alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Friday, May 20, 2022

Media Curhat Sekaligus Jaring Perhatian

Bisa dikatakan media sosial (medsos) sudah menjadi bagian hidup masyarakat saat ini. Terutama bagi kaum milenial. Belakangan ini medsos difungsikan layaknya buku catatan harian alias diari. Bahkan, cenderung digunakan memancing perhatian publik hingga menimbulkan ketergantungan.

Seperti Anggita, 23. Perempuan asal Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto itu mengaku mulai aktif menggunakan sejumlah medsos sejak 2013. Ia memiliki sejumlah akun medsos sejak duduk di bangku SMP kala itu. Yakni, facebook, twitter, instagram, whatsapp (WA), line, hingga pinterest. Meski begitu, saat ini tak semua medsos digunakan. Instagram, WA, dan twitter jadi prioritas belakangan ini. ’’Yang paling sering ya WA. Lainnya sudah jarang, bisa beberapa bulan atau setahun baru update,” sebutnya.

Setidaknya, dalam sehari ia bisa update dua hingga lima status di medsos besutan google itu. Kontennya, tak jauh-jauh aktivitas sehari-harinya. Tak jarang ia menyalurkan unek-uneknya atau permasalahan yang dialaminya melalui medsos tersebut.  Baik berupa foto maupun video. Diakuinya, perilaku bermedia sosial itu punya maksud tersendiri. Salah satunya guna menggaet perhatian publik.

Baca Juga :  Kelakuane Bojoku Pancen Ngunu, Kerjone Turu Wae

’’Suka aja, kayak diary. Tapi kadang juga biar diperhatiin orang,’’ bebernya sembari tersenyum lebar. Saat tengah disibukkan dengan sejumlah aktivitas, perempuan kelahiran 1998 ini pernah absen meng-update medsos. Hal itu justru mengganjal perasaannya. Tak lain lantaran sudah terbiasa memenuhi medsosnya dengan sejumlah status yang di-posting. ’’Pernah waktu nggak update gara-gara aktivitas cukup sibuk. Tapi kalau ingat belum update ya rasanya ada yang kurang,’’ terangnya.

Begitupun yang dirasakannya ketika medsos yang digunakannya tengah down maupun smartphone yang milikinya tengah bermasalah. ’’Kalau (medsos) lagi down ya bingung sendiri. Buka HP gak ada yang bisa dilihat, apalagi kalau HP-nya lagi rusak. Rasanya ada yang kurang,’’ imbuhnya. Saat utak-atik smartphone, mayoritas kegiatan yang ia lakukan adalah mengakses media sosial. Bahkan, ia merasa cemas saat smartphone tak berada dalam genggamannya.

Baca Juga :  Purwo Santoso Mulai Rancang Program, Sentil Parkir Berlangganan

Tak pelak, dari perilaku bermedsosnya itu, Anggita bisa dikatakan mengalami ketergantungan dalam bermedia sosial. ’’Iya, Termasuk ketergantungan. Kalau gak pegang HP lima menit aja sudah panik,’’ paparnya. Tingginya intensitas mengakses medsos tersebut dinilai mempengaruhi pengeluaran untuk pembelian paket data internet. Setidaknya, ia harus merogoh kocek Rp 50 ribu perbulan untuk membeli paket data internet. ’’Itu dapat 12 GB. Ya kebantu juga sama beberapa tempat yang ada fasilitas wifi gratisnya,’’ tukas Anggita. (vad/fen)

Bisa dikatakan media sosial (medsos) sudah menjadi bagian hidup masyarakat saat ini. Terutama bagi kaum milenial. Belakangan ini medsos difungsikan layaknya buku catatan harian alias diari. Bahkan, cenderung digunakan memancing perhatian publik hingga menimbulkan ketergantungan.

Seperti Anggita, 23. Perempuan asal Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto itu mengaku mulai aktif menggunakan sejumlah medsos sejak 2013. Ia memiliki sejumlah akun medsos sejak duduk di bangku SMP kala itu. Yakni, facebook, twitter, instagram, whatsapp (WA), line, hingga pinterest. Meski begitu, saat ini tak semua medsos digunakan. Instagram, WA, dan twitter jadi prioritas belakangan ini. ’’Yang paling sering ya WA. Lainnya sudah jarang, bisa beberapa bulan atau setahun baru update,” sebutnya.

Setidaknya, dalam sehari ia bisa update dua hingga lima status di medsos besutan google itu. Kontennya, tak jauh-jauh aktivitas sehari-harinya. Tak jarang ia menyalurkan unek-uneknya atau permasalahan yang dialaminya melalui medsos tersebut.  Baik berupa foto maupun video. Diakuinya, perilaku bermedia sosial itu punya maksud tersendiri. Salah satunya guna menggaet perhatian publik.

Baca Juga :  Mendag RI Lutfi Galang Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN

’’Suka aja, kayak diary. Tapi kadang juga biar diperhatiin orang,’’ bebernya sembari tersenyum lebar. Saat tengah disibukkan dengan sejumlah aktivitas, perempuan kelahiran 1998 ini pernah absen meng-update medsos. Hal itu justru mengganjal perasaannya. Tak lain lantaran sudah terbiasa memenuhi medsosnya dengan sejumlah status yang di-posting. ’’Pernah waktu nggak update gara-gara aktivitas cukup sibuk. Tapi kalau ingat belum update ya rasanya ada yang kurang,’’ terangnya.

Begitupun yang dirasakannya ketika medsos yang digunakannya tengah down maupun smartphone yang milikinya tengah bermasalah. ’’Kalau (medsos) lagi down ya bingung sendiri. Buka HP gak ada yang bisa dilihat, apalagi kalau HP-nya lagi rusak. Rasanya ada yang kurang,’’ imbuhnya. Saat utak-atik smartphone, mayoritas kegiatan yang ia lakukan adalah mengakses media sosial. Bahkan, ia merasa cemas saat smartphone tak berada dalam genggamannya.

Baca Juga :  Andy-Ade Ria Janji Tingkatkan SDM dan Ekonomi

Tak pelak, dari perilaku bermedsosnya itu, Anggita bisa dikatakan mengalami ketergantungan dalam bermedia sosial. ’’Iya, Termasuk ketergantungan. Kalau gak pegang HP lima menit aja sudah panik,’’ paparnya. Tingginya intensitas mengakses medsos tersebut dinilai mempengaruhi pengeluaran untuk pembelian paket data internet. Setidaknya, ia harus merogoh kocek Rp 50 ribu perbulan untuk membeli paket data internet. ’’Itu dapat 12 GB. Ya kebantu juga sama beberapa tempat yang ada fasilitas wifi gratisnya,’’ tukas Anggita. (vad/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/