alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Berkembang di Era Raden Wasengsari Jadi Penghulu

Sebelum digabung menjadi satu bagian dari Kabupaten Mojokerto, wilayah utara Sungai Brantas pada masa lalu merupakan bagian dari kekuasaan Kadipaten Surabaya.

Salah satu wilayah bagiannya adalah Kawedanan Gunung Kendeng yang pusatnya berkedudukan di Desa/Kecamatan Gedeg. Di dalamnya terdapat wilayah eks Kawedanan Mojokasri sampai dengan daerah Wringinanom yang saat ini masuk wilayah Kabupaten Gresik.

SEJAK dulu, Kecamatan Gedeg merupakan salah satu wilayah yang cukup sentral di Mojokerto. Selain sebagai salah satu lokasi pusat industri wilayah yang berada di utara Sungai Brantas tersebut juga sebagai tonggak peradaban Islam.

Meski kantor kawedanan sudah hilang akibat tergusur pembangunan RSUD R.A. Basoeni, namun sisa jejak peninggalan Kawedanan Gunung Kendeng masih bisa ditemukan.

Peradaban di Desa/Kecamatan Gedeg telah sejak lama ada. Itu ditandai dengan masih banyak bangunan infrastruktur permukiman yang kental era Kolonial. Selain itu juga terdapat kompleks makam tua yang bercorak Islam. Lokasinya berada tepat di belakang area Masjid Besar Baiturrohman, Kecamatan Gedeg.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq, mengungkapkan, jika dilihat dari tatanan kompleks makam tersebut, bisa jadi bukanlah tempat peristirahatan terakhir bagi masyarakat biasa. Melainkan memang disediakan khusus sebagai tempat bersemayam bagi jenazah orang-orang yang khusus.

’’Salah seorang yang dimakamkan adalah Mbah Raden Wasengsari,’’ terangnya. Kompleks makam berukuran sekitar 100 x 50 meter persegi itu terdapat pintu gerbang utama di sisi barat. Namun, ada juga pintu masuk yang dibuat jalan alternatif dari area Masjid Besar Baiturahman.

Baca Juga :  Rombongan Guru TK-SMP Tilik Karya Seni

Pada gerbang utama, peziarah akan disambut sebuah tugu dengan tulisan aksara Jawa. Terdapat puluhan makam lengkap dengan nisan-nisan model lama. Sebagian besar makam tidak terawat dengan baik. Namun beberapa di antaranya ada yang masih terdapat bunga segar yang menandakan ada keluaraga atau kerabat yang baru saja berziarah.

Sedangkan lokasi makam Raden Wasengsari berada di paling ujung timur. Berdekatan dengan tempat imaman masjid. Di sisi makamnya juga dibubuhkan tulisan aksara Jawa. Sementara area makamnya dikelilingi dengan pagar besi dan nisannya dibungkus kain putih.

Pantas saja makam itu diistimewakan. Sebab, makam tersebut merupakan tempat bersemayam salah satu tokoh yang berjasa bagi masyarakat Kawedanan Gunung Kendeng pada waktu itu. Khusunya dalam bidang agama/Islam.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini, menjelaskan, berdasarkan cerita, Raden Wasengsari adalah seorang pejabat yang diangkat sebagai Penghulu Gunung Kendeng oleh Sultan Jogjakarta. Kemungkinan besar, pengangkatan tersebut terjadi pada pertengahan abad ke-18.

Diperkirakan kisaran tahun 1750-an atau setelah perjanjian Giyanti. ’’Tugas sebagai penghulu adalah mengurusi masalah terkait agama Islam,’’ ujarnya. Kendati begitu, Raden Ngabehi Wasengsari ini juga mengemban tugas sebagai penasihat bagi Wedono.

Baca Juga :  Beginner, Intermediate, hingga Expert

Menurutnya, pada masa itu, keberadaan pejabat penghulu ada di setiap tingkatan pemerintahan. Mulai dari kawedanan, kadipaten, hingga kerajaan. Namun, sebagai penghulu, Raden Wasengsari merasa merasa tidak cukup memiliki kapasitas di bidang keagamaan Islam.

Yuhan menyatakan, guna melaksanakan tugas administratif dan pembinaan keagamaan, pejabat dengan gelar kebangsawanan ngabehi itu meminta bantuan seorang ulama di Pesantren Sidoresmo, Surabaya. ’’Kemudian ditunjuk Kiai Basir untuk memenuhi permintaan Raden Wasengsari,’’ jelasnya.

Kiai Basir merupakan keturunan langsung dari Pesantren Sidoresmo yang didirikan oleh cucu Sunang Gunung Jati. Keduanya kemudian mampu melaksanakan tugas sebagai Penghulu Gunung Kendeng dengan baik.

’’Keberhasilan mereka (Raden Wasengsari dan Kiai Basir) membuat kehidupan keberagamaan Islam di Gedeg semakin diperhitungkan,’’ tandas Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini.

Selanjutnya, putra Kiai Basir mendirikan pondok pesantren. Bekas pesantren tersebut masih ada hingga sekarang. Lokasinya tak jauh dari Masjid Besar Baiturrohman. Terdapat sebuah langgar atau musala tua yang digunakan sebagai tempat salat berjamaah dan mengaji. Serta dilengkapi guthekan atau kamar bagi para santri yang mondok. 

