alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Pasang Wifi di 30 Rumah, Rela Talangi Tagihan dan Biaya Perawatan

Berkat bantuan Jumain, sekitar 30 rumah di daerah susah sinyal di Dusun Sekiping, Desa/Kecamatan Dawarblandong telah tercover wifi. Dia rela mengeluarkan modal sendiri demi membantu para pelajar yang selama dua tahun terakhir terkendala akses internet. Para pelajar kini tak perlu lagi ke kantor kecamatan demi mengikuti proses pembelajaran daring.

YULIANTO ADI NUGROHO, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto

JUMAIN bukan guru. Dia juga bukan ahli teknologi yang paham betul perihal jaringan internet berikut tetek bengek-nya. ’’Saya cuma ingin jadi orang yang berguna,’’ ujarnya. Saat ini, bisa dibilang, dia adalah sosok yang paling diandalkan soal kebutuhan internet warga kampung maupun luar kampungnya.

Letak Dusun Sekiping cukup terpencil. Lokasinya di tengah hutan. Daerah ini bahkan terpisah dari Desa Dawarblandong yang bisa dibilang berada di daerah padat penduduk. Lebih dari itu, jaringan internet di sana terbilang miris. Hanya ada satu provider yang terkoneksi. Itu pun sinyalnya tak bisa diandalkan.

Kondisi sulit ini paling terasa dua tahun terakhir. Ketika pandemi melanda dan sekolah diungsikan melalui daring. Saat internet menjadi kebutuhan utama, tetapi kondisi tak memungkinkan. ’’Saat itu mereka harus ke kantor kecamatan supaya bisa mengerjakan tugas,’’ terangnya. Kondisi susah sinyal ini banyak membuat anak-anak terpaksa tak mengikuti pembelajaran dengan optimal.

Baca Juga :  Ayni Zuroh Kembali Nakhodai PKB

Dari situlah Jumain mulai tergerak. Dia menyediakan tempat bagi anak-anak untuk memanfaatkan wifi. Mulai dari rumahnya sendiri sampai pos-pos ronda dipasangi wifi. Dari sana, kemudian muncul permintaan dari para tetangganya supaya dipasangkan wifi. ’’Sekarang sudah ada 30-an rumah yang dipasang,’’ terang pria 40 tahun ini.

Atas capaiannya itu, tak sedikit warga dari luar kampung sepeti Desa Gunungsari yang meminta untuk dipasangkan wifi. Pemasangan ini dilakukan sesuai dengan permintaan. Karena harganya yang cukup mahal, Jumain kerap menalangi tanggungan.

Dia menjelaskan, setiap pemasangan wifi ini dibutuhkan biaya sekitar Rp 480 ribu. Biaya itu meliputi router, kabel, dan teknisinya. Modal tersebut dikeluarkan dari kantong pribadinya. ’’Kadang nanti ada yang nyicil. Ada juga yang saya pinjamkan saja router milik saya,’’ jelas dia.

Baca Juga :  Rekaman Sendiri, Diedit Sendiri, Cari Pasir pun Sendiri

Setiap wifi biasanya dimanfaatkan secara rombongan. Jaringan dengan kecepatan 3 Mbps itu bisa mencapai tiga sampai lima rumah yang berdekatan. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya. Jaringan yang dibagi ke puluhan rumah ini berasal dari bandwidth yang dibelinya. ’’Biaya bandwidth ini Rp 3 juta per bulan,’’ terangnya.

Warga yang memasang wifi ini biasanya membayar Rp 100 ribu per bulan. Biaya itu untuk membayar paket data yang telah dikeluarkan. Jumain mengaku tak jarang dirinya harus mengeluarkan biaya lebih untuk menalangi tagihan. ’’Kadang ada yang belum punya uang. Sampai tiga bulan tidak bayar dan dijanjikan kalau selesai panen,’’ kenangnya.

