alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Masak Kita Mau Bersyukur kalau Ada Orang Meninggal

Kerajinan peti mati adalah usaha yang tidak biasa dilakukan kalangan awam. Tak sekadar dibutuhkan keahlian. Namun, dalam mengerjakan pesanan, juga tetap mempertimbangkan sisi kemanusiaan. Termasuk tidak membuat susah keluarga yang ditinggalkan.

 

INDAH OCEANANDA, Magersari, Jawa Pos Radar Mojokerto

 

PERAJIN peti mati mulai kebanjiran order. Hal itu dipicu semakin meningkatnya angka kematian pasien Covid-19. Pemilik usaha peti jenazah, Kriswandito, mengaku peningkatan penjualan peti terjadi sejak awal-awal pandemi.

Dalam sehari, dia bisa menyelesaikan antara 7 sampai 10 peti mati. ”Karena gitu nggak tentu juga, karena kadang satu rumah sakit langsung stok tiga buah. Terus biasanya nanti malam tiba-tiba ada orang telepon pesan,” kata Kriswandito yang akrab disapa Andi, kemarin (20/1).

Bahkan, tak jarang dalam satu hari peti yang sudah dibuat ludes terjual. Peti mati hasil produksi satu-satunya perajin di Mojokerto ini untuk memenuhi kebutuhan sejumlah rumah sakit rujukan khusus Covid-19. Baik di wilayah Kota maupun Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Kuliner Ikan Air Tawar dan Pasar Apung

Namun, terkadang rumah sakit tak hanya memesan peti dari usahanya saja. ”Rumah sakit juga pesan ke daerah Kesamben, Jombang. Ya cuma kalau di Mojokerto yang perajin peti hanya saya. Daerah Mojokerto lain nggak pernah dengar saya,” ungkap Andi.

Selain itu, dia juga kerap menerima pesanan peti jenazah untuk gereja dan pura. Meskipun pesanan tak pernah sepi, Andi mengaku tak pernah menaikkan harga jual. Dia menuturkan, menjual peti mati sama saja membantu orang susah. Apalagi, kematian merupakan musibah. Sehingga, dia tak sampai hati untuk memanfaatkan kesempatan selama pandemi ini untuk mematok harga tinggi. Termasuk, dalam keadaan pandemi seperti saat ini.

”Buat bantu sesama, juga bantu pekerja saya, pandemi kan apa-apa juga mandek. Ditinggal mati sama keluarga saja sudah sedih, masak kita mau bersyukur kalau banyak yang mati,” terang pria 49 tahun itu.  Usaha peti jenazah milik Andi dulunya merupakan usaha peti milik keluarga ibunya, Purwaningtyas. Berawal dari sang kakek, Sudamono yang berjualan peti di daerah Sooko pada tahun 1970-an. Lalu, diteruskan oleh sang ibu baru kemudian dia lanjutkan.

Baca Juga :  Ikfina-Barra Optimis Hanya Lawan Independen

Sehingga, usaha peti mati ini sudah berjalan tiga generasi. Andi menyebutkan, baru tiga tahun terakhir ini dia memindahkan usahanya ke kawasan Jalan Trunojoyo, Kelurahan/Kecamatan Magersari. ”Saya hanya melanjutkan usaha ibu saya, kalau dulu malah sehari sering nggak ada yang beli. Ya baru ramai pas korona (pandemi) ini,” tuturnya.

Andi menjelaskan, harga per peti bisa tergantung ukurannya. Untuk peti ukuran standar bisa mencapai Rp 1 juta. Sedangkan peti bayi dijual Rp 600 ribu. Kemudian, untuk ukuran tanggung Rp 1,2 juta. Peti ukuran jumbo dihargai sekitar Rp 1,4 juta. Semua petinya berbahan dari kayu meranti.

Pasokan kayunya diambil dari daerah Kecamatan Puri. ”Sehari. Cepat kok pengerjaannya, yang penting materialnya siap pokok ada semua ya sudah pasti jadi. Yang saya wanti-wanti tukangnya ini untuk jaga kesehatan,” tandasnya. 

