alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Duet Gelandang Terbaik

POSISI gelandang memegang peranan penting dalam tim sepak bola. Karenanya, kontribusi duet gelandang selalu bisa menjadi pembeda hingga mereka menjadi sumber inspirasi.

Roy Keane-Paul Scholes di Manchester United tahun 1993-2005 tergolong sebagai salah satu duet paling berkelas di dunia.  Keduanya saling berbagi tugas di sektor tengah. Berkat performa apik keduanya, MU berhasil menjuarai Liga Primer Inggris sebanyak tujuh kali ketika Keane dan Scholes ada di dalam skuad.

Duet Xavi Hernandez-Andres Iniesta di Barcelona mulai tahun 2002-2015 juga terhitung duet gelandang terbaik. Xavi dan Iniesta dikenal dengan kombinasi duet bertubuh mungil dengan passing sempurna. Tak hanya di Barca, mereka juga berduet di timnas Spanyol. Permainan bola-bola pendek dari kaki ke kaki kerap hadir dari dua pemain Spanyol ini. Di Euro 2012, Xavi memecahkan rekor operan dalam sejarah Piala Eropa dengan 136 kali (127 sukses, tingkat keberhasilan 94 persen).

Baca Juga :  Airlangga: Indonesia Tak Mudah Terpolarisasi karena Berpedoman Alquran

Di laga tersebut melawan Irlandia itu, Xavi dan Iniesta melepaskan 229 operan.  Ricardo Kaka- Clareence Seedorf di AC Milan tahun 2003-2009 adalah kombinasi gelandang paling sukses il Rossoneri hingga merajai di Liga Italia dan Eropa. Mereka membantu merengkuh trofi Coppa Italia pertamanya dalam 26 tahun. Pada 2004, Scudetto juga berhasil digenggam dan 2007 mereka menggondol Liga Champions.

Duet Xabi Alonso-Steven Gerrard di Liverpool tahun 2004-2009 bersama Pelatih Liverpool Rafael Benitez sangat efektif dalam menjaga stabilitas serangan. Xabi Alonso ditugaskan untuk melakukan pertahanan sekaligus mendistribusikan bola ke para penyerang dan sayap  Liverpool. Sementara Steven Gerrard bermain lebih bebas dan diplot untuk mendukung daya gedor striker di lini depan.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Pemerintah Pacu Industri Halal lewat Penguatan Ekosistem

Alhasil di musim debut Alonso bersama Liverpool, ia sukses menjuarai Liga Champions melalui drama adu penalti pada  2005. Xabi Alonso juga membantu The Reds menjuarai Piala FA, dan Community Shield.  

Terakhir duet Luka Modric-Casemiro di Real Madrid yang dinilai solid dan saling mengisi satu sama lain. Luka Modric bertugas mendistribusikan bola ke berbagai arah.

Sedangkan Casemiro bertugas memutus serangan lawan. Hasilnya  jelas, mereka menjuarai Liga Champions empat kali dalam lima musim dan merengkuh gelar La Liga. Pada 2017 lalu disebut sebagai salah satu musim terbaik Real Madrid sepanjang sejarah klub. (far/ron)

*dikutip dari berbagai sumber

 

POSISI gelandang memegang peranan penting dalam tim sepak bola. Karenanya, kontribusi duet gelandang selalu bisa menjadi pembeda hingga mereka menjadi sumber inspirasi.

Roy Keane-Paul Scholes di Manchester United tahun 1993-2005 tergolong sebagai salah satu duet paling berkelas di dunia.  Keduanya saling berbagi tugas di sektor tengah. Berkat performa apik keduanya, MU berhasil menjuarai Liga Primer Inggris sebanyak tujuh kali ketika Keane dan Scholes ada di dalam skuad.

Duet Xavi Hernandez-Andres Iniesta di Barcelona mulai tahun 2002-2015 juga terhitung duet gelandang terbaik. Xavi dan Iniesta dikenal dengan kombinasi duet bertubuh mungil dengan passing sempurna. Tak hanya di Barca, mereka juga berduet di timnas Spanyol. Permainan bola-bola pendek dari kaki ke kaki kerap hadir dari dua pemain Spanyol ini. Di Euro 2012, Xavi memecahkan rekor operan dalam sejarah Piala Eropa dengan 136 kali (127 sukses, tingkat keberhasilan 94 persen).

Baca Juga :  Airlangga: Indonesia Tak Mudah Terpolarisasi karena Berpedoman Alquran

Di laga tersebut melawan Irlandia itu, Xavi dan Iniesta melepaskan 229 operan.  Ricardo Kaka- Clareence Seedorf di AC Milan tahun 2003-2009 adalah kombinasi gelandang paling sukses il Rossoneri hingga merajai di Liga Italia dan Eropa. Mereka membantu merengkuh trofi Coppa Italia pertamanya dalam 26 tahun. Pada 2004, Scudetto juga berhasil digenggam dan 2007 mereka menggondol Liga Champions.

Duet Xabi Alonso-Steven Gerrard di Liverpool tahun 2004-2009 bersama Pelatih Liverpool Rafael Benitez sangat efektif dalam menjaga stabilitas serangan. Xabi Alonso ditugaskan untuk melakukan pertahanan sekaligus mendistribusikan bola ke para penyerang dan sayap  Liverpool. Sementara Steven Gerrard bermain lebih bebas dan diplot untuk mendukung daya gedor striker di lini depan.

Baca Juga :  Ajak Milenial Terjun ke Sektor Pertanian

Alhasil di musim debut Alonso bersama Liverpool, ia sukses menjuarai Liga Champions melalui drama adu penalti pada  2005. Xabi Alonso juga membantu The Reds menjuarai Piala FA, dan Community Shield.  

- Advertisement -

Terakhir duet Luka Modric-Casemiro di Real Madrid yang dinilai solid dan saling mengisi satu sama lain. Luka Modric bertugas mendistribusikan bola ke berbagai arah.

Sedangkan Casemiro bertugas memutus serangan lawan. Hasilnya  jelas, mereka menjuarai Liga Champions empat kali dalam lima musim dan merengkuh gelar La Liga. Pada 2017 lalu disebut sebagai salah satu musim terbaik Real Madrid sepanjang sejarah klub. (far/ron)

*dikutip dari berbagai sumber

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/