alexametrics
22.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Hasilkan Lukisan Kanvas yang Original hingga Sistem Moving

Lukisan karya anak-anak menawarkan goresan kejujuran yang unik. Begitu juga pelukis cilik satu ini, Tiara Putri Widyawati, yang sering berduet dengan ayahnya, Hari Widiarto. Sejumlah karya mereka gampang ditemui di beberapa ruang publik. 

SEJUMLAH sudut tempat publik di Kota Mojokerto kini banyak dihiasi lukisan. Dinding-dinding kampung, lorong gang sempit, dinding sekolahan, hingga dinding pagar kantor instansi pemerintahan.

Temanya bermacam-macam. Namun kebanyakan, tema keseharian yang diangkat. Seperti menjaga lingkungan sekitar, menjaga kerukunan, semangat bekerja, beribadah, hingga kampanye kesehatan.

Gaya lukisan itu realis. Tak sedikit yang lucu dan menarik perhatian. Orang dewasa hingga anak-anak pun gampang memahaminya.

Pun demikian seperti lukisan dinding alias mural di salah satu dinding instansi pemerintahan di Jalan Bhayangkara. Lukisannya bercerita tentang suasana perkotaan yang ceria.

Dengan gedung-gedung yang berdiri tegak. Lengkap dengan ciri khas budaya setempat. Mural itu karya Hari Widiarto dengan anaknya Tiara Putri Widyawati.

Selain itu, warga Mentikan Gang 1 No 144 Kota Mojokerto ini kerap diminta melukis pula di sekolahan. ’’Sejak Tiara SMP dia ingin membantu ayahnya. Karena, dia suka sekali melukis,’’ ujar Hari kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Baca Juga :  Terbengkalai, Bangunan Belanda Bakal Ditempati Lagi

Pria 49 tahun ini menceritakan, anaknya Tiara sedari kecil sudah terlihat suka menggambar. Sejak usia 5 tahun suka mencorat-coret dinding rumah. Lantas, pria yang pernah mengenyam pendidikan seni di ISI Jogja ini lantas mengarahkan anaknya pada media kertas.

’’Rupanya, bakat itu berlanjut. Ketika sekolah dasar sering ikut lomba melukis. Mulai regional hingga Nasional,’’ cerita bapak dua putri ini.

Sewaktu masih SD kelas 4 karya Tiara media kertas dengan krayon sudah dikoleksi Menteri Kesehatan RI dan Bambang Sulistomo, putra pahlawan Nasional Bung Tomo.

’’Itu ketika dalam rangka penilaian UKS Nasional,’’ sebut guru ekstrakurikuler melukis ini. Di tingkat SMP, Tiara, 16, lebih tertarik membikin karya lukisan.

Dan, dia sering kali mengikuti pameran lukisan. Yang teranyar, dia sempat ikut pameran dalam rangka Pasar Seni Lukis Surabaya, bulan lalu. Selain itu, dia tertarik membantu ayahnya ketika membikin lukisan dinding alias mural.

Soal kesukaanya duet ini, diakui Hari, berjalan alamiah. Tiara yang kini duduk di SMKN 1 Kota Mojokerto kelas X ini memang ingin membantu ayahnya melukis.

’’Yang jelas, antara ide ayah dengan ide anak ini berbeda. Kita satukan. Biasanya ide itu spontan muncul di lokasi,’’ beber pria yang pernah berjualan lukisan sketsa di Malioboro Jogjakarta ini.

Baca Juga :  Catat Sejarah Baru

Meski demikian, diakuinya, gaya lukis mereka lebih didominasi gaya Tiara. Gaya lukis anak yang mengandalkan kejujuran dalam menggoreskan kuas. Selain itu, gaya lukis anaknya itu sangat bergantung pula dengan mood.

’’Lukisan anak itu cenderung menawarkan kejujuran. Tapi, gayanya tetap realis,’’ terang Hari. Pada waktu longgar, Tiara juga sering membantu Hari mengajar di sanggar seni kepunyaannya.

Sanggar lukis di Mentikan itu biasa mengajari anak-anak kecil. Tiara memeberikan arahan kepada anak-anak setingkat SD dan TK yang belajar menggambar.

Beberapa hari lalu, Tiara mengikuti pameran lukisan besutan Dinas Pendidikan Kota Mojokerto. Acara digelar di Hutan Kota Mojokerto, Kelurahan Pulorejo. Beberapa karyanya yang dipajang dilirik banyak kalangan.

’’Salah satunya ada yang dibeli Kejari Kota,’’ sambungnya seraya menyebutkan tema lukisan berupa delapan anak yang mengenggam lambang Surya Majapahit.

Sekarang ini, Hari dan Tiara ingin meningkatkan duet lukisannya. Tidak hanya menggunakan media dinding atau seni mural. Namun, pada media kanvas. Sehingga, bisa menghasilkan lukisan kanvas duet yang original.

’’Duet di kanvas, kami sudah pernah ngobrol. Gambarannya, jadi ada beberapa kanvas dengan sistem moving atau saling susul menyusul,’’ tutur Hari.

