alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Figur Gus Falaq Kian Menguat

KABUPATEN, Jawa Pos Radar MojokertoMeski terbilang masih hangat-hangat kuku, interest elemen masyarakat menyambut Pilkada 2020 saat ini mulai tak terbendung. Bahkan, bermunculan kelompok pemuda dan masyarakat dengan menawarkan figur yang dinilai laik untuk diusung running sebagai bakal calon bupati (bacabup) maupun bakal calon wakil bupati (bacawabup).

Terbaru, datang dari kalangan santri dan pesantren yang tergabung dalam Jaringan Santri Majapahit (Jisim) Mojokerto. Secara terbuka, mereka terang-terangan menyebut figur berlatar belakang santri patut untuk dipertimbangkan sebagai orang nomor satu maupun nomor dua di lingkungan Pemkab Mojokerto, periode 2020-2024 mendatang. Salah satunya adalah sosok

KH Falaqul Alam. Katib Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto ini, menduduki ranking satu dalam bursa bacabup dan bacawabup yang masuk seleksi penjaringan nama dari kalangan santri tersebut. Kiai asal Dawarblandong itu mengungguli kader ”hijau” lainnya. Seperti mantan wakil bupati Choirunnisa,  dan Ayni Zuroh, ketua DPRD Kabupaten Mojokerto.

Koordinator Jisim Zamroni Umar mengungkapkan, terdapat beberapa nama yang telah dikantongi menyambut kontestasi pilbup mendatang. ”Mereka semua berlatar belakang santri. Namun, telah menunjukkan kompetensinya menjadi seorang pemimpin,” ungkapnya kemarin.

Baca Juga :  Khazanah Kudapan Caelifera, Kandungan Proteinnya Dikenal Tinggi

Figur yang masuk dalam penjaringan internal ini sebelumnya juga santer disebut oleh beberapa pihak.

Di antaranya, KH Falaqul Alam (Katib Syuriah PCNU Kabupaten Mojokerto), Choirunnisa(wakil bupati Mojokerto periode 2010-2015), Moh. Afif (wakil Bendahara PCNU Kabupaten Mojokerto sekaligus kades Pesanggrahan), Ayni Zuroh (Ketua DPRD dan Ketua DPC PKB Kabupaten Mojokerto), serta Gus Ali M. Nasikh (ketua PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto).

Zamroni menjelaskan, mama-nama tersebut dinilai mempunyai kapasitas yang mumpuni dan berpengalaman di bidang masing-masing. Terutama, ngemong (membimbing) dan menata masyarakat.

”Baik di pemerintahan maupun di tingkat masyarakat bawah. Sehingga mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat, terutama bagi kaum santri dan pesantren,” tandasnya.

Catatan beberapa nama tersebut, lanjut Zamroni, bukan sekadar latah politik atau untuk meramaikan bursa pilkada. Namun, Jisim, dalam hal ini menyatakan serius dan komitmen ingin membangun Kabupaten Mojokerto lebih baik. Dia juga menyinggung, era bupati Achmadi.

Baca Juga :  Beragam Bunga Hias Ini Berbahan Baku dari Sabun Mandi

Terlepas dari perkara korupsi yang membelit, Zamroni menilai, kaum santri sudah merasakan banyak dampak positif ketika Achmadi menjabat sebagai bupati.

”Setelah itu, belum ada lagi bupati yang mempunyai perhatian lebih kepada kaum santri. Meskipun ada wakil bupati Choirunnisa yang saat itu menjadi wabup. Namun, dengan kewenangan terbatas, tentu terbatas pula kewenangannya,” tandasnya.

Sehingga, bila nama-nama tersebut mendapat respons positif masyarakat, termasuk partai politik (parpol), ia meminta agar memiliki kesamaan visi-misi. Bersama-sama membangun kabupaten lebih martabat, berkualitas, dan mampu melayani masyarakat dengan baik dan berkeadilan.

Saat ini, di kabupaten terdapat kurang lebih 117 lembaga. Namun, belakangan di dalam RPJMD hampir tidak pernah ditemukan nama pesantren diperjuangkan. Padahal, lanjut Zamroni, basis pesantren adalah ujung tombak sekaligus penyeimbang arah kebijakan pemerintahan di daerah.

”Kami sebagai kader Nahdlatul Ulama amat sangat terbuka dengan siapapun yang memiliki kesamaan dalam membesarkan nama kabupaten ke depan. Khususnya, dalam hal menyambut pesta demokrasi daerah ini,” pungkasnya.