Dia tak pernah menagih uang itu kepada warga. Bahkan, untuk biaya perawatan jaringan dan sebagainya dikeluarkan dari kantongnya sendiri. Bagi Jumain, semua itu dilakukan demi untuk membantu warga di tempatnya supaya tidak kesulitan mengakses internet. ’’Saya hanya ingin membantu mereka saja karena kasihan,’’ lirih pria yang juga menjabat Kasi Pelayanan Pemdes Dawarblandong ini. (fen)

Berkat bantuan Jumain, sekitar 30 rumah di daerah susah sinyal di Dusun Sekiping, Desa/Kecamatan Dawarblandong telah tercover wifi. Dia rela mengeluarkan modal sendiri demi membantu para pelajar yang selama dua tahun terakhir terkendala akses internet. Para pelajar kini tak perlu lagi ke kantor kecamatan demi mengikuti proses pembelajaran daring.

YULIANTO ADI NUGROHO, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto

JUMAIN bukan guru. Dia juga bukan ahli teknologi yang paham betul perihal jaringan internet berikut tetek bengek-nya. ’’Saya cuma ingin jadi orang yang berguna,’’ ujarnya. Saat ini, bisa dibilang, dia adalah sosok yang paling diandalkan soal kebutuhan internet warga kampung maupun luar kampungnya.

Letak Dusun Sekiping cukup terpencil. Lokasinya di tengah hutan. Daerah ini bahkan terpisah dari Desa Dawarblandong yang bisa dibilang berada di daerah padat penduduk. Lebih dari itu, jaringan internet di sana terbilang miris. Hanya ada satu provider yang terkoneksi. Itu pun sinyalnya tak bisa diandalkan.

Kondisi sulit ini paling terasa dua tahun terakhir. Ketika pandemi melanda dan sekolah diungsikan melalui daring. Saat internet menjadi kebutuhan utama, tetapi kondisi tak memungkinkan. ’’Saat itu mereka harus ke kantor kecamatan supaya bisa mengerjakan tugas,’’ terangnya. Kondisi susah sinyal ini banyak membuat anak-anak terpaksa tak mengikuti pembelajaran dengan optimal.

Baca Juga :  Candi dan Kejayaan Arsitektur Indonesia di Masa Lalu

Dari situlah Jumain mulai tergerak. Dia menyediakan tempat bagi anak-anak untuk memanfaatkan wifi. Mulai dari rumahnya sendiri sampai pos-pos ronda dipasangi wifi. Dari sana, kemudian muncul permintaan dari para tetangganya supaya dipasangkan wifi. ’’Sekarang sudah ada 30-an rumah yang dipasang,’’ terang pria 40 tahun ini.

- Advertisement -

Atas capaiannya itu, tak sedikit warga dari luar kampung sepeti Desa Gunungsari yang meminta untuk dipasangkan wifi. Pemasangan ini dilakukan sesuai dengan permintaan. Karena harganya yang cukup mahal, Jumain kerap menalangi tanggungan.

Dia menjelaskan, setiap pemasangan wifi ini dibutuhkan biaya sekitar Rp 480 ribu. Biaya itu meliputi router, kabel, dan teknisinya. Modal tersebut dikeluarkan dari kantong pribadinya. ’’Kadang nanti ada yang nyicil. Ada juga yang saya pinjamkan saja router milik saya,’’ jelas dia.

Baca Juga :  Misi Amankan Tiket 32 Besar

Setiap wifi biasanya dimanfaatkan secara rombongan. Jaringan dengan kecepatan 3 Mbps itu bisa mencapai tiga sampai lima rumah yang berdekatan. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya. Jaringan yang dibagi ke puluhan rumah ini berasal dari bandwidth yang dibelinya. ’’Biaya bandwidth ini Rp 3 juta per bulan,’’ terangnya.

Warga yang memasang wifi ini biasanya membayar Rp 100 ribu per bulan. Biaya itu untuk membayar paket data yang telah dikeluarkan. Jumain mengaku tak jarang dirinya harus mengeluarkan biaya lebih untuk menalangi tagihan. ’’Kadang ada yang belum punya uang. Sampai tiga bulan tidak bayar dan dijanjikan kalau selesai panen,’’ kenangnya.

Dia tak pernah menagih uang itu kepada warga. Bahkan, untuk biaya perawatan jaringan dan sebagainya dikeluarkan dari kantongnya sendiri. Bagi Jumain, semua itu dilakukan demi untuk membantu warga di tempatnya supaya tidak kesulitan mengakses internet. ’’Saya hanya ingin membantu mereka saja karena kasihan,’’ lirih pria yang juga menjabat Kasi Pelayanan Pemdes Dawarblandong ini. (fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/