alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Dari Rujakan Muncul Pasukan Hizbullah

PASCA 17 Agustus 1945, negeri ini belum sepenuhnya merdeka. Perlawanan dari penjajah kian beringas. Mojokerto pun, tak luput dari serbuan lawan. 

Kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia menjadi titik balik revolusi Indonesia. Masyarakat Mojokerto menyambut kabar gembira tersebut dengan berkumpul di Alun-Alun Kota Mojokerto.

Semalam sebelumnya, KH Achyat Chalimy tengah bercengkerama dengan Munasir, dan Samsoemadyan di surau di Desa Miji, Kota Mojokerto. Mendadak kebersamaannya tersentak setelah kedatangan Mansur Solikhi dengan terburu-buru.

Mansur dengan napas tersengal-sengal menceritakan, dia baru saja mendengar kabar gembira dari pesawat radio. ”Saya baru saja mendengar radio, tadi pagi Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sekarang kita sudah punya Negara sendiri. Negara yang dipimpin dan dijalankan oleh bangsa kita sendiri. Allahu akbar! Allahu akbar!,” cerita Mansur berapi-api.

Kiai Achyat sempat sangsi. Tapi, Mansur yang mendengar kabar itu dua kali setelah Magrib dan Isya meyakinkan mereka. Achyat lantas mengajak kawan seperjuangannya sujud syukur di surau. Kabar gembira itu pun disebarkan ke masyarakat, terutama teman-teman Ansor di Kota Mojokerto.

Baca Juga :  Tunggu Daftar di KPU, Gus Barra Jadi Khatib Salat Jumat

Sehari setelah proklamasi, tanpa ada komando resmi, Alun-Alun Kota Mojokerto mendadak dipenuhi massa. Mereka berduyun-duyun mendatangi pusat kota itu. Di situ, mereka bersorak-sorak, mengumandangkan takbir. Sebagian di antaranya masih berbisik-bisik soal kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Maklum, di dekat alun-alun sebelah utara bermukim Kantor Kompetai, markas militer yang dijaga sedadu Jepang. Malam harinya, surau di Jalam Miji yang biasa dipakai tempat kumpul para anggota Ansor. Di situ, seluruh senjata yang sempat dirampas dari markas Jepang diusulkan Achyat agar dikumpulkan di suatu tempat.

Achyat juga meminta kawan-kawan Hizbullah menjalin koordinasi dengan tokoh Ansor di Surabaya. Upaya koordinasi itu untuk membentuk dan menata Laskar Hizbullah. Termasuk, membagi wilayah dan tugas di area Surabaya, Mojokerto, Gresik, Sidoarjo, dan Pasuruan.

Tak dinyana, koordinasi penataan keamanan itu sejalan dengan mulai bermunculannya tentara sekutu di Surabaya. Hotel tempat menginap mereka dikibarkan bendera merah-putih-biru. Tindakan itu memantik reaksi keras arek-arek Surabaya. Setelah itu, pasukan India yang menjadi tentara Inggris berdatangan di Surabaya.

Kemunculan pasukan Inggris dan tentara Belanda yang berkamuflase kian memantik reaksi rakyat Indonesia. Maklum, kedatangan pasukan militer itu dipandang sebagai ancaman. Lebih-lebih itu terjadi setelah proklamasi Indonesia. Puncaknya, ketika perundingan yang digelar di Hotel International berujung kericuhan.

Baca Juga :  Tim Futsal Kota Dirampingkan

Kabar menyeruak, pimpinan pasukan Inggris Jenderal Mallaby tewas. Ada pula yang menyebutkan, jenderal itu tidak tewas tapi diculik arek-arek Suroboyo. Alhasil, ketegangan demi ketegangan memuncak pada 10 November 1945. Pertempuran maha dahsyat pun akhirnya pecah.

’’Kabar dari radio tentang perang dunia kedua menjadi materi bahasan yang kerap muncul,” ungkap Amin Solihin, salah satu anggota penyusun buku KH Achyat Chalimy, Berjuang Tanpa Akhir. Pembicaraan selepas salat di surau itu menjadi aktivitas ”wajib”. Benar tidaknya informasi atau kabar radio yang didengar menjadi bahasan bersama, disambi liwetan.

Tak dinyana, aktivitas itu ide-ide segar kerap muncul. ”Suatu ketika, di tengah-tengah ngrujak, Achyat usul agar dibuat latihan pencak silat dan baris berbaris,” sambung Amin. Usul itu diterima. Hingga kemudian berkembang dari 12 orang menjadi puluhan hingga ratusan pemuda militan. Belakangan, anak-anak muda inilah yang tergabung dalam Laskar Rakyat Hizbullah.

Kumpulan pasukan yang dibikin dari aktivitas rujakan ini nyatanya berperan penting dalam perang kemerdekaan 10 November 1945. Di tahun-tahun berikutnya, Laskar Hizbullah juga memiliki peran penting dalam perang-perang mempertahankan kemerdekaan.

