alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Thursday, July 7, 2022

OJK Turut Jaga Pasar Modal dan Pertumbuhan Ekonomi

Gelar Media Gathering dengan 30 Media Massa

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Surabaya mengadakan gathering dan diskusi bersama 30 wartawan dari berbagai platform media cetak, online, radio dan televisi di The Westin Hotel Surabaya, Senin (23/5).

Acara bertema “Ngobrol santai bareng wartawan” ini dihadiri oleh Bambang Mukti Riyadi Kepala Kantor OJK Regional 4 Jawa Timur,Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A-OJK Luthfy Zain Fuady, dan I Gede Nyoman Yetna Direktur Penilaian perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI)

Selain sebagai ajang silahturahmi kegiatan ini juga membahas sampai sejauh mana kebijakan yang dikeluarkan oleh OJK memiliki peran penting terhadap pasar modal untuk mencapai percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Kepala OJK Surabaya, Bambang Mukti Riyadi dalam sambutannya menjelaskan, Jawa timur merupakan basis investasi kedua setelah Jakarta. “Jawa Timur memiliki potensi karena nilai investasi dari tahun ke tahun meningkat terus. Jumlah investor Jatim saat ini tercatat sebagai nomor dua nasional atau mencapai 1,14 Juta SID (Single Investor Identification). Dan yang menarik sebesar 60,29% pertumbuhan investor secara nasional di dominasi kalangan milenial usia di bawah 30 tahun,” ucapnya.

Selain itu, ia juga menyampaikan, Jatim merupakan provinsi penyumbang 14% PDB nasional dan 70% penduduk Jatim berada di usia produktif. PAD (Pendapatan Asli Daerah) Jawa Timur merupakan yang tertinggi dibanding provinsi lain di Indonesia.

Baca Juga :  OJK Sebut Masyarakat Kian Bantu UMKM via Securities Crowdfunding

Lebih lanjut ia menegaskan, OJK optimis sepanjang tahun 2022, kinerja Pasar Modal masih akan mencatatkan pertumbuhan yang positif. “Oleh karena itu tahun ini OJK menargetkan total penghimpunan dana bisa mencapai Rp.115 triliun,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A-OJK Luthfy Zain Fuady memaparkan, mengenai aspek pengambilan kebijakan merespon dampak covid 19 agar stabilitas Pasar Modal tetap terjaga.

“Dalam rangka merespon dampak pandemi covid-19, OJK fokus kepada tiga kebijakan antara lain relaksasi bagi pelaku Industri Pasar Modal IPM), pengendalian volatilitas dan menjaga kestabilan sistem keuangan. Serta, memberikan kemudahan perizinan dan penyampaian dokumen,” jelasnya.

Sejak pandemi, bursa saham di indonesia mengalami tren negatif sehingga OJK sebagai regulator berusaha untuk menstabilkan. Di antaranya dengan mengeluarkan peraturan perundang-undangan agar pelaku usaha tetap bisa menjalankan bisnisnya.

“Cobaan covid saat ini membuat beberapa indikator ekonomi di tahun 2020 mengalami penurunan sehingga di tahun ini dilakukan perbaikan agar indikator naik dan recovery bisa lebih cepat,” ujarnya.

Baca Juga :  Khazanah Kudapan Caelifera, Kandungan Proteinnya Dikenal Tinggi

Menurut hasil survei yang dikeluarkan Asian Development Bank (ADB) pada Juli 2020 sebanyak 50 persen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia menutup usaha. Dan, 88 persen UMKM tidak lagi memiliki kas atau tabungan serta 60 persen UMKM mengurangi tenaga kerjanya.

Sedangkan hasil survei Bank Indonesia menunjukan total 77,95 persen UMKM di Indonesia terdampak pandemi. “Hal ini tentunya sangat menghawatirkan bagi perekonomian Nasional karena menurut Kementrian Koperasi, UMKM di Indonesia berkontribusi sebesar 61,07 persen terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) dan 97 psrsen terhadap penyerapan tenaga kerja,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, berbagai kebijakan telah dikeluarkan oleh OJK dan regulator selama pandemi agar mampu menjaga perekonomian nasional dan sektor jasa keuangan tetap stabil. “Kebijakan itu sebagai wujud nyata OJK terhadap UMKM,” imbuhnya.

Pada sesi penghujung, Direktur Penilaian perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna memaparkan, tentang new ekonomi bagaimana pasar modal Indonesia bisa mengakomodasi perusahan-perusahan yang memiliki inovasi dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Luthfy Zain Fuady saat menyampaian paparan. (Niko Suseno/jawaposradarmojokerto.id)

“Pasar modal diharapkan menjadi wahana rumah pertumbuhan bukan hanya untuk perusahan besar tetapi juga untuk perusahaan menengah kecil,” tutupnya. (*)

Gelar Media Gathering dengan 30 Media Massa

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Surabaya mengadakan gathering dan diskusi bersama 30 wartawan dari berbagai platform media cetak, online, radio dan televisi di The Westin Hotel Surabaya, Senin (23/5).