 

Sebelum digabung menjadi satu bagian dari Kabupaten Mojokerto, wilayah utara Sungai Brantas pada masa lalu merupakan bagian dari kekuasaan Kadipaten Surabaya.

Salah satu wilayah bagiannya adalah Kawedanan Gunung Kendeng yang pusatnya berkedudukan di Desa/Kecamatan Gedeg. Di dalamnya terdapat wilayah eks Kawedanan Mojokasri sampai dengan daerah Wringinanom yang saat ini masuk wilayah Kabupaten Gresik.

SEJAK dulu, Kecamatan Gedeg merupakan salah satu wilayah yang cukup sentral di Mojokerto. Selain sebagai salah satu lokasi pusat industri wilayah yang berada di utara Sungai Brantas tersebut juga sebagai tonggak peradaban Islam.

Meski kantor kawedanan sudah hilang akibat tergusur pembangunan RSUD R.A. Basoeni, namun sisa jejak peninggalan Kawedanan Gunung Kendeng masih bisa ditemukan.

Peradaban di Desa/Kecamatan Gedeg telah sejak lama ada. Itu ditandai dengan masih banyak bangunan infrastruktur permukiman yang kental era Kolonial. Selain itu juga terdapat kompleks makam tua yang bercorak Islam. Lokasinya berada tepat di belakang area Masjid Besar Baiturrohman, Kecamatan Gedeg.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq, mengungkapkan, jika dilihat dari tatanan kompleks makam tersebut, bisa jadi bukanlah tempat peristirahatan terakhir bagi masyarakat biasa. Melainkan memang disediakan khusus sebagai tempat bersemayam bagi jenazah orang-orang yang khusus.

- Advertisement -

’’Salah seorang yang dimakamkan adalah Mbah Raden Wasengsari,’’ terangnya. Kompleks makam berukuran sekitar 100 x 50 meter persegi itu terdapat pintu gerbang utama di sisi barat. Namun, ada juga pintu masuk yang dibuat jalan alternatif dari area Masjid Besar Baiturahman.

Baca Juga :  Rombongan Guru TK-SMP Tilik Karya Seni

Pada gerbang utama, peziarah akan disambut sebuah tugu dengan tulisan aksara Jawa. Terdapat puluhan makam lengkap dengan nisan-nisan model lama. Sebagian besar makam tidak terawat dengan baik. Namun beberapa di antaranya ada yang masih terdapat bunga segar yang menandakan ada keluaraga atau kerabat yang baru saja berziarah.

Sedangkan lokasi makam Raden Wasengsari berada di paling ujung timur. Berdekatan dengan tempat imaman masjid. Di sisi makamnya juga dibubuhkan tulisan aksara Jawa. Sementara area makamnya dikelilingi dengan pagar besi dan nisannya dibungkus kain putih.

Pantas saja makam itu diistimewakan. Sebab, makam tersebut merupakan tempat bersemayam salah satu tokoh yang berjasa bagi masyarakat Kawedanan Gunung Kendeng pada waktu itu. Khusunya dalam bidang agama/Islam.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini, menjelaskan, berdasarkan cerita, Raden Wasengsari adalah seorang pejabat yang diangkat sebagai Penghulu Gunung Kendeng oleh Sultan Jogjakarta. Kemungkinan besar, pengangkatan tersebut terjadi pada pertengahan abad ke-18.

Diperkirakan kisaran tahun 1750-an atau setelah perjanjian Giyanti. ’’Tugas sebagai penghulu adalah mengurusi masalah terkait agama Islam,’’ ujarnya. Kendati begitu, Raden Ngabehi Wasengsari ini juga mengemban tugas sebagai penasihat bagi Wedono.

Baca Juga :  Tak Hanya Kamu, Aku Juga Bisa Selingkuh

Menurutnya, pada masa itu, keberadaan pejabat penghulu ada di setiap tingkatan pemerintahan. Mulai dari kawedanan, kadipaten, hingga kerajaan. Namun, sebagai penghulu, Raden Wasengsari merasa merasa tidak cukup memiliki kapasitas di bidang keagamaan Islam.

Yuhan menyatakan, guna melaksanakan tugas administratif dan pembinaan keagamaan, pejabat dengan gelar kebangsawanan ngabehi itu meminta bantuan seorang ulama di Pesantren Sidoresmo, Surabaya. ’’Kemudian ditunjuk Kiai Basir untuk memenuhi permintaan Raden Wasengsari,’’ jelasnya.

Kiai Basir merupakan keturunan langsung dari Pesantren Sidoresmo yang didirikan oleh cucu Sunang Gunung Jati. Keduanya kemudian mampu melaksanakan tugas sebagai Penghulu Gunung Kendeng dengan baik.

’’Keberhasilan mereka (Raden Wasengsari dan Kiai Basir) membuat kehidupan keberagamaan Islam di Gedeg semakin diperhitungkan,’’ tandas Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini.

Selanjutnya, putra Kiai Basir mendirikan pondok pesantren. Bekas pesantren tersebut masih ada hingga sekarang. Lokasinya tak jauh dari Masjid Besar Baiturrohman. Terdapat sebuah langgar atau musala tua yang digunakan sebagai tempat salat berjamaah dan mengaji. Serta dilengkapi guthekan atau kamar bagi para santri yang mondok. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/