alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Wayang Tobong Asal Negeri Tiongkok: Angkat Kisah Naga Api

ALUNAN suara rebab terdengar diantara bising kendaraanyang lalu lalang melintas di Jalan PB Sudirman dan Jalan Residen Pamuji.Suara musik itu mengalun melodik khas asal negeri Tiongkok.

Dilengkapi terompet klasik, suaranya kian menyerupai klarinet.Suara itu terdengar dari alunan musik yang dimainkan sekelompok pemusik khusus untuk mengiringi pertunjukan wayang tobong.

Memang, grup wayang tobong khas Tiongkok ini sedang menggelar pentas di halaman Kelenteng Hok Sian Kiong, Kota Mojokerto, Kamis (19/9) malam. Ya, Kota Mojokerto merupakan miniatur Indonesia.Meski secara administratur hanya terdiri dari tiga kecamatan, namun di dalamnya terdapat beragam suku dan etnis.

Karenanya, kesenian tradisi khas Tiongkok, seperti wayang potehi masihdilestarikan dikota kecil ini. Lie Chan, salah satu pengunjung,mengatakan, sejak puluhan tahun silam pertunjukan wayang potehi di kelenteng sudah ada.Animo penontonpun selalu ramai.

Baca Juga :  Mindo Sianipar, Berdayakan Masyarakat Pertanian secara Holistik

Tak hanya dari warga keturunan Tionghoa yang menikmati, mereka yang datang juga dari kalangan Jawa, pribumi, dan Madura. ”Mereka sama-sama turut meramaikan pekan budaya Tionghoa yang rutin digelar setiap tahun di kelenteng ini,” ungkapnya Lie Chan.

Para pemain musik dan dalang wayang potehi rata-rata dari etnis Jawa. Widodo Santoso, sang dalang wayang potehi,diketahuiberasal dari Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Malam itu, mereka membawakan cerita pewayangan dengan apik.

Di jeda acara, sang dalang menuturkan, pertunjunkan wayang potehi di kelenteng ini terhitung sudah cukup lama.Sekali padatnya jadwal pesanan, waktu pertunjukan bisa menghabiskan waktu sampai tiga bulan.”Berdasarkan jumlah penanggap.Dan, dalam satu lakon yang dipentaskan sesuai permintaan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Simbol Kerajaan dan Elegan

Seperti yang tertera dipapan tapsia atau pemesan.Menyebutkan, malam itu, Kamis  (19/9), pentas wayang mengangkat lakon Kisah Naga Api.Menceritakan di balik berdirinya Dinasti Song Tiauw. Kisah itu adalah pesanan dari keluarga Tien Tjingwan. Untuk meramaikan pertunjukan wayang potehi,biasa disertai dengan stan-stan bazar.Banyak menu kuliner tersajiyang dapat dinikmati para pengunjung.

Di antaranya, bakwan, capjai, sate babi, dan nasi goreng babi. ”Tapi, tenang saja, banyak makanan yang halal disediakan bagi umat muslim,” ungkap Lie. Seperti sate ayam dan soto babat. Menu-menu tradisional itu siap disantap kapan saja sembari menikmati pertunjukan wayang dengan nuansa kedamaian dan kekeluargaan. 

 

 

 

 

 

 

ALUNAN suara rebab terdengar diantara bising kendaraanyang lalu lalang melintas di Jalan PB Sudirman dan Jalan Residen Pamuji.Suara musik itu mengalun melodik khas asal negeri Tiongkok.

Dilengkapi terompet klasik, suaranya kian menyerupai klarinet.Suara itu terdengar dari alunan musik yang dimainkan sekelompok pemusik khusus untuk mengiringi pertunjukan wayang tobong.

Memang, grup wayang tobong khas Tiongkok ini sedang menggelar pentas di halaman Kelenteng Hok Sian Kiong, Kota Mojokerto, Kamis (19/9) malam. Ya, Kota Mojokerto merupakan miniatur Indonesia.Meski secara administratur hanya terdiri dari tiga kecamatan, namun di dalamnya terdapat beragam suku dan etnis.

Karenanya, kesenian tradisi khas Tiongkok, seperti wayang potehi masihdilestarikan dikota kecil ini. Lie Chan, salah satu pengunjung,mengatakan, sejak puluhan tahun silam pertunjukan wayang potehi di kelenteng sudah ada.Animo penontonpun selalu ramai.

Baca Juga :  Tunggu Restu Gubernur

Tak hanya dari warga keturunan Tionghoa yang menikmati, mereka yang datang juga dari kalangan Jawa, pribumi, dan Madura. ”Mereka sama-sama turut meramaikan pekan budaya Tionghoa yang rutin digelar setiap tahun di kelenteng ini,” ungkapnya Lie Chan.

Para pemain musik dan dalang wayang potehi rata-rata dari etnis Jawa. Widodo Santoso, sang dalang wayang potehi,diketahuiberasal dari Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Malam itu, mereka membawakan cerita pewayangan dengan apik.

- Advertisement -

Di jeda acara, sang dalang menuturkan, pertunjunkan wayang potehi di kelenteng ini terhitung sudah cukup lama.Sekali padatnya jadwal pesanan, waktu pertunjukan bisa menghabiskan waktu sampai tiga bulan.”Berdasarkan jumlah penanggap.Dan, dalam satu lakon yang dipentaskan sesuai permintaan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Lupakan Catatan di Atas Kertas

Seperti yang tertera dipapan tapsia atau pemesan.Menyebutkan, malam itu, Kamis  (19/9), pentas wayang mengangkat lakon Kisah Naga Api.Menceritakan di balik berdirinya Dinasti Song Tiauw. Kisah itu adalah pesanan dari keluarga Tien Tjingwan. Untuk meramaikan pertunjukan wayang potehi,biasa disertai dengan stan-stan bazar.Banyak menu kuliner tersajiyang dapat dinikmati para pengunjung.

Di antaranya, bakwan, capjai, sate babi, dan nasi goreng babi. ”Tapi, tenang saja, banyak makanan yang halal disediakan bagi umat muslim,” ungkap Lie. Seperti sate ayam dan soto babat. Menu-menu tradisional itu siap disantap kapan saja sembari menikmati pertunjukan wayang dengan nuansa kedamaian dan kekeluargaan. 

 

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/