alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Banyak Diburu Kolektor, Harga Jual Tergantung Karakter

Tanaman bonsai masih menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Hal itulah yang ditangkap Roni Wijaya, warga Dusun Bacem, Desa Bening, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto.

Bermodal hobi, kreativitas, dan keuletan, karyanya kini banyak diminati. Bahkan, menjadi buruan kolektor tanaman hias di pulau Jawa.

TIDAK lama Roni sapaan akrab Roni Wijaya berkecimpung menjadi pegiat tanaman bonsai. Meski tergolong baru, permintaan konsumen hingga kolektor terhadap tanaman hias miliknya tersebut deras mengalir. ’’Peluang bonsai ini cukup besar, dan memang menjanjikan,’’ ungkapnya.

Pantaun Jawa Pos Radar Mojokerto, di rumahnya terlihat puluhan tanaman bonsai berbagai jenis tertata rapi di halaman samping dan depan rumah. Ada yang berukuran kecil, sedang, ada pula berukuran besar. Ada yang siap jual, ada pula masih  setengah jadi. Bahkan, tak sedikit yang baru saja datang dari hutan, dimana puluhan tanaman hias itu didapat.

’’Jenisnya macam-macam. Ada serut, putri salju, dan mentaos,’’ tuturnya. Menurut Roni, jenis serut masih menjadi salah satu yang banyak diburu. Selain memiliki karakter yang unik, daun dan batangnya mudah dibentuk.

Baca Juga :  Wawali Kota Hadiri Kampanye Prabowo, Ini Kata Bawaslu

Bahkan, permintaan serut terus meningkat seiring tren taman hias di perumahan dan perkotaan kembali bergairah. ’’Kalau lainnya itu musiman. Misalkan, jenis mentaos juga banyak dicari buat taman,’’ tuturnya. Dia menceritakan, prosesnya membonsai tanaman cukup panjang.

Semakin unik dan berkarakter, harga tanaman bonsai semakin mahal. Dimulai dari berburu di kawasan hutan, pembersihan, proses tanam hingga mempercantik bonsai itu sendiri. Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan kehati-hatian. Jika tidak, justru bisa berakibat fatal.

Sebab, jika salah potong saja, untuk memulihkan membutuhkan waktu yang cukup lama. Itu pun bentuknya belum tentu sebagus seperti sebelumnya. ’’Bisa sampai satu bulan, baru bisa bersemi lagi,’’ kata Roni.

Kendati begitu, Roni mengaku selama berselancar di hutan, memang tidak mudah menemukan pohon yang bisa dijadikan bonsai. Sehingga butuh kejelian. Di lain sisi, sedikit banyak harus paham seni. Bersama temannya, dia pun minimal mendapatkan lima pohon yang dijadikan bahan baku bonsai setiap hari.

Baca Juga :  Nikmati Pertunjukan Tarian Kolosal dan Ayunan Gajah

’’Karena bonsai itu nilai seninya terlalu tinggi. Membutuhkan pohon yang berkarakter,’’ tambahnya. Dengan demikian, bisnis bonsai dewasa ini memiliki peluang yang sangat tinggi. Sebab, tak sedikit kolektor tanaman hias yang masih memburunya. Terbukti, sekarang dalam memenuhi kebutuhan hidup keseharian tak lain didapatnya dari hasil usaha bonsai.

Bahkan, hasil kreasinya tak jarang dikirim ke kota-kota besar di Jawa. Seperti Surabaya, Gresik, dan kota lainnya. Dia bahkan belum mampu memenuhi permintaan pasar. Selain karena ketersedian barang, juga keterbatasan tenaga. ’’Khusunya jenis serut. Selama ini, harga dan permintaannya tetap stabil dibanding bonsai jenis lainnya,’’ tandasnya.

Harganya jualnya pun bervariasi. Termurah dipatok Rp 100 ribu hingga dibanderol Rp 500 ribu. Dari nilai itu, tanaman belum menjadi bonsai, melainkan pohon baru didapat dari hutan. ’’Harga ditentukan karakter pohon. Karakternya makin bagus harganya mengikuti. Pokoknya, kalau bagus, saya posting satu jam sudah banyak yang tanya dan jenis itu cepat laku,’’ pungkasnya. 

