alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 17, 2022

Kenalkan PLTMH Seloliman, Ikut Lomba Makan Kerupuk

HIDUP jauh dari keluarga dan sanak saudara cukup menjadi tantangan sendiri bagi seseorang perantau. Bukan hanya makanan dan cuaca, perbedaan budaya dan bahasa juga menjadi faktor penentu kesuksesan seseorang. Pengalaman itu yang kini dijalani 9 siswa SMAN 1 Puri yang menjalani misi edukasi di Wittmund Jerman. 

Tak terbersit sekali pun dalam benak mereka bisa menginjakkan kaki di benua biru Eropa. Terbang sejak 8 Agustus lalu, sembilan remaja asal Mojokerto ini masih tak percaya jika mereka sudah hampir sebulan tinggal di negeri bekas Nazi, Jerman. Situasi tersebut yang menjadi pengalaman tersendiri di antara kekaguman lain yang dirasakan sembilan siswa selama menjalani program pertukaran pelajar bersama perwakilan sembilan negara lain di dunia.

Ya, sembilan siswa beserta dua guru asal SMAN 1 Puri Mojokerto terpilih sebagai kelompok pelajar perwakilan Indonesia dalam program pertukaran pelajar yang digagas KGS Wittmund, sebuah lembaga sosial asal Jerman yang bergerak di bidang pengolahan Sumber Daya Alam. Selama 20 hari, sembilan siswa tersebut menjalani kegiatan belajar mengajar dan berkumpul bersama siswa asli Jerman dalam satu sekolah.

Baca Juga :  Modifikasi Honda NSR-150R Tahun 1997

Tak hanya sekolah biasa, mereka juga dituntut mampu menceritakan pengalaman dan kegiatan mereka kepada siswa Jerman tentang pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam di Mojokerto. ’’Program pertukaran pelajar di KGS Wittmund Jerman dan bertemu dengan peserta pelajar lainnya dari Kenya, Argentina, Ukraina dan beberapa negara perwakilan Amerika, Afrika dan Asia,’’ terang Deviana, salah satu guru yang ikut mendampingi sembilan siswa SMAN 1 Puri.

Devi menceritakan, selain sekolah biasa setiap hari, sembilan siswanya juga diajak mengikuti berbagai kegiatan lain yang tak pernah dialami sebelumnya. Seminar dan debat yang membahas tentang kesetaraan gender dan penyelamatan bumi dari pemanasan global menjadi tema asik yang terus dibahas sembilan siswa tersebut bersama puluhan siswa dari negara lain. Lalu mereka juga diajak berkunjung ke beberapa tempat bersejarah.

Seperti museum teknologi, pembangkit listrik, hingga pengolahan air bersih. ’’Tidak hanya debat biasa, tapi juga menciptakan solusi ke depannya soal dampak dari global warming. Kita sendiri menceritakan tentang PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikro hidro) yang ada di Seloliman Trawas,’’ ungkapnya.

Meski hanya pertukaran biasa, bukan berarti perjalanan sembilan siswa kelas XII Bahasa di Jerman tanpa hambatan. Benturan budaya atas pergaulan remaja menjadi salah satu faktor terbesar godaan sembilan remaja ini. Remaja Jerman sangat kental dengan gaya pemikiran liberal dan kebebasan berekspresi tanpa batas.

Baca Juga :  Persiapan PTM, Gelar Vaksinasi dan Datangkan GeNose Pertama di Jatim

Hal ini yang seringkali tak diterimakan sembilan siswa Puri dengan beberapa penolakan. Seperti mengunjungi diskotik atau pub setelah sekolah dan minum minuman keras. ’’Anak-anak bisa masuk ke pergaulan remaja di Jerman cuma tidak bisa ke ranah yang arahnya liberal seperti diskotik dan lainnya. Saya sebagai guru sudah me-wanti-wanti sejak awal,’’ tambah Deviana lagi.

Saat peringatan HUT Kemerdekaan Ke-72 RI, 17 Agustus lalu, sembilan siswa juga diundang oleh KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Hamburg dan Berlin. Selain upacara kemerdekaan, mereka juga diajak ikut lomba dan permainan seperti makan kerupuk, lomba balon hingga lomba joget dangdut.

Kunjungan itu sekaligus untuk mengakrabkan sembilan siswa dengan warga Indonesia yang tinggal di Jerman. ’’Sebenarnya tidak hanya belajar, kita juga mengenalkan seni dan budaya seperti tari remo, masakan khas Indonesia seperti sate dan nasi goreng. Pihak KBRI juga mengundang kami,’’ pungkasnya.