Acara bertema “Ngobrol santai bareng wartawan” ini dihadiri oleh Bambang Mukti Riyadi Kepala Kantor OJK Regional 4 Jawa Timur,Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A-OJK Luthfy Zain Fuady, dan I Gede Nyoman Yetna Direktur Penilaian perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI)

Selain sebagai ajang silahturahmi kegiatan ini juga membahas sampai sejauh mana kebijakan yang dikeluarkan oleh OJK memiliki peran penting terhadap pasar modal untuk mencapai percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Kepala OJK Surabaya, Bambang Mukti Riyadi dalam sambutannya menjelaskan, Jawa timur merupakan basis investasi kedua setelah Jakarta. “Jawa Timur memiliki potensi karena nilai investasi dari tahun ke tahun meningkat terus. Jumlah investor Jatim saat ini tercatat sebagai nomor dua nasional atau mencapai 1,14 Juta SID (Single Investor Identification). Dan yang menarik sebesar 60,29% pertumbuhan investor secara nasional di dominasi kalangan milenial usia di bawah 30 tahun,” ucapnya.

Selain itu, ia juga menyampaikan, Jatim merupakan provinsi penyumbang 14% PDB nasional dan 70% penduduk Jatim berada di usia produktif. PAD (Pendapatan Asli Daerah) Jawa Timur merupakan yang tertinggi dibanding provinsi lain di Indonesia.

Baca Juga :  HUT Ke-76, BNI Gelar Akad 5.476 Debitur FLPP
- Advertisement -

Lebih lanjut ia menegaskan, OJK optimis sepanjang tahun 2022, kinerja Pasar Modal masih akan mencatatkan pertumbuhan yang positif. “Oleh karena itu tahun ini OJK menargetkan total penghimpunan dana bisa mencapai Rp.115 triliun,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A-OJK Luthfy Zain Fuady memaparkan, mengenai aspek pengambilan kebijakan merespon dampak covid 19 agar stabilitas Pasar Modal tetap terjaga.

“Dalam rangka merespon dampak pandemi covid-19, OJK fokus kepada tiga kebijakan antara lain relaksasi bagi pelaku Industri Pasar Modal IPM), pengendalian volatilitas dan menjaga kestabilan sistem keuangan. Serta, memberikan kemudahan perizinan dan penyampaian dokumen,” jelasnya.

Sejak pandemi, bursa saham di indonesia mengalami tren negatif sehingga OJK sebagai regulator berusaha untuk menstabilkan. Di antaranya dengan mengeluarkan peraturan perundang-undangan agar pelaku usaha tetap bisa menjalankan bisnisnya.

“Cobaan covid saat ini membuat beberapa indikator ekonomi di tahun 2020 mengalami penurunan sehingga di tahun ini dilakukan perbaikan agar indikator naik dan recovery bisa lebih cepat,” ujarnya.

Baca Juga :  Rental Alat Mendaki Cocok untuk Pemula

Menurut hasil survei yang dikeluarkan Asian Development Bank (ADB) pada Juli 2020 sebanyak 50 persen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia menutup usaha. Dan, 88 persen UMKM tidak lagi memiliki kas atau tabungan serta 60 persen UMKM mengurangi tenaga kerjanya.

Sedangkan hasil survei Bank Indonesia menunjukan total 77,95 persen UMKM di Indonesia terdampak pandemi. “Hal ini tentunya sangat menghawatirkan bagi perekonomian Nasional karena menurut Kementrian Koperasi, UMKM di Indonesia berkontribusi sebesar 61,07 persen terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) dan 97 psrsen terhadap penyerapan tenaga kerja,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, berbagai kebijakan telah dikeluarkan oleh OJK dan regulator selama pandemi agar mampu menjaga perekonomian nasional dan sektor jasa keuangan tetap stabil. “Kebijakan itu sebagai wujud nyata OJK terhadap UMKM,” imbuhnya.

Pada sesi penghujung, Direktur Penilaian perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna memaparkan, tentang new ekonomi bagaimana pasar modal Indonesia bisa mengakomodasi perusahan-perusahan yang memiliki inovasi dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Luthfy Zain Fuady saat menyampaian paparan. (Niko Suseno/jawaposradarmojokerto.id)

“Pasar modal diharapkan menjadi wahana rumah pertumbuhan bukan hanya untuk perusahan besar tetapi juga untuk perusahaan menengah kecil,” tutupnya. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/