KABUPATEN, Jawa Pos Radar MojokertoMeski terbilang masih hangat-hangat kuku, interest elemen masyarakat menyambut Pilkada 2020 saat ini mulai tak terbendung. Bahkan, bermunculan kelompok pemuda dan masyarakat dengan menawarkan figur yang dinilai laik untuk diusung running sebagai bakal calon bupati (bacabup) maupun bakal calon wakil bupati (bacawabup).

Terbaru, datang dari kalangan santri dan pesantren yang tergabung dalam Jaringan Santri Majapahit (Jisim) Mojokerto. Secara terbuka, mereka terang-terangan menyebut figur berlatar belakang santri patut untuk dipertimbangkan sebagai orang nomor satu maupun nomor dua di lingkungan Pemkab Mojokerto, periode 2020-2024 mendatang. Salah satunya adalah sosok

KH Falaqul Alam. Katib Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto ini, menduduki ranking satu dalam bursa bacabup dan bacawabup yang masuk seleksi penjaringan nama dari kalangan santri tersebut. Kiai asal Dawarblandong itu mengungguli kader ”hijau” lainnya. Seperti mantan wakil bupati Choirunnisa,  dan Ayni Zuroh, ketua DPRD Kabupaten Mojokerto.

Koordinator Jisim Zamroni Umar mengungkapkan, terdapat beberapa nama yang telah dikantongi menyambut kontestasi pilbup mendatang. ”Mereka semua berlatar belakang santri. Namun, telah menunjukkan kompetensinya menjadi seorang pemimpin,” ungkapnya kemarin.

Baca Juga :  Bohemian Style, Etnik nan Stylish

Figur yang masuk dalam penjaringan internal ini sebelumnya juga santer disebut oleh beberapa pihak.

Di antaranya, KH Falaqul Alam (Katib Syuriah PCNU Kabupaten Mojokerto), Choirunnisa(wakil bupati Mojokerto periode 2010-2015), Moh. Afif (wakil Bendahara PCNU Kabupaten Mojokerto sekaligus kades Pesanggrahan), Ayni Zuroh (Ketua DPRD dan Ketua DPC PKB Kabupaten Mojokerto), serta Gus Ali M. Nasikh (ketua PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto).

- Advertisement -

Zamroni menjelaskan, mama-nama tersebut dinilai mempunyai kapasitas yang mumpuni dan berpengalaman di bidang masing-masing. Terutama, ngemong (membimbing) dan menata masyarakat.

”Baik di pemerintahan maupun di tingkat masyarakat bawah. Sehingga mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat, terutama bagi kaum santri dan pesantren,” tandasnya.

Catatan beberapa nama tersebut, lanjut Zamroni, bukan sekadar latah politik atau untuk meramaikan bursa pilkada. Namun, Jisim, dalam hal ini menyatakan serius dan komitmen ingin membangun Kabupaten Mojokerto lebih baik. Dia juga menyinggung, era bupati Achmadi.

Baca Juga :  Wabup Pungkasiadi Tinggal Tunggu SK Mendagri

Terlepas dari perkara korupsi yang membelit, Zamroni menilai, kaum santri sudah merasakan banyak dampak positif ketika Achmadi menjabat sebagai bupati.

”Setelah itu, belum ada lagi bupati yang mempunyai perhatian lebih kepada kaum santri. Meskipun ada wakil bupati Choirunnisa yang saat itu menjadi wabup. Namun, dengan kewenangan terbatas, tentu terbatas pula kewenangannya,” tandasnya.

Sehingga, bila nama-nama tersebut mendapat respons positif masyarakat, termasuk partai politik (parpol), ia meminta agar memiliki kesamaan visi-misi. Bersama-sama membangun kabupaten lebih martabat, berkualitas, dan mampu melayani masyarakat dengan baik dan berkeadilan.

Saat ini, di kabupaten terdapat kurang lebih 117 lembaga. Namun, belakangan di dalam RPJMD hampir tidak pernah ditemukan nama pesantren diperjuangkan. Padahal, lanjut Zamroni, basis pesantren adalah ujung tombak sekaligus penyeimbang arah kebijakan pemerintahan di daerah.

”Kami sebagai kader Nahdlatul Ulama amat sangat terbuka dengan siapapun yang memiliki kesamaan dalam membesarkan nama kabupaten ke depan. Khususnya, dalam hal menyambut pesta demokrasi daerah ini,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/