 

Lukisan karya anak-anak menawarkan goresan kejujuran yang unik. Begitu juga pelukis cilik satu ini, Tiara Putri Widyawati, yang sering berduet dengan ayahnya, Hari Widiarto. Sejumlah karya mereka gampang ditemui di beberapa ruang publik. 

SEJUMLAH sudut tempat publik di Kota Mojokerto kini banyak dihiasi lukisan. Dinding-dinding kampung, lorong gang sempit, dinding sekolahan, hingga dinding pagar kantor instansi pemerintahan.

Temanya bermacam-macam. Namun kebanyakan, tema keseharian yang diangkat. Seperti menjaga lingkungan sekitar, menjaga kerukunan, semangat bekerja, beribadah, hingga kampanye kesehatan.

Gaya lukisan itu realis. Tak sedikit yang lucu dan menarik perhatian. Orang dewasa hingga anak-anak pun gampang memahaminya.

- Advertisement -

Pun demikian seperti lukisan dinding alias mural di salah satu dinding instansi pemerintahan di Jalan Bhayangkara. Lukisannya bercerita tentang suasana perkotaan yang ceria.

Dengan gedung-gedung yang berdiri tegak. Lengkap dengan ciri khas budaya setempat. Mural itu karya Hari Widiarto dengan anaknya Tiara Putri Widyawati.

Selain itu, warga Mentikan Gang 1 No 144 Kota Mojokerto ini kerap diminta melukis pula di sekolahan. ’’Sejak Tiara SMP dia ingin membantu ayahnya. Karena, dia suka sekali melukis,’’ ujar Hari kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Baca Juga :  Tersebar di Lima Lapangan

Pria 49 tahun ini menceritakan, anaknya Tiara sedari kecil sudah terlihat suka menggambar. Sejak usia 5 tahun suka mencorat-coret dinding rumah. Lantas, pria yang pernah mengenyam pendidikan seni di ISI Jogja ini lantas mengarahkan anaknya pada media kertas.

’’Rupanya, bakat itu berlanjut. Ketika sekolah dasar sering ikut lomba melukis. Mulai regional hingga Nasional,’’ cerita bapak dua putri ini.

Sewaktu masih SD kelas 4 karya Tiara media kertas dengan krayon sudah dikoleksi Menteri Kesehatan RI dan Bambang Sulistomo, putra pahlawan Nasional Bung Tomo.

’’Itu ketika dalam rangka penilaian UKS Nasional,’’ sebut guru ekstrakurikuler melukis ini. Di tingkat SMP, Tiara, 16, lebih tertarik membikin karya lukisan.

Dan, dia sering kali mengikuti pameran lukisan. Yang teranyar, dia sempat ikut pameran dalam rangka Pasar Seni Lukis Surabaya, bulan lalu. Selain itu, dia tertarik membantu ayahnya ketika membikin lukisan dinding alias mural.

Soal kesukaanya duet ini, diakui Hari, berjalan alamiah. Tiara yang kini duduk di SMKN 1 Kota Mojokerto kelas X ini memang ingin membantu ayahnya melukis.

’’Yang jelas, antara ide ayah dengan ide anak ini berbeda. Kita satukan. Biasanya ide itu spontan muncul di lokasi,’’ beber pria yang pernah berjualan lukisan sketsa di Malioboro Jogjakarta ini.

Baca Juga :  Tracking Favorit Kaum Milenial

Meski demikian, diakuinya, gaya lukis mereka lebih didominasi gaya Tiara. Gaya lukis anak yang mengandalkan kejujuran dalam menggoreskan kuas. Selain itu, gaya lukis anaknya itu sangat bergantung pula dengan mood.

’’Lukisan anak itu cenderung menawarkan kejujuran. Tapi, gayanya tetap realis,’’ terang Hari. Pada waktu longgar, Tiara juga sering membantu Hari mengajar di sanggar seni kepunyaannya.

Sanggar lukis di Mentikan itu biasa mengajari anak-anak kecil. Tiara memeberikan arahan kepada anak-anak setingkat SD dan TK yang belajar menggambar.

Beberapa hari lalu, Tiara mengikuti pameran lukisan besutan Dinas Pendidikan Kota Mojokerto. Acara digelar di Hutan Kota Mojokerto, Kelurahan Pulorejo. Beberapa karyanya yang dipajang dilirik banyak kalangan.

’’Salah satunya ada yang dibeli Kejari Kota,’’ sambungnya seraya menyebutkan tema lukisan berupa delapan anak yang mengenggam lambang Surya Majapahit.

Sekarang ini, Hari dan Tiara ingin meningkatkan duet lukisannya. Tidak hanya menggunakan media dinding atau seni mural. Namun, pada media kanvas. Sehingga, bisa menghasilkan lukisan kanvas duet yang original.

’’Duet di kanvas, kami sudah pernah ngobrol. Gambarannya, jadi ada beberapa kanvas dengan sistem moving atau saling susul menyusul,’’ tutur Hari.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/