atau sekadar membasuh wajah dari mata air sumber secara langsung, juga dipercaya membawa keberkahan tersendiri.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/