alexametrics
31.1 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Jamal Bantah Ada Pengaturan Skor dalam Penalti Janggal

MOJOKERTO – Kegagalan PS Mojokerto Putra (PSMP) melaju ke babak semifinal Liga 2 musim 2018 terus menjadi buah bibir di tengah masyarakat luas.

Selain karena kekalahan yang tak disangka, juga soal kejanggalan eksekusi penalti di menit ke-88 saat melawan Aceh United di pertandingan terakhir babak 8 besar, Senin (19/11) lalu.

Hingga disebut pertandingan itu terindikasi ada permainan di balik layar yang sengaja dilakukan The Lasmojo. Namun pelatih kepala PSMP Jamal Yastro membantah.

Menurutnya, semua tim yang lolos di babak 8 besar pasti pernah mengalami situasi sulit seperti tim besutannya. Kebutuhan hasil seri bukan berarti mudah direalisasikan anak asuhnya demi mengantarkan The Lasmojo lolos ke babak 4 besar.

Selain karena beban berat, kesiapan mental pemain juga menjadi faktor penentu atas hasil yang bakal dicapai sebuah tim. ’’Tidak ada tim yang menginginkan kekalahan.

Baca Juga :  Anggota Dewan Saling Berebut Posisi Jabatan

Dan tidak ada pemain yang sengaja agar timnya kalah. Seperti melakukan tendangan penalti yang sengaja tidak dimasukkan,’’ ungkapnya, kemarin (22/11).

Jamal menjelaskan, sebelum pertandingan dimulai, tim pelatih sebenarnya sudah menentukan siapa yang akan menjadi eksekutor jika mendapatkan hadiah penalti. Ada tiga nama yang diajukan.

Pertama adalah Indra Setiawan, kedua Haris Tuharea, dan ketiga Djayusman Triasdi. Namun saat penalti benar-benar diberikan wasit akibat ada pelanggaran di kotak terlarang, ketiga pemain menyatakan diri tak siap secara mental.

Indra yang sudah mencetak dua gol sebelumnya memilih mengalah untuk diberikan kepada rekan lainnya. Sementara Haris tak bisa menendang karena tengah dalam perawatan medis di tepi lapangan.

Sedangkan Djayusman mengaku sudah down mental di menit-menit akhir jelang laga usai. Kondisi ini yang memaksa Krisna muncul sebagai algojo alternatif.

Baca Juga :  Venesia ala Mojokerto, Sungai Harus Bebas Sampah

Pemain bernomor punggung 9 tersebut dinilai lebih siap lantaran baru saja turun di lapangan setelah menggantikan Samsul Pelu di menit ke-82. Akan tetapi, kesiapan mental ternyata tidak sepenuhnya menentukan hasil.

’’Krisna lebih siap pada saat itu. Akan tetapi saya tegaskan tidak ada unsur kesengajaan saat menendang bola. Karena setelah gagal, semua pemain menangis. Ini semua situsional. Terkait isu pengaturan skor, saya tepis itu tidak ada,’’ tambahnya.

Ia pun membantah tudingan soal pilihan ’’mengalah’’ demi meloloskan Kalteng Putra. ’’Tidak ada itu (mengalah). Kalau memang ada pengaturan skor, seharusnya kita pilih menang saja. Saat ini, pemain saya liburkan sementara sebelum persiapan menghadapi Piala Presiden,’’ pungkasnya.

 

MOJOKERTO – Kegagalan PS Mojokerto Putra (PSMP) melaju ke babak semifinal Liga 2 musim 2018 terus menjadi buah bibir di tengah masyarakat luas.

Selain karena kekalahan yang tak disangka, juga soal kejanggalan eksekusi penalti di menit ke-88 saat melawan Aceh United di pertandingan terakhir babak 8 besar, Senin (19/11) lalu.

Hingga disebut pertandingan itu terindikasi ada permainan di balik layar yang sengaja dilakukan The Lasmojo. Namun pelatih kepala PSMP Jamal Yastro membantah.

Menurutnya, semua tim yang lolos di babak 8 besar pasti pernah mengalami situasi sulit seperti tim besutannya. Kebutuhan hasil seri bukan berarti mudah direalisasikan anak asuhnya demi mengantarkan The Lasmojo lolos ke babak 4 besar.

- Advertisement -

Selain karena beban berat, kesiapan mental pemain juga menjadi faktor penentu atas hasil yang bakal dicapai sebuah tim. ’’Tidak ada tim yang menginginkan kekalahan.

Baca Juga :  Anggota Dewan Saling Berebut Posisi Jabatan

Dan tidak ada pemain yang sengaja agar timnya kalah. Seperti melakukan tendangan penalti yang sengaja tidak dimasukkan,’’ ungkapnya, kemarin (22/11).

Jamal menjelaskan, sebelum pertandingan dimulai, tim pelatih sebenarnya sudah menentukan siapa yang akan menjadi eksekutor jika mendapatkan hadiah penalti. Ada tiga nama yang diajukan.

Pertama adalah Indra Setiawan, kedua Haris Tuharea, dan ketiga Djayusman Triasdi. Namun saat penalti benar-benar diberikan wasit akibat ada pelanggaran di kotak terlarang, ketiga pemain menyatakan diri tak siap secara mental.

Indra yang sudah mencetak dua gol sebelumnya memilih mengalah untuk diberikan kepada rekan lainnya. Sementara Haris tak bisa menendang karena tengah dalam perawatan medis di tepi lapangan.

Sedangkan Djayusman mengaku sudah down mental di menit-menit akhir jelang laga usai. Kondisi ini yang memaksa Krisna muncul sebagai algojo alternatif.

Baca Juga :  Bodro Saworo dan Menggapai Keberkahan Kiai

Pemain bernomor punggung 9 tersebut dinilai lebih siap lantaran baru saja turun di lapangan setelah menggantikan Samsul Pelu di menit ke-82. Akan tetapi, kesiapan mental ternyata tidak sepenuhnya menentukan hasil.

’’Krisna lebih siap pada saat itu. Akan tetapi saya tegaskan tidak ada unsur kesengajaan saat menendang bola. Karena setelah gagal, semua pemain menangis. Ini semua situsional. Terkait isu pengaturan skor, saya tepis itu tidak ada,’’ tambahnya.

Ia pun membantah tudingan soal pilihan ’’mengalah’’ demi meloloskan Kalteng Putra. ’’Tidak ada itu (mengalah). Kalau memang ada pengaturan skor, seharusnya kita pilih menang saja. Saat ini, pemain saya liburkan sementara sebelum persiapan menghadapi Piala Presiden,’’ pungkasnya.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/