alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Monday, May 16, 2022

Money Politic Pilkades Berubah Nama Jadi Paket Internet

PUNGGING, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kontestan politik di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, berlangsung serentak sempat bergejolak. Itu setelah pendukung salah satu calon kades tertangkap basah diduga melakukan money politics untuk menggerus suara lawan.

Bahkan, atas dugaan ini, sejumlah warga yang terlibat sempat diamankan dan dibawa Mapolres Mojokerto untuk menjalani pemeriksaan. ’’Iya, betul sempat ada yang tertangkap basah bagi-bagi amplop,’’ ungkap SP, warga setempat.

Peristiwa ini berlangsung sekitar pukul 09.30 di Dusun Kalitengah, Desa Bangun, Kecamatan Pungging. Ini terjadi saat salah satu pendukung calon memergoki pendukung calon lain yang mendatangi warga sekitar. Tidak hanya untuk mencari dukungan, oknum tersebut juga diduga bermain politik uang untuk menggerus suara lawan pada pemungutan suara yang berlangsung Rabu (23/10) . ’’Modusnya, buat beli paketan. Tapi, diingatkan jangan lupa pilih salah satu calon. Kalau nilainya Rp 150 ribu,’’ paparnya.

Namun, karena tidak sesuai kesepakan awal, ketegangan sempat terjadi. Mereka yang tak terima dengan praktik curang tersebut lantas membawa keduanya ke kantor desa untuk dilakukan klarifikasi sekaligus mediasi.

Baca Juga :  Berjuang Melawan Kanker Tulang, Relakan Satu Kaki Diamputasi

Kegaduhan itu juga menjadi perhatian muspika. Di antaranya, Kapolsek Pungging, Danramil Pungging, dan Camat Pungging. Mereka yang mendapat laporan atas dugaan transaksi money politics pada pendukung salah satu calon lantas merapat ke desa setempat. Sekaligus untuk mendinginkan suasana, agar tak bergejolak.

Namun, upaya  mediasi tak menemukan jalan tengah. Salah satu calon yang merasa dirugikan atas tindakan dugaan bagi-bagi uang tersebut bersikeras melanjutkan sesuai aturan hukum yang berlaku. ’’Sebagai jalan tengah agar situasi tetap kondusif dan tidak makin memanas, mereka yang terlibat langsung dibawa ke polres untuk dilakukan pemeriksaan,’’ paparnya.

Dia menambahkan, ada dua oknum warga diduga terlibat. Masing-masing berinisial, PN, diduga sebagai pemberi uang, dan JK, sebagai penerima. ’’Selain dua orang itu. Ada juga warga yang ikut ke polres sebagai saksi. Sebenarnyakan, sesuai perjanjian kedua calon kades sudah sepakat tidak pakai politik uang. Tapi, ternyata di lapangan berbeda,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Surat Suara Tidak Sah Tinggi, Desak Hitung Ulang

Sementara itu, Kapolsek Pungging AKP Suwiji membenarkan adanya dugaan politik uang di tengah pelaksanaan pilkades. Hanya saja, kasus dugaan money politics itu langsung ditangani di tim gakkumdu (penegak hukum terpadu) Polres Mojokerto. ’’Sudah lanjut dan langsung ditangani polres, karena kan yang menangani kan gakkumdu,’’ ungkapnya.

Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP M. Solikhin Fery, menambahkan, hingga kemarin penyidik belum menemukan adanya unsur money politics terkait peristiwa yang terjadi di Desa Bangun tersebut. ’’Belum. Itu bukan money politics. Tapi, ini masih kita dalami,’’ ungkapnya.

Ia menjelaskan, sejumlah orang yang dibawa ke Mapolres Mojokerto pada Selasa (22/10) malam, hanya untuk diperiksa sekaligus untuk mengonfirmasi fakta kejadian. ’’Tapi bukan money politics,’’ tegasnya.

Pun demikian dengan insiden serupa di Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, yang sebelumnya sempat diisukan terjadi hal serupa. ’’Belum ada unsur money politics. Masih cukup awam untuk itu, karena pembuktiannya harus cukup,’’ tandasnya.