PASCA 17 Agustus 1945, negeri ini belum sepenuhnya merdeka. Perlawanan dari penjajah kian beringas. Mojokerto pun, tak luput dari serbuan lawan. 

Kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia menjadi titik balik revolusi Indonesia. Masyarakat Mojokerto menyambut kabar gembira tersebut dengan berkumpul di Alun-Alun Kota Mojokerto.

Semalam sebelumnya, KH Achyat Chalimy tengah bercengkerama dengan Munasir, dan Samsoemadyan di surau di Desa Miji, Kota Mojokerto. Mendadak kebersamaannya tersentak setelah kedatangan Mansur Solikhi dengan terburu-buru.

- Advertisement -

Mansur dengan napas tersengal-sengal menceritakan, dia baru saja mendengar kabar gembira dari pesawat radio. ”Saya baru saja mendengar radio, tadi pagi Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sekarang kita sudah punya Negara sendiri. Negara yang dipimpin dan dijalankan oleh bangsa kita sendiri. Allahu akbar! Allahu akbar!,” cerita Mansur berapi-api.

Kiai Achyat sempat sangsi. Tapi, Mansur yang mendengar kabar itu dua kali setelah Magrib dan Isya meyakinkan mereka. Achyat lantas mengajak kawan seperjuangannya sujud syukur di surau. Kabar gembira itu pun disebarkan ke masyarakat, terutama teman-teman Ansor di Kota Mojokerto.

Baca Juga :  Tunggu Daftar di KPU, Gus Barra Jadi Khatib Salat Jumat

Sehari setelah proklamasi, tanpa ada komando resmi, Alun-Alun Kota Mojokerto mendadak dipenuhi massa. Mereka berduyun-duyun mendatangi pusat kota itu. Di situ, mereka bersorak-sorak, mengumandangkan takbir. Sebagian di antaranya masih berbisik-bisik soal kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Maklum, di dekat alun-alun sebelah utara bermukim Kantor Kompetai, markas militer yang dijaga sedadu Jepang. Malam harinya, surau di Jalam Miji yang biasa dipakai tempat kumpul para anggota Ansor. Di situ, seluruh senjata yang sempat dirampas dari markas Jepang diusulkan Achyat agar dikumpulkan di suatu tempat.

Achyat juga meminta kawan-kawan Hizbullah menjalin koordinasi dengan tokoh Ansor di Surabaya. Upaya koordinasi itu untuk membentuk dan menata Laskar Hizbullah. Termasuk, membagi wilayah dan tugas di area Surabaya, Mojokerto, Gresik, Sidoarjo, dan Pasuruan.

Tak dinyana, koordinasi penataan keamanan itu sejalan dengan mulai bermunculannya tentara sekutu di Surabaya. Hotel tempat menginap mereka dikibarkan bendera merah-putih-biru. Tindakan itu memantik reaksi keras arek-arek Surabaya. Setelah itu, pasukan India yang menjadi tentara Inggris berdatangan di Surabaya.

Kemunculan pasukan Inggris dan tentara Belanda yang berkamuflase kian memantik reaksi rakyat Indonesia. Maklum, kedatangan pasukan militer itu dipandang sebagai ancaman. Lebih-lebih itu terjadi setelah proklamasi Indonesia. Puncaknya, ketika perundingan yang digelar di Hotel International berujung kericuhan.

Baca Juga :  Gara-gara Event Pameran, Gravel Lintasan di Stadion Rusak

Kabar menyeruak, pimpinan pasukan Inggris Jenderal Mallaby tewas. Ada pula yang menyebutkan, jenderal itu tidak tewas tapi diculik arek-arek Suroboyo. Alhasil, ketegangan demi ketegangan memuncak pada 10 November 1945. Pertempuran maha dahsyat pun akhirnya pecah.

’’Kabar dari radio tentang perang dunia kedua menjadi materi bahasan yang kerap muncul,” ungkap Amin Solihin, salah satu anggota penyusun buku KH Achyat Chalimy, Berjuang Tanpa Akhir. Pembicaraan selepas salat di surau itu menjadi aktivitas ”wajib”. Benar tidaknya informasi atau kabar radio yang didengar menjadi bahasan bersama, disambi liwetan.

Tak dinyana, aktivitas itu ide-ide segar kerap muncul. ”Suatu ketika, di tengah-tengah ngrujak, Achyat usul agar dibuat latihan pencak silat dan baris berbaris,” sambung Amin. Usul itu diterima. Hingga kemudian berkembang dari 12 orang menjadi puluhan hingga ratusan pemuda militan. Belakangan, anak-anak muda inilah yang tergabung dalam Laskar Rakyat Hizbullah.

Kumpulan pasukan yang dibikin dari aktivitas rujakan ini nyatanya berperan penting dalam perang kemerdekaan 10 November 1945. Di tahun-tahun berikutnya, Laskar Hizbullah juga memiliki peran penting dalam perang-perang mempertahankan kemerdekaan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/