alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Terima Kasih Tenaga Medisku

Sosok Kartini yang tangguh berjuang membebaskan dari belenggu kebodohan di masa lampau menjadi inspirasi utama bagi kaum perempuan masa kini.

Pun demikian dalam situasi pandemi korona saat ini. Kaum perempuan dirasa turut andil sebagai garda depan dalam memerangi persebaran virus. Terbukti, 60 persen dari komposisi tim medis gugus tugas pencegahan dan percepatan penanganan Covid-19 di Kabupaten Mojokerto diisi kaum perempuan.

Kenyataan ini yang seharusnya menjadi evaluasi bersama bagi semua perempuan dari generasi ke generasi lain dalam membantu pemerintah berperang melawan pandemi.

Tidak harus turun langsung menangani pasien dalam pengawasan (PDP) maupun positif Covid-19. Mengucapkan terima kasih pada tim medis dan mematuhi physical distancing sudah lebih dari cukup dalam upayanya memerangi pandemi virus korona.

Baca Juga :  Gangguan Jiwa dan Menyimpang Diarahkan Melalui Budaya

’’Kami sangat berterima kasih kepada tim medis sebagai garda depan percepatan penanganan Covid-19. Semua perempuan pasti merasakan, bagaimana rasa harunya merawat pasien,’’ tutur Ketua Tim Penggerak PKK dan Dekranasda Kabupaten Mojokerto, Yayuk Ismawati Pungkasiadi.

Sebagai pemimpin perempuan, wanita asli Desa Canggu, Kecamatan Jetis, ini begitu tegas dalam mengedukasi masyarakat tentang tata cara hidup sehat dan bersih selama masa pandemi. Termasuk menjaga jarak, cuci tangan pakai sabun, hingga memakai masker di setiap aktivitas.

Tidak hanya mengedukasi, perempuan kelahiran Jember 11 Juni 1970 ini, juga getol menyosialisasikan penggunaan protokol kesehatan ke semua kelompok perempuan di 18 kecamatan.

Tidak hanya di kalangan ibu-ibu PKK, tapi juga ke semua kalangan profesi perempuan. Termasuk penggerak UKM/IKM yang banyak didominasi tenaga kerja wanita. Memanfaatkan media dalam jaringan (daring), Yayuk senantiasa mengecek satu per satu situasi dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Baca Juga :  Lawan Covid-19 dengan Feminitas!

Pihaknya juga merasakan, betapa pedihnya para pekerja perempuan yang harus menerima dampak atas pandemi. Yakni, dirumahkan untuk sementara oleh perusahaan akibat melemahnya iklim industri.

Meski begitu, pihaknya tetap berharap agar kaum perempuan jangan sampai lemah, apalagi patah semangat. Baginya, pandemi tidak harus dirasakan secara berlarut-larut. Namun, harus dilawan dengan kewaspadaan dan semangat pantang menyerah.

Agar situasi kembali normal seperti sedia kala. ’’Saya menekankan agar tidak usah cemas. Apalagi sampai harus men-share berita-berita yang justru semakin membuat takut. Sharing seperlunya, jujur pada kondisi sendiri, dan jadikan masker sebagai pelindungmu,’’ pungkasnya. (abi)

 

Sosok Kartini yang tangguh berjuang membebaskan dari belenggu kebodohan di masa lampau menjadi inspirasi utama bagi kaum perempuan masa kini.

Pun demikian dalam situasi pandemi korona saat ini. Kaum perempuan dirasa turut andil sebagai garda depan dalam memerangi persebaran virus. Terbukti, 60 persen dari komposisi tim medis gugus tugas pencegahan dan percepatan penanganan Covid-19 di Kabupaten Mojokerto diisi kaum perempuan.

Kenyataan ini yang seharusnya menjadi evaluasi bersama bagi semua perempuan dari generasi ke generasi lain dalam membantu pemerintah berperang melawan pandemi.

Tidak harus turun langsung menangani pasien dalam pengawasan (PDP) maupun positif Covid-19. Mengucapkan terima kasih pada tim medis dan mematuhi physical distancing sudah lebih dari cukup dalam upayanya memerangi pandemi virus korona.

Baca Juga :  Hampir Seluruh Kecamatan di Kabupaten saat Ini Rawan Banjir

’’Kami sangat berterima kasih kepada tim medis sebagai garda depan percepatan penanganan Covid-19. Semua perempuan pasti merasakan, bagaimana rasa harunya merawat pasien,’’ tutur Ketua Tim Penggerak PKK dan Dekranasda Kabupaten Mojokerto, Yayuk Ismawati Pungkasiadi.

Sebagai pemimpin perempuan, wanita asli Desa Canggu, Kecamatan Jetis, ini begitu tegas dalam mengedukasi masyarakat tentang tata cara hidup sehat dan bersih selama masa pandemi. Termasuk menjaga jarak, cuci tangan pakai sabun, hingga memakai masker di setiap aktivitas.

- Advertisement -

Tidak hanya mengedukasi, perempuan kelahiran Jember 11 Juni 1970 ini, juga getol menyosialisasikan penggunaan protokol kesehatan ke semua kelompok perempuan di 18 kecamatan.

Tidak hanya di kalangan ibu-ibu PKK, tapi juga ke semua kalangan profesi perempuan. Termasuk penggerak UKM/IKM yang banyak didominasi tenaga kerja wanita. Memanfaatkan media dalam jaringan (daring), Yayuk senantiasa mengecek satu per satu situasi dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Baca Juga :  Menang Tipis, Laskar Badai Biru Kurang Gereget

Pihaknya juga merasakan, betapa pedihnya para pekerja perempuan yang harus menerima dampak atas pandemi. Yakni, dirumahkan untuk sementara oleh perusahaan akibat melemahnya iklim industri.

Meski begitu, pihaknya tetap berharap agar kaum perempuan jangan sampai lemah, apalagi patah semangat. Baginya, pandemi tidak harus dirasakan secara berlarut-larut. Namun, harus dilawan dengan kewaspadaan dan semangat pantang menyerah.

Agar situasi kembali normal seperti sedia kala. ’’Saya menekankan agar tidak usah cemas. Apalagi sampai harus men-share berita-berita yang justru semakin membuat takut. Sharing seperlunya, jujur pada kondisi sendiri, dan jadikan masker sebagai pelindungmu,’’ pungkasnya. (abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/