PUNGGING, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kontestan politik di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, berlangsung serentak sempat bergejolak. Itu setelah pendukung salah satu calon kades tertangkap basah diduga melakukan money politics untuk menggerus suara lawan.

Bahkan, atas dugaan ini, sejumlah warga yang terlibat sempat diamankan dan dibawa Mapolres Mojokerto untuk menjalani pemeriksaan. ’’Iya, betul sempat ada yang tertangkap basah bagi-bagi amplop,’’ ungkap SP, warga setempat.

Peristiwa ini berlangsung sekitar pukul 09.30 di Dusun Kalitengah, Desa Bangun, Kecamatan Pungging. Ini terjadi saat salah satu pendukung calon memergoki pendukung calon lain yang mendatangi warga sekitar. Tidak hanya untuk mencari dukungan, oknum tersebut juga diduga bermain politik uang untuk menggerus suara lawan pada pemungutan suara yang berlangsung Rabu (23/10) . ’’Modusnya, buat beli paketan. Tapi, diingatkan jangan lupa pilih salah satu calon. Kalau nilainya Rp 150 ribu,’’ paparnya.

Namun, karena tidak sesuai kesepakan awal, ketegangan sempat terjadi. Mereka yang tak terima dengan praktik curang tersebut lantas membawa keduanya ke kantor desa untuk dilakukan klarifikasi sekaligus mediasi.

Baca Juga :  Salah Satu Pelaku Pungli Merupakan Calon Kepala Desa

Kegaduhan itu juga menjadi perhatian muspika. Di antaranya, Kapolsek Pungging, Danramil Pungging, dan Camat Pungging. Mereka yang mendapat laporan atas dugaan transaksi money politics pada pendukung salah satu calon lantas merapat ke desa setempat. Sekaligus untuk mendinginkan suasana, agar tak bergejolak.

Namun, upaya  mediasi tak menemukan jalan tengah. Salah satu calon yang merasa dirugikan atas tindakan dugaan bagi-bagi uang tersebut bersikeras melanjutkan sesuai aturan hukum yang berlaku. ’’Sebagai jalan tengah agar situasi tetap kondusif dan tidak makin memanas, mereka yang terlibat langsung dibawa ke polres untuk dilakukan pemeriksaan,’’ paparnya.

- Advertisement -

Dia menambahkan, ada dua oknum warga diduga terlibat. Masing-masing berinisial, PN, diduga sebagai pemberi uang, dan JK, sebagai penerima. ’’Selain dua orang itu. Ada juga warga yang ikut ke polres sebagai saksi. Sebenarnyakan, sesuai perjanjian kedua calon kades sudah sepakat tidak pakai politik uang. Tapi, ternyata di lapangan berbeda,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Pilkades Serentak, Banyak Petahana Tumbang

Sementara itu, Kapolsek Pungging AKP Suwiji membenarkan adanya dugaan politik uang di tengah pelaksanaan pilkades. Hanya saja, kasus dugaan money politics itu langsung ditangani di tim gakkumdu (penegak hukum terpadu) Polres Mojokerto. ’’Sudah lanjut dan langsung ditangani polres, karena kan yang menangani kan gakkumdu,’’ ungkapnya.

Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP M. Solikhin Fery, menambahkan, hingga kemarin penyidik belum menemukan adanya unsur money politics terkait peristiwa yang terjadi di Desa Bangun tersebut. ’’Belum. Itu bukan money politics. Tapi, ini masih kita dalami,’’ ungkapnya.

Ia menjelaskan, sejumlah orang yang dibawa ke Mapolres Mojokerto pada Selasa (22/10) malam, hanya untuk diperiksa sekaligus untuk mengonfirmasi fakta kejadian. ’’Tapi bukan money politics,’’ tegasnya.

Pun demikian dengan insiden serupa di Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, yang sebelumnya sempat diisukan terjadi hal serupa. ’’Belum ada unsur money politics. Masih cukup awam untuk itu, karena pembuktiannya harus cukup,’’ tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/