HIDUP jauh dari keluarga dan sanak saudara cukup menjadi tantangan sendiri bagi seseorang perantau. Bukan hanya makanan dan cuaca, perbedaan budaya dan bahasa juga menjadi faktor penentu kesuksesan seseorang. Pengalaman itu yang kini dijalani 9 siswa SMAN 1 Puri yang menjalani misi edukasi di Wittmund Jerman. 

Tak terbersit sekali pun dalam benak mereka bisa menginjakkan kaki di benua biru Eropa. Terbang sejak 8 Agustus lalu, sembilan remaja asal Mojokerto ini masih tak percaya jika mereka sudah hampir sebulan tinggal di negeri bekas Nazi, Jerman. Situasi tersebut yang menjadi pengalaman tersendiri di antara kekaguman lain yang dirasakan sembilan siswa selama menjalani program pertukaran pelajar bersama perwakilan sembilan negara lain di dunia.

Ya, sembilan siswa beserta dua guru asal SMAN 1 Puri Mojokerto terpilih sebagai kelompok pelajar perwakilan Indonesia dalam program pertukaran pelajar yang digagas KGS Wittmund, sebuah lembaga sosial asal Jerman yang bergerak di bidang pengolahan Sumber Daya Alam. Selama 20 hari, sembilan siswa tersebut menjalani kegiatan belajar mengajar dan berkumpul bersama siswa asli Jerman dalam satu sekolah.

Baca Juga :  10 Napi Bebas Lebih Cepat

Tak hanya sekolah biasa, mereka juga dituntut mampu menceritakan pengalaman dan kegiatan mereka kepada siswa Jerman tentang pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam di Mojokerto. ’’Program pertukaran pelajar di KGS Wittmund Jerman dan bertemu dengan peserta pelajar lainnya dari Kenya, Argentina, Ukraina dan beberapa negara perwakilan Amerika, Afrika dan Asia,’’ terang Deviana, salah satu guru yang ikut mendampingi sembilan siswa SMAN 1 Puri.

- Advertisement -

Devi menceritakan, selain sekolah biasa setiap hari, sembilan siswanya juga diajak mengikuti berbagai kegiatan lain yang tak pernah dialami sebelumnya. Seminar dan debat yang membahas tentang kesetaraan gender dan penyelamatan bumi dari pemanasan global menjadi tema asik yang terus dibahas sembilan siswa tersebut bersama puluhan siswa dari negara lain. Lalu mereka juga diajak berkunjung ke beberapa tempat bersejarah.

Seperti museum teknologi, pembangkit listrik, hingga pengolahan air bersih. ’’Tidak hanya debat biasa, tapi juga menciptakan solusi ke depannya soal dampak dari global warming. Kita sendiri menceritakan tentang PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikro hidro) yang ada di Seloliman Trawas,’’ ungkapnya.

Meski hanya pertukaran biasa, bukan berarti perjalanan sembilan siswa kelas XII Bahasa di Jerman tanpa hambatan. Benturan budaya atas pergaulan remaja menjadi salah satu faktor terbesar godaan sembilan remaja ini. Remaja Jerman sangat kental dengan gaya pemikiran liberal dan kebebasan berekspresi tanpa batas.

Baca Juga :  Pendaftaran Pilbup Dibuka, Syarat Bapaslon Harus Lengkap dan Sah

Hal ini yang seringkali tak diterimakan sembilan siswa Puri dengan beberapa penolakan. Seperti mengunjungi diskotik atau pub setelah sekolah dan minum minuman keras. ’’Anak-anak bisa masuk ke pergaulan remaja di Jerman cuma tidak bisa ke ranah yang arahnya liberal seperti diskotik dan lainnya. Saya sebagai guru sudah me-wanti-wanti sejak awal,’’ tambah Deviana lagi.

Saat peringatan HUT Kemerdekaan Ke-72 RI, 17 Agustus lalu, sembilan siswa juga diundang oleh KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Hamburg dan Berlin. Selain upacara kemerdekaan, mereka juga diajak ikut lomba dan permainan seperti makan kerupuk, lomba balon hingga lomba joget dangdut.

Kunjungan itu sekaligus untuk mengakrabkan sembilan siswa dengan warga Indonesia yang tinggal di Jerman. ’’Sebenarnya tidak hanya belajar, kita juga mengenalkan seni dan budaya seperti tari remo, masakan khas Indonesia seperti sate dan nasi goreng. Pihak KBRI juga mengundang kami,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/