alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Perempuan Indonesia Harus Tangguh dan Bermental Baja

IBU Kartini selalu menekankan perempuan untuk semangat belajar, memperluas ilmu, mengangkat derajat perempuan dengan pendidikan tinggi dan bermental baja.

Saya rasa di situasi dengan pandemi seperti ini, perempuan tetap butuh untuk meningkatkan kapasitas diri. Baik dengan mengakses berbagai forum pendidikan online, atau pelatihan online.

Perempuan juga diharapkan untuk mengajak dan memberi dukungan anggota keluarganya untuk memprioritaskan pendidikan, meskipun di situasi yang susah seperti ini. Meskipun dengan akses sekolah yang terbatas, namun perempuan bisa mengajak keluarga untuk mengakses situs-situs pendidikan, yang bermuatan wawasan dan ilmu pengetahuan.

Perempuan juga diharapkan mempunyai mental yang tangguh, tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Selain itu, perempuan juga diharapkan menjadi perempuan cerdas yang tidak mudah percaya dengan berita yang tidak dapat dipercaya, ataupun bersifat negatif provokatif.

Kementerian ketenagakerjaan berupaya untuk memberikan berbagai pelatihan, baik secara offline maupun online, termasuk untuk saat ini ada program Kartu Prakerja.

Untuk yang di pedesaan, kementerian sudah mencoba untuk berkoordinasi dengan dinas ketenagakerjaan masing-masing untuk memfasilitasi perempuan agar dapat lebih banyak mengakses pelatihan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk pekerja migran yang masih didominasi perempuan.

Baca Juga :  Silvy Damayanti Setiawan, Sering Ajak Anak ke Kantor

Perempuan silakan menjadi pekerja migran selama kompeten dan terlindungi jaminan sosialnya. Baik dirinya maupun keluarganya. Pada hakikatnya program pemberdayaan perempuan di Kemenaker ditujukan meningkatkan potensi diri atau kapasitas dan peran mereka agar kaum perempuan mampu mandiri dan berkarya, termasuk peran mereka dalam pembangunan.

Dalam dunia kerja, perempuan dengan segala karakteristik dan keterbatasannya sudah tentu akan menghadapi tantangan yang cukup berat dibandingkan dengan kaum lelaki. Demikian halnya dengan pekerja migran perempuan, yang saat ini pada kenyataannya lebih banyak bekerja pada sektor domestik atau pengguna perseorangan, yang cenderung rentan terhadap perlindungan.

Bertitik tolak dari permasalahan ini, maka Kemnaker telah banyak meluncurkan program pemberdayaan perempuan, yaitu melalui pemberian pelatihan dan modal usaha berupa peralatan yang sesuai/diperlukan bagi pengembangan usaha mereka nantinya. Baik usaha mandiri maupun berkelompok. 

Pelatihan-pelatihan ini tentunya disesuaikan dengan minat, bakat dan potensi sumber daya alam setempat, dan materi pelatihan yang diberikan tidak saja mencakup aspek technical skills (keterampilan teknis) semata, tetapi juga meliputi aspek manajemen.

Melalui program pemberdayaan ini diharapkan nantinya mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya beserta keluarganya. Baik melalui usaha mandiri atau berkelompok yang berhasil mereka kembangkan.

Baca Juga :  Intuisi dan Logika Adalah Energi Para Relawan

Program pemberdayaan perempuan, tentunya juga menyasar kepada pekerja migran perempuan Indonesia, yaitu melalui program-program pelatihan yang disesuaikan dengan jabatan kerja yang akan diduduki nantinya oleh pekerja migran perempuan Indonesia.

Sesuai UU Nomor 18/2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, kita tidak lagi boleh menempatkan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang tidak memiliki kompetensi atau keterampilan (yang dibuktikan dengan Sertifikat Kompetensi).

Oleh sebab itu, berbagai program pelatihan kerja yang diselengarakan, baik oleh pemerintah maupun swasta, termasuk penyelengaraan program pelatihan bagi pekerja migran, harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna di negara penempatan.

Apabila keterampilan tenaga kerja perempuan di Indonesia meningkat, maka diharapkan nantinya mereka dapat mengisi pekerjaan-pekerjaan pada pengguna berbadan hukum, tidak lagi pada pengguna perseorangan (sektor domestik) yang cenderung rentan terhadap perlindungan.

