alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

PSMP Di-Shut Down PSSI, Krisna Adi Dihukum Seumur Hidup

MOJOKERTO – Insiden penalti janggal saat PS Mojokerto Putra (PSMP) bersua dengan Aceh United di Liga 2 Indonesia beberapa waktu lalu berbuntut sanksi berat.

Komisi Disiplin (Komdis) PSSI akhirnya resmi menjatuhkan sanksi kepada tim yang bermarkas di Stadion Gajah Mada Mojosari, Kabupaten Mojokerto itu.

Ini setelah tim yang dilatih Jamal Yastro tersebut dinyatakan bersalah akibat kasus pengaturan skor. Tim berjuluk Laskar Majapahit itu di-shut down PSSI dan dilarang mengikuti kompetisi sepanjang tahun 2019.

Ketua Komdis PSSI Asep Edwin menyatakan, penjatuhan sanksi diberikan setelah PSSI mengantongi bukti-bukti kuat dari sejumlah pelanggaran match fixing yang dilakukan PSMP.

”Karena itu, merujuk kepada pasal 72 jo, pasal 141 Kode Disiplin PSSI, PS Mojokerto Putra dihukum larangan ikut serta dalam kompetisi PSSI tahun 2019 yang dilaksanakan PSSI,” ungkapnya seperti yang dikutip JawaPos.com.

Baca Juga :  Bangkitkan Olahraga Hiburan bagi Milenial

Kasus match fixing bermuara saat PSMP berhadapan dengan Kalteng Putra pada 3 dan 9 November 2018. Atas kejadian ini, PSMP dihukum tidak boleh mengikuti kompetisi.

Tak hanya itu, PSSI juga menjatuhkan hukuman berat kepada striker PSMP, Krisna Adi Darma. Bahkan, pemain bernomor 9 ini dihukum dilarang bermain sepak bola seumur hidup.

Menyusul, lanjut Asep Edwin, Krisna terbukti sengaja tidak memasukkan bola saat menendang penalti ke gawang Aceh United. Saat itu, kedua tim bermain di Stadion Cot Gapu, Bireuen, Aceh, Senin (19/11) lalu.

Padahal, PSMP yang semula tertinggal 2-3 dari Aceh United berpeluang untuk menyamakan skor usai dihadiahi penalti wasit di menit ke 87. Namun, Krisna justru mengarahkan bola ke sisi kiri tiang gawang yang dijaga Bayu P., pemain kelahiran Mojokerto.

Baca Juga :  Sajikan Ragam Budaya dan Perjuangan Kiai

Keanehan juga muncul setelah ia gagal mencetak penalti. Krisna nampak tidak menyesal. Sebaliknya secara mengejutkan melakukan selebrasi dengan sujud syukur dan mendekap kedua tangan.

Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria menyatakan, langkah penjatuhan sanksi ini merupakan komitmen tegas PSSI untuk mengatasi masalah match fixing.

Menurutnya, apabila ditemukan indikasi di mana hukum sepak bola tidak lagi dapat menjangkau, maka PSSI akan berkoordinasi dengan Kepolisian RI. Apalagi, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian juga bertindak sebagai komando dari tim Satgas Mafia Bola.

”Kita juga tengah menyiapkan tim Ad Hock sinergi integritas. Komite ini dibentuk untuk tugas khusus dan dalam periode yang khusus,” tandas Ratu Tihsa.

Dia menambahkan, awal Januari 2019 mendatang, PSSI merencanakan menggelar pertemuan dengan Kepolisian RI sekaligus mengundang FIFA untuk membicarakan langkah strategis pasca kasus match fixing tersebut.

 

 

MOJOKERTO – Insiden penalti janggal saat PS Mojokerto Putra (PSMP) bersua dengan Aceh United di Liga 2 Indonesia beberapa waktu lalu berbuntut sanksi berat.

Komisi Disiplin (Komdis) PSSI akhirnya resmi menjatuhkan sanksi kepada tim yang bermarkas di Stadion Gajah Mada Mojosari, Kabupaten Mojokerto itu.

Ini setelah tim yang dilatih Jamal Yastro tersebut dinyatakan bersalah akibat kasus pengaturan skor. Tim berjuluk Laskar Majapahit itu di-shut down PSSI dan dilarang mengikuti kompetisi sepanjang tahun 2019.

Ketua Komdis PSSI Asep Edwin menyatakan, penjatuhan sanksi diberikan setelah PSSI mengantongi bukti-bukti kuat dari sejumlah pelanggaran match fixing yang dilakukan PSMP.

- Advertisement -

”Karena itu, merujuk kepada pasal 72 jo, pasal 141 Kode Disiplin PSSI, PS Mojokerto Putra dihukum larangan ikut serta dalam kompetisi PSSI tahun 2019 yang dilaksanakan PSSI,” ungkapnya seperti yang dikutip JawaPos.com.

Baca Juga :  Sajikan Ragam Budaya dan Perjuangan Kiai

Kasus match fixing bermuara saat PSMP berhadapan dengan Kalteng Putra pada 3 dan 9 November 2018. Atas kejadian ini, PSMP dihukum tidak boleh mengikuti kompetisi.

Tak hanya itu, PSSI juga menjatuhkan hukuman berat kepada striker PSMP, Krisna Adi Darma. Bahkan, pemain bernomor 9 ini dihukum dilarang bermain sepak bola seumur hidup.

Menyusul, lanjut Asep Edwin, Krisna terbukti sengaja tidak memasukkan bola saat menendang penalti ke gawang Aceh United. Saat itu, kedua tim bermain di Stadion Cot Gapu, Bireuen, Aceh, Senin (19/11) lalu.

Padahal, PSMP yang semula tertinggal 2-3 dari Aceh United berpeluang untuk menyamakan skor usai dihadiahi penalti wasit di menit ke 87. Namun, Krisna justru mengarahkan bola ke sisi kiri tiang gawang yang dijaga Bayu P., pemain kelahiran Mojokerto.

Baca Juga :  Bawaslu Ancam Stop Tahapan

Keanehan juga muncul setelah ia gagal mencetak penalti. Krisna nampak tidak menyesal. Sebaliknya secara mengejutkan melakukan selebrasi dengan sujud syukur dan mendekap kedua tangan.

Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria menyatakan, langkah penjatuhan sanksi ini merupakan komitmen tegas PSSI untuk mengatasi masalah match fixing.

Menurutnya, apabila ditemukan indikasi di mana hukum sepak bola tidak lagi dapat menjangkau, maka PSSI akan berkoordinasi dengan Kepolisian RI. Apalagi, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian juga bertindak sebagai komando dari tim Satgas Mafia Bola.

”Kita juga tengah menyiapkan tim Ad Hock sinergi integritas. Komite ini dibentuk untuk tugas khusus dan dalam periode yang khusus,” tandas Ratu Tihsa.

Dia menambahkan, awal Januari 2019 mendatang, PSSI merencanakan menggelar pertemuan dengan Kepolisian RI sekaligus mengundang FIFA untuk membicarakan langkah strategis pasca kasus match fixing tersebut.

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/