alexametrics
24.2 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Tak Ada Biaya, Mampu Lahirkan Dalang Kelas Nasional

Seni tradisional kian ditinggalkan. Pun demikian dengan dunia pedalangan. Posisi sentral di pewayangan ini tak banyak dilirik. Di Dawarblandong, seorang pria paro baya merasa terpanggil. Tanpa biaya, ia sibuk mengajari puluhan bocah agar menjadi seorang dalang yang andal.

MARTDA VADETYA, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto 

Di rumah sederhana, di Dusun Jombangan, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong, suara gending terdengar mengalun merdu. Sore itu, sejumlah bocah tengah latihan karawitan.

Itulah rumah Sriyono. Sejak 21 tahun silam, rumah itu konsisten menjadi wadah bagi para bocah untuk belajar dunia pewayangan. Mulai dalang, karawitan, tari hingga bermain musik pendamping wayang.

Selama itu pula, Sriyono telah sukses melahirkan dalang andal. Yakni, Purnawan. Dalang yang kini sudah bukan lagi seorang bocah itu sudah banyak memakan asam garam dalam dunia perdalangan. Purnawan juga pernah tercatat sebagai dalang cilik terbaik tingkat nasional.

Baca Juga :  Kepercayaan Sapta Darma Tak Lagi Dompleng Agama Lain

Saat ini, sebanyak 20 bocah masih berguru di rumah Sriyono. Bocah itu ada yang masih duduk di kelas 2 SD, hingga SMP.

Sriyono bukan tanpa alasan mendirikan Sanggar Budaya Candra Siswa ini. Pria paro baya itu mengaku, memoles anak menjadi dalang bukanlah tujuan utamanya. Ada tujuan lain di balik itu. Yakni mencetak anak lebih kecerdasan, kedewasaan, dan karakter melalui media wayang.

Sebab, menurutnya, berbagai keterampilan dalam seni wayang dapat memicu kecerdasan anak. ”Salah satunya menceritakan kisah atau karakter pewayangan yang punya penekanan tersendiri,” sebutnya.

Dengan mendalami tokoh pewayangan, karakter dan kepribadian anak turut terbentuk. Menurut Sriyono, dengan mendalami peran dan kisah dari pewayangan, para anak dapat merespon dan peka terhadap masalah. ”Yang terutama itu mendidik budi pekerti anak,” imbuhnya.

Baca Juga :  Disanksi Tiga Tahun, PSMP Ngotot Ajukan PK

Guru SDN Banyulegi itu menyebutkan, membimbing anak menjadi dalang cilik bukanlah hal mudah. Apalagi dunia dan karakter anak selalu berbeda. Sriyono punya cara tersendiri agar bisa menebar ilmunya.

Salah satunya dengan menunjukkan pendekatan pada anak. ”Itu harus kita lakukan pada anak dan para orang tua. Selain itu juga harus memahami psikologisnya. Kalau gak gitu, bakal susah,” bebernya. Belajar dalang di sanggar ini, juga tak dipungut biaya sepeser pun.

Seni tradisional kian ditinggalkan. Pun demikian dengan dunia pedalangan. Posisi sentral di pewayangan ini tak banyak dilirik. Di Dawarblandong, seorang pria paro baya merasa terpanggil. Tanpa biaya, ia sibuk mengajari puluhan bocah agar menjadi seorang dalang yang andal.

MARTDA VADETYA, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto 

Di rumah sederhana, di Dusun Jombangan, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong, suara gending terdengar mengalun merdu. Sore itu, sejumlah bocah tengah latihan karawitan.

Itulah rumah Sriyono. Sejak 21 tahun silam, rumah itu konsisten menjadi wadah bagi para bocah untuk belajar dunia pewayangan. Mulai dalang, karawitan, tari hingga bermain musik pendamping wayang.

Selama itu pula, Sriyono telah sukses melahirkan dalang andal. Yakni, Purnawan. Dalang yang kini sudah bukan lagi seorang bocah itu sudah banyak memakan asam garam dalam dunia perdalangan. Purnawan juga pernah tercatat sebagai dalang cilik terbaik tingkat nasional.

Baca Juga :  Keindahan Hutan Pinus Puthuk Panggang Welut Memikat Wisatawan

Saat ini, sebanyak 20 bocah masih berguru di rumah Sriyono. Bocah itu ada yang masih duduk di kelas 2 SD, hingga SMP.

- Advertisement -

Sriyono bukan tanpa alasan mendirikan Sanggar Budaya Candra Siswa ini. Pria paro baya itu mengaku, memoles anak menjadi dalang bukanlah tujuan utamanya. Ada tujuan lain di balik itu. Yakni mencetak anak lebih kecerdasan, kedewasaan, dan karakter melalui media wayang.

Sebab, menurutnya, berbagai keterampilan dalam seni wayang dapat memicu kecerdasan anak. ”Salah satunya menceritakan kisah atau karakter pewayangan yang punya penekanan tersendiri,” sebutnya.

Dengan mendalami tokoh pewayangan, karakter dan kepribadian anak turut terbentuk. Menurut Sriyono, dengan mendalami peran dan kisah dari pewayangan, para anak dapat merespon dan peka terhadap masalah. ”Yang terutama itu mendidik budi pekerti anak,” imbuhnya.

Baca Juga :  Gantikan Peran Pasar Pahing, Penanda Berlakunya Retribusi

Guru SDN Banyulegi itu menyebutkan, membimbing anak menjadi dalang cilik bukanlah hal mudah. Apalagi dunia dan karakter anak selalu berbeda. Sriyono punya cara tersendiri agar bisa menebar ilmunya.

Salah satunya dengan menunjukkan pendekatan pada anak. ”Itu harus kita lakukan pada anak dan para orang tua. Selain itu juga harus memahami psikologisnya. Kalau gak gitu, bakal susah,” bebernya. Belajar dalang di sanggar ini, juga tak dipungut biaya sepeser pun.

Artikel Terkait

Most Read

Kejar Rekom, Ikfina Temui Pentolan PDI-P

Truk Terseret, Sopir Terjepit

Pemkab Prioritaskan Pemulihan Ekonomi

Artikel Terbaru


/