
Tidak hanya kunjungan biasa, Ganjar juga datang untuk menjalankan salah satu program andalannya, yakni hilirisasi pertanian untuk menuju kedaulatan pangan.
Di wilayah tersebut Ganjar menggandeng Koperasi Desa Sejahtera Indonesia (Kodesi) milik Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Papdesi), menginisiasi pembangunan pabrik teh premium di Desa Tegallega Kecamatan Warung Kondang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Diketahui, Ganjar merupakan Dewan Pembina Papdesi. ”Pabrik teh ini akan memproduksi teh premium yang kami beri merek Teh GP. Itu kepanjangan dari Teh Gede Pangrango, karena wilayah ini ada di kaki Gunung Gede dan Pangrango,” kata Fery Kurniawan, konsultan pabrik.
Pabrik teh itu nantinya akan dikelola oleh anak-anak muda. Sementara, sebagai pilot project pabrik ini akan mengelola empat hektare kebun teh dan direncanakan memproduksi 200 kg daun teh per hari.
”Untuk harganya, karena ini teh premium maka sangat tinggi. Tentu dengan hasil ini, akan membuat para petani teh di desa ini semakin sejahtera,” ucapnya.
Para anak muda petani milenial yang akan dilibatkan dalam program itu mengaku sangat senang.
Sebab dengan adanya program pemberdayaan masyarakat ini, maka ekonomi masyarakat yang mayoritas adalah petani teh itu akan bertambah.
”Tentu kami sangat antusias sekali karena Pak Ganjar menginisiasi ini untuk masyarakat. Dan kami anak muda dilibatkan menjadi motor penggerak. Harapannya tentu kami anak muda tidak perlu ke kota untuk bekerja, tapi bisa berkarya di desa dengan pendapatan tak kalah dengan mereka yang ada di kota,” ucap Nandri Rivaldi (29), salah satu petani milenial Desa Tegallega.
Sementara itu, Ganjar mengatakan bahwa banyak potensi di desa yang bisa dioptimalkan.
Contohnya di Desa Tegallega, di mana ada potensi perkebunan teh yang bisa dikelola lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat.
"Mereka siap membuat pabrik teh dengan produk teh premium atau special tea. Tentu ini contoh konkret bagaimana kita melakukan hilirisasi pertanian yang kita harapkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Ini keren,” ucapnya.
Dan yang menarik lagi, lanjut Ganjar, pabrik teh itu dikelola bekerjasama dengan Kodesi, koperasi desa binaan Papdesi.
Jika program ini berhasil, maka bisa diterapkan dan dikembangkan di desa-desa lain di seluruh Indonesia.
"Sangat mungkin dikembangkan di desa lain, tentu dengan unit usaha dan kearifan lokal masing-masing. Kalau semua bisa melakukan itu, maka bisa kita bayangkan betapa besarnya pendapatan yang dihasilkan,” jelasnya.
Sementara itu, di Kota Mojokerto terdapat kelurahan yang memiliki program Pelakor Intens atau akronim dari Pelatihan Kelor Inovatif, Tepat Guna, dan Sinergi yang dilakukan dengan berkolaborasi dengan lintas sektor.
Program ini bekerja sama Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Kencana Kelurahan Pulorejo untuk memberi pelatihan dan pendampingan kepada warga terkait pemanfaatan sekaligus pengolahan daun kelor.
Kelurahan ini memiliki tanaman kelor yang melimpah. Selain yang ditanam di lahan aset Pemkot Mojokerto seluas kurang lebih 800 meter persegi, warga sekitar juga memanfaatkan pekarangan untuk ditanam tanaman berjuluk ”pohon sejuta manfaat” tersebut.
Guna meningkatkan nilai jual tanaman kelor, maka daun dikreasikannya menjadi berbagai olahan produk makanan.
Berbekal peralatan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Mojokerto, daun kelor bisa dikreasikan hingga menjadi 13 produk olahan. Mulai dari bubuk kelor, teh kelor, kue kering, cake, stik kelor hingga aneka frozen food lainnya. (*/fen)

