alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Tampung Bakat Para Penari, Cover Dance Grup Band Korea-Jepang

Grup band asal Korea dan Jepang, memiliki banyak fans. Di Mojokerto, mereka berkumpul dalam satu komunitas. Mereka mencover tarian yang sama. Tak sekadar gerakan dan lekukan tubuhnya saja yang ditiru. Namun, kostum yang digunakan juga ala Korean Style.

INDAH OCEANANDA,Wates, Jawa Pos Radar Mojokerto

Sayup-sayup, iringan lagu Korea, terdengar di salah sudut Taman Kehati, Wates. Sejumlah remaja, menari dengan iringan lagu yang keluar dari speaker active tersebut. Gerakannya sangat memukau dan sedap dipandang. Selain itu, tampilan mereka juga unik. Menyerupai sebuah grup band Korea.

Mereka adalah para penari yang tergabung dalam Komunitas Dance Anime-Manga. Mereka seringkali bertemu dan mengembangkan bakat menarinya. ”Saat ini kita fokus cover lagu Korea. Banyak yang sedang hits dan gerakannya sudah familiar dibandingkan tarian Jepang,” jelas Stevanus Wahyudianto.

Baca Juga :  KONI Khawatir Terdiskualifikasi

Ketua Komunitas Dance Anime-Manga ini menceritakan, komunitas ini terbentuk karena kesamaan latar belakang para anggota yang hobi menari. Mereka bertemu satu sama lain ketika ada dance event di salah satu mal Kota Mojokerto.

Pemuda yang kerap disapa Steve ini mengungkapkan, awalnya dia tertarik melihat kelompok dance yang bisa menunjukkan bakat mereka di hadapan publik. Akhirnya, Steve mencoba bergabung dengan komunitas yang berdiri sejak 2018 itu. ”Saya coba gabung aja, karena memang dari kecil suka nari. Lagian, pengin jadi pede karena kan punya bakat. Sayang kalau nggak diasah,” ucap dia.

Biasanya, Steve bersama teman-temannya latihan dua minggu sekali. Untuk tempat latihannya, pemuda 20 tahun ini mengaku tak harus dilakukan di sanggar latihan. Kecuali jika memang dibutuhkan kalau ada dance cover yang gerakannya terbilang sulit. Kerap kali, komunitas ini latihan di Taman Kehati dan Alun-alun Kota Mojokerto. ”Kita pilih di Kota, sebab anggotanya mayoritas memang rumahnya sekitar Kota. Ada juga sih yang di Kabupaten, tapi nggak banyak,” terang warga asal Kecamatan Wates ini.

Baca Juga :  Atlet Gulat Junior Konsentrasi Kejurprov Jatim

Disinggung terkait kompetisi yang diikutinya, Steve membeberkan, hingga kini belum ada kejuaraan yang mereka raih. Sebab, dia beralasan, pembentukan komunitas tersebut bukan untuk mengejar juara. Namun, untuk menampung bakat yang dimiliki masing-masing anggota. Serta, komunitas ini dijadikan wadah sharing bersama dan mengisi kegiatan yang positif. ”Kita hanya ada event tahunan di mal saja. Kalau untuk kompetisi, kita belum mengarah ke sana. Sebab, komunitas ini untuk mengasah bakat dan mengajari kita berorganisasi di masa muda dengan hal yang positif,”  terang mahasiswa Universitas Mayjen Sungkono itu. (ron)

Grup band asal Korea dan Jepang, memiliki banyak fans. Di Mojokerto, mereka berkumpul dalam satu komunitas. Mereka mencover tarian yang sama. Tak sekadar gerakan dan lekukan tubuhnya saja yang ditiru. Namun, kostum yang digunakan juga ala Korean Style.

INDAH OCEANANDA,Wates, Jawa Pos Radar Mojokerto

Sayup-sayup, iringan lagu Korea, terdengar di salah sudut Taman Kehati, Wates. Sejumlah remaja, menari dengan iringan lagu yang keluar dari speaker active tersebut. Gerakannya sangat memukau dan sedap dipandang. Selain itu, tampilan mereka juga unik. Menyerupai sebuah grup band Korea.

Mereka adalah para penari yang tergabung dalam Komunitas Dance Anime-Manga. Mereka seringkali bertemu dan mengembangkan bakat menarinya. ”Saat ini kita fokus cover lagu Korea. Banyak yang sedang hits dan gerakannya sudah familiar dibandingkan tarian Jepang,” jelas Stevanus Wahyudianto.

Baca Juga :  Berebut Berkah, Warga Berharap Rezeki seperti Keres

Ketua Komunitas Dance Anime-Manga ini menceritakan, komunitas ini terbentuk karena kesamaan latar belakang para anggota yang hobi menari. Mereka bertemu satu sama lain ketika ada dance event di salah satu mal Kota Mojokerto.

Pemuda yang kerap disapa Steve ini mengungkapkan, awalnya dia tertarik melihat kelompok dance yang bisa menunjukkan bakat mereka di hadapan publik. Akhirnya, Steve mencoba bergabung dengan komunitas yang berdiri sejak 2018 itu. ”Saya coba gabung aja, karena memang dari kecil suka nari. Lagian, pengin jadi pede karena kan punya bakat. Sayang kalau nggak diasah,” ucap dia.

- Advertisement -

Biasanya, Steve bersama teman-temannya latihan dua minggu sekali. Untuk tempat latihannya, pemuda 20 tahun ini mengaku tak harus dilakukan di sanggar latihan. Kecuali jika memang dibutuhkan kalau ada dance cover yang gerakannya terbilang sulit. Kerap kali, komunitas ini latihan di Taman Kehati dan Alun-alun Kota Mojokerto. ”Kita pilih di Kota, sebab anggotanya mayoritas memang rumahnya sekitar Kota. Ada juga sih yang di Kabupaten, tapi nggak banyak,” terang warga asal Kecamatan Wates ini.

Baca Juga :  Jazz Blues Mojokerto, Hangatkan Kota dengan Musik

Disinggung terkait kompetisi yang diikutinya, Steve membeberkan, hingga kini belum ada kejuaraan yang mereka raih. Sebab, dia beralasan, pembentukan komunitas tersebut bukan untuk mengejar juara. Namun, untuk menampung bakat yang dimiliki masing-masing anggota. Serta, komunitas ini dijadikan wadah sharing bersama dan mengisi kegiatan yang positif. ”Kita hanya ada event tahunan di mal saja. Kalau untuk kompetisi, kita belum mengarah ke sana. Sebab, komunitas ini untuk mengasah bakat dan mengajari kita berorganisasi di masa muda dengan hal yang positif,”  terang mahasiswa Universitas Mayjen Sungkono itu. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Suplai Air Delapan Kecamatan Terputus

RSUD Siapkan Ruang dan Tim Khusus

Bawaslu Ancam Stop Tahapan

Artikel Terbaru


/