 

 

Tanaman bonsai masih menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Hal itulah yang ditangkap Roni Wijaya, warga Dusun Bacem, Desa Bening, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto.

Bermodal hobi, kreativitas, dan keuletan, karyanya kini banyak diminati. Bahkan, menjadi buruan kolektor tanaman hias di pulau Jawa.

TIDAK lama Roni sapaan akrab Roni Wijaya berkecimpung menjadi pegiat tanaman bonsai. Meski tergolong baru, permintaan konsumen hingga kolektor terhadap tanaman hias miliknya tersebut deras mengalir. ’’Peluang bonsai ini cukup besar, dan memang menjanjikan,’’ ungkapnya.

Pantaun Jawa Pos Radar Mojokerto, di rumahnya terlihat puluhan tanaman bonsai berbagai jenis tertata rapi di halaman samping dan depan rumah. Ada yang berukuran kecil, sedang, ada pula berukuran besar. Ada yang siap jual, ada pula masih  setengah jadi. Bahkan, tak sedikit yang baru saja datang dari hutan, dimana puluhan tanaman hias itu didapat.

’’Jenisnya macam-macam. Ada serut, putri salju, dan mentaos,’’ tuturnya. Menurut Roni, jenis serut masih menjadi salah satu yang banyak diburu. Selain memiliki karakter yang unik, daun dan batangnya mudah dibentuk.

Baca Juga :  Harus Ganti PIN, Malah Terblokir, Nasabah Ramai-Ramai Urus Kartu ATM

Bahkan, permintaan serut terus meningkat seiring tren taman hias di perumahan dan perkotaan kembali bergairah. ’’Kalau lainnya itu musiman. Misalkan, jenis mentaos juga banyak dicari buat taman,’’ tuturnya. Dia menceritakan, prosesnya membonsai tanaman cukup panjang.

- Advertisement -

Semakin unik dan berkarakter, harga tanaman bonsai semakin mahal. Dimulai dari berburu di kawasan hutan, pembersihan, proses tanam hingga mempercantik bonsai itu sendiri. Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan kehati-hatian. Jika tidak, justru bisa berakibat fatal.

Sebab, jika salah potong saja, untuk memulihkan membutuhkan waktu yang cukup lama. Itu pun bentuknya belum tentu sebagus seperti sebelumnya. ’’Bisa sampai satu bulan, baru bisa bersemi lagi,’’ kata Roni.

Kendati begitu, Roni mengaku selama berselancar di hutan, memang tidak mudah menemukan pohon yang bisa dijadikan bonsai. Sehingga butuh kejelian. Di lain sisi, sedikit banyak harus paham seni. Bersama temannya, dia pun minimal mendapatkan lima pohon yang dijadikan bahan baku bonsai setiap hari.

Baca Juga :  Pembalap Tour de Indonesia 2018 Diguyur Hujan hingga Finis

’’Karena bonsai itu nilai seninya terlalu tinggi. Membutuhkan pohon yang berkarakter,’’ tambahnya. Dengan demikian, bisnis bonsai dewasa ini memiliki peluang yang sangat tinggi. Sebab, tak sedikit kolektor tanaman hias yang masih memburunya. Terbukti, sekarang dalam memenuhi kebutuhan hidup keseharian tak lain didapatnya dari hasil usaha bonsai.

Bahkan, hasil kreasinya tak jarang dikirim ke kota-kota besar di Jawa. Seperti Surabaya, Gresik, dan kota lainnya. Dia bahkan belum mampu memenuhi permintaan pasar. Selain karena ketersedian barang, juga keterbatasan tenaga. ’’Khusunya jenis serut. Selama ini, harga dan permintaannya tetap stabil dibanding bonsai jenis lainnya,’’ tandasnya.

Harganya jualnya pun bervariasi. Termurah dipatok Rp 100 ribu hingga dibanderol Rp 500 ribu. Dari nilai itu, tanaman belum menjadi bonsai, melainkan pohon baru didapat dari hutan. ’’Harga ditentukan karakter pohon. Karakternya makin bagus harganya mengikuti. Pokoknya, kalau bagus, saya posting satu jam sudah banyak yang tanya dan jenis itu cepat laku,’’ pungkasnya. 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/