Kerajinan peti mati adalah usaha yang tidak biasa dilakukan kalangan awam. Tak sekadar dibutuhkan keahlian. Namun, dalam mengerjakan pesanan, juga tetap mempertimbangkan sisi kemanusiaan. Termasuk tidak membuat susah keluarga yang ditinggalkan.

 

INDAH OCEANANDA, Magersari, Jawa Pos Radar Mojokerto

 

PERAJIN peti mati mulai kebanjiran order. Hal itu dipicu semakin meningkatnya angka kematian pasien Covid-19. Pemilik usaha peti jenazah, Kriswandito, mengaku peningkatan penjualan peti terjadi sejak awal-awal pandemi.

Dalam sehari, dia bisa menyelesaikan antara 7 sampai 10 peti mati. ”Karena gitu nggak tentu juga, karena kadang satu rumah sakit langsung stok tiga buah. Terus biasanya nanti malam tiba-tiba ada orang telepon pesan,” kata Kriswandito yang akrab disapa Andi, kemarin (20/1).

- Advertisement -

Bahkan, tak jarang dalam satu hari peti yang sudah dibuat ludes terjual. Peti mati hasil produksi satu-satunya perajin di Mojokerto ini untuk memenuhi kebutuhan sejumlah rumah sakit rujukan khusus Covid-19. Baik di wilayah Kota maupun Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Ikfina-Barra Optimis Hanya Lawan Independen

Namun, terkadang rumah sakit tak hanya memesan peti dari usahanya saja. ”Rumah sakit juga pesan ke daerah Kesamben, Jombang. Ya cuma kalau di Mojokerto yang perajin peti hanya saya. Daerah Mojokerto lain nggak pernah dengar saya,” ungkap Andi.

Selain itu, dia juga kerap menerima pesanan peti jenazah untuk gereja dan pura. Meskipun pesanan tak pernah sepi, Andi mengaku tak pernah menaikkan harga jual. Dia menuturkan, menjual peti mati sama saja membantu orang susah. Apalagi, kematian merupakan musibah. Sehingga, dia tak sampai hati untuk memanfaatkan kesempatan selama pandemi ini untuk mematok harga tinggi. Termasuk, dalam keadaan pandemi seperti saat ini.

”Buat bantu sesama, juga bantu pekerja saya, pandemi kan apa-apa juga mandek. Ditinggal mati sama keluarga saja sudah sedih, masak kita mau bersyukur kalau banyak yang mati,” terang pria 49 tahun itu.  Usaha peti jenazah milik Andi dulunya merupakan usaha peti milik keluarga ibunya, Purwaningtyas. Berawal dari sang kakek, Sudamono yang berjualan peti di daerah Sooko pada tahun 1970-an. Lalu, diteruskan oleh sang ibu baru kemudian dia lanjutkan.

Baca Juga :  Nasib Pemain-Pelatih di Tangan Manajer Persem

Sehingga, usaha peti mati ini sudah berjalan tiga generasi. Andi menyebutkan, baru tiga tahun terakhir ini dia memindahkan usahanya ke kawasan Jalan Trunojoyo, Kelurahan/Kecamatan Magersari. ”Saya hanya melanjutkan usaha ibu saya, kalau dulu malah sehari sering nggak ada yang beli. Ya baru ramai pas korona (pandemi) ini,” tuturnya.

Andi menjelaskan, harga per peti bisa tergantung ukurannya. Untuk peti ukuran standar bisa mencapai Rp 1 juta. Sedangkan peti bayi dijual Rp 600 ribu. Kemudian, untuk ukuran tanggung Rp 1,2 juta. Peti ukuran jumbo dihargai sekitar Rp 1,4 juta. Semua petinya berbahan dari kayu meranti.

Pasokan kayunya diambil dari daerah Kecamatan Puri. ”Sehari. Cepat kok pengerjaannya, yang penting materialnya siap pokok ada semua ya sudah pasti jadi. Yang saya wanti-wanti tukangnya ini untuk jaga kesehatan,” tandasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/