Melalui peningkatan keterampilan, dengan sendirinya bargaining position atau posisi tawar mereka juga akan semakin meningkat. Inilah sesunguhnya awal perlindungan mereka (kaum perempuan) yang akan memasuki dunia kerja. (*/abi)

 

IBU Kartini selalu menekankan perempuan untuk semangat belajar, memperluas ilmu, mengangkat derajat perempuan dengan pendidikan tinggi dan bermental baja.

Saya rasa di situasi dengan pandemi seperti ini, perempuan tetap butuh untuk meningkatkan kapasitas diri. Baik dengan mengakses berbagai forum pendidikan online, atau pelatihan online.

Perempuan juga diharapkan untuk mengajak dan memberi dukungan anggota keluarganya untuk memprioritaskan pendidikan, meskipun di situasi yang susah seperti ini. Meskipun dengan akses sekolah yang terbatas, namun perempuan bisa mengajak keluarga untuk mengakses situs-situs pendidikan, yang bermuatan wawasan dan ilmu pengetahuan.

Perempuan juga diharapkan mempunyai mental yang tangguh, tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Selain itu, perempuan juga diharapkan menjadi perempuan cerdas yang tidak mudah percaya dengan berita yang tidak dapat dipercaya, ataupun bersifat negatif provokatif.

Kementerian ketenagakerjaan berupaya untuk memberikan berbagai pelatihan, baik secara offline maupun online, termasuk untuk saat ini ada program Kartu Prakerja.

Untuk yang di pedesaan, kementerian sudah mencoba untuk berkoordinasi dengan dinas ketenagakerjaan masing-masing untuk memfasilitasi perempuan agar dapat lebih banyak mengakses pelatihan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk pekerja migran yang masih didominasi perempuan.

Baca Juga :  Gambaran Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe
- Advertisement -

Perempuan silakan menjadi pekerja migran selama kompeten dan terlindungi jaminan sosialnya. Baik dirinya maupun keluarganya. Pada hakikatnya program pemberdayaan perempuan di Kemenaker ditujukan meningkatkan potensi diri atau kapasitas dan peran mereka agar kaum perempuan mampu mandiri dan berkarya, termasuk peran mereka dalam pembangunan.

Dalam dunia kerja, perempuan dengan segala karakteristik dan keterbatasannya sudah tentu akan menghadapi tantangan yang cukup berat dibandingkan dengan kaum lelaki. Demikian halnya dengan pekerja migran perempuan, yang saat ini pada kenyataannya lebih banyak bekerja pada sektor domestik atau pengguna perseorangan, yang cenderung rentan terhadap perlindungan.

Bertitik tolak dari permasalahan ini, maka Kemnaker telah banyak meluncurkan program pemberdayaan perempuan, yaitu melalui pemberian pelatihan dan modal usaha berupa peralatan yang sesuai/diperlukan bagi pengembangan usaha mereka nantinya. Baik usaha mandiri maupun berkelompok. 

Pelatihan-pelatihan ini tentunya disesuaikan dengan minat, bakat dan potensi sumber daya alam setempat, dan materi pelatihan yang diberikan tidak saja mencakup aspek technical skills (keterampilan teknis) semata, tetapi juga meliputi aspek manajemen.

Melalui program pemberdayaan ini diharapkan nantinya mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya beserta keluarganya. Baik melalui usaha mandiri atau berkelompok yang berhasil mereka kembangkan.

Baca Juga :  Resmi Diperkuat 13 Pemain

Program pemberdayaan perempuan, tentunya juga menyasar kepada pekerja migran perempuan Indonesia, yaitu melalui program-program pelatihan yang disesuaikan dengan jabatan kerja yang akan diduduki nantinya oleh pekerja migran perempuan Indonesia.

Sesuai UU Nomor 18/2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, kita tidak lagi boleh menempatkan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang tidak memiliki kompetensi atau keterampilan (yang dibuktikan dengan Sertifikat Kompetensi).

Oleh sebab itu, berbagai program pelatihan kerja yang diselengarakan, baik oleh pemerintah maupun swasta, termasuk penyelengaraan program pelatihan bagi pekerja migran, harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna di negara penempatan.

Apabila keterampilan tenaga kerja perempuan di Indonesia meningkat, maka diharapkan nantinya mereka dapat mengisi pekerjaan-pekerjaan pada pengguna berbadan hukum, tidak lagi pada pengguna perseorangan (sektor domestik) yang cenderung rentan terhadap perlindungan.

Melalui peningkatan keterampilan, dengan sendirinya bargaining position atau posisi tawar mereka juga akan semakin meningkat. Inilah sesunguhnya awal perlindungan mereka (kaum perempuan) yang akan memasuki dunia kerja. (*/abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/