alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Santoso: Pembinaan Usia Dini Lebih Penting

Keberadaan KONI sejatinya bukan sekadar untuk  mencari prestasi secara instan. Lebih dari itu. Sebagai pengurus yang menaungi berbagai macam cabor, KONI dituntut mampu mengoptimalkan potensi atlet sejak dini. Agar bisa menjadi sumber daya manusia (SDM) yang membanggakan.

CITA-CITA inilah yang membuat Santoso Bekti Wibowo rela mengorbankan waktu dan tenaga demi sebuah tugas mulia. Sebagai pimpinan KONI Kota Mojokerto, Abah San, sapaan akrabnya, dituntut mampu mewujudkan mimpi dalam membangun karakter dan iklim pembinaan atlet yang kompetitif. ’’Prestasi itu penting. Tapi, yang lebih penting lagi adalah proses membinanya,’’ ujarnya.

Sejak terpilih tahun 2019, Abah San langsung tancap gas dengan membangun sistem dan program kerja yang mengedepankan pembinaan atlet usia dini. Bersinergi dengan Pemkot Mojokerto, kualitas pembinaan lambat laun terbangun. Diawali dengan peningkatan sarana dan prasarana berstandar nasional yang bisa digunakan untuk ajang multi-event.

Baca Juga :  Airlangga Sebut Momen Mudik Idul Fitri Menjaga Perekonomian Masyarakat

Ke depan, pihaknya juga akan menjalin hubungan dengan sejumlah lembaga berbagai lintas sektor. Tujuannya, tak lain untuk membangkitkan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan bibit-bibit atlet berkualitas.

Dalam konteks ini, Santoso berharap setiap cabor nantinya bisa menggandeng pihak sekolah untuk mendirikan pusat pendidikan olahraga yang terukur dan berkelanjutan. ’’Perlu partisipasi masyarakat dalam mengawal setiap program KONI. Baik yang sifatnya pembinaan maupun sifatnya prestasi,’’ ujarnya.

Santoso berharap olahraga nantinya tidak sekadar ajang untuk mengejar prestasi. Tapi, juga bisa menjadi ajang yang menghibur dan menyehatkan dengan mengefektifkan semua potensi yang ada. Bahkan, olahraga nantinya juga bisa dijadikan sebagai lahan baru dalam pemberdayaan dan penyerapan tenaga kerja.

Baca Juga :  Packing Logistik Pemilu 2019, KPU Dituntut Harus Teliti

Sehingga ekonomi masyarakat di Kota Onde-Onde bisa terangkat. ’’Dengan demikian, setiap cabor tidak akan kesulitan mencari atlet berbakat yang siap ditampilkan dalam berbagai kompetisi, baik tingkat lokal, regional, nasional mau internasional. Dan sistem olahraga bisa menjadi manfaat bagi semuanya,’’ ujarnya.

Meski situasi masih dalam masa pandemi Covid-19, bukan berarti KONI berhenti dalam beraktivitas. Pihaknya masih intens menggelar pemantauan terhadap aktivitas atlet. Khususnya yang berkaitan langsung dengan agenda kompetisi.

Seperti Pekan Olahraga Provinsi atau kejuaraan tingkat provinsi (kejurprov) yang rencananya akan digelar tahun 2022 mendatang. ’’Kepada para atlet dan pelatih tetap kita anjurkan berlatih secara mandiri,’’ jelasnya. 

 

Keberadaan KONI sejatinya bukan sekadar untuk  mencari prestasi secara instan. Lebih dari itu. Sebagai pengurus yang menaungi berbagai macam cabor, KONI dituntut mampu mengoptimalkan potensi atlet sejak dini. Agar bisa menjadi sumber daya manusia (SDM) yang membanggakan.

CITA-CITA inilah yang membuat Santoso Bekti Wibowo rela mengorbankan waktu dan tenaga demi sebuah tugas mulia. Sebagai pimpinan KONI Kota Mojokerto, Abah San, sapaan akrabnya, dituntut mampu mewujudkan mimpi dalam membangun karakter dan iklim pembinaan atlet yang kompetitif. ’’Prestasi itu penting. Tapi, yang lebih penting lagi adalah proses membinanya,’’ ujarnya.

Sejak terpilih tahun 2019, Abah San langsung tancap gas dengan membangun sistem dan program kerja yang mengedepankan pembinaan atlet usia dini. Bersinergi dengan Pemkot Mojokerto, kualitas pembinaan lambat laun terbangun. Diawali dengan peningkatan sarana dan prasarana berstandar nasional yang bisa digunakan untuk ajang multi-event.

Baca Juga :  Airlangga: Semoga Bantuan Tunai Jadi Kado Indah di Hari Nelayan Nasional

Ke depan, pihaknya juga akan menjalin hubungan dengan sejumlah lembaga berbagai lintas sektor. Tujuannya, tak lain untuk membangkitkan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan bibit-bibit atlet berkualitas.

Dalam konteks ini, Santoso berharap setiap cabor nantinya bisa menggandeng pihak sekolah untuk mendirikan pusat pendidikan olahraga yang terukur dan berkelanjutan. ’’Perlu partisipasi masyarakat dalam mengawal setiap program KONI. Baik yang sifatnya pembinaan maupun sifatnya prestasi,’’ ujarnya.

Santoso berharap olahraga nantinya tidak sekadar ajang untuk mengejar prestasi. Tapi, juga bisa menjadi ajang yang menghibur dan menyehatkan dengan mengefektifkan semua potensi yang ada. Bahkan, olahraga nantinya juga bisa dijadikan sebagai lahan baru dalam pemberdayaan dan penyerapan tenaga kerja.

Baca Juga :  Tulis Novel "Aku Masih Belum Merdeka", Hakam Terinspirasi Gus Dur
- Advertisement -

Sehingga ekonomi masyarakat di Kota Onde-Onde bisa terangkat. ’’Dengan demikian, setiap cabor tidak akan kesulitan mencari atlet berbakat yang siap ditampilkan dalam berbagai kompetisi, baik tingkat lokal, regional, nasional mau internasional. Dan sistem olahraga bisa menjadi manfaat bagi semuanya,’’ ujarnya.

Meski situasi masih dalam masa pandemi Covid-19, bukan berarti KONI berhenti dalam beraktivitas. Pihaknya masih intens menggelar pemantauan terhadap aktivitas atlet. Khususnya yang berkaitan langsung dengan agenda kompetisi.

Seperti Pekan Olahraga Provinsi atau kejuaraan tingkat provinsi (kejurprov) yang rencananya akan digelar tahun 2022 mendatang. ’’Kepada para atlet dan pelatih tetap kita anjurkan berlatih secara mandiri,’’ jelasnya. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/