alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Sehari Habiskan 20 Kg Iga, Pelanggan Datang dari Ibu Kota

Selain keindahan wisata alamnya, Kecamatan Trawas juga menyuguhkan olahan kuliner khasnya. Salah satunya adalah rawon daplang. Menu makanan ini dikenal dengan olahan daging iganya.

Jika berkunjung ke Trawas, tidak ada salahnya untuk mampir ke Dusun/Desa Cembor, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Sebab, ada salah satu warung yang menyuguhkan menu yang rasanya tidak diragukan lagi. Yakni, rawon daplang.

Rawon adalah salah satu makanan favorit masyarakat di Jawa Timur. Namun, rawon daplang memiliki ciri khas dengan olahan tulang iganya yang lezat. Selain itu, lokasinya yang berada di tengah hutan Trawas akan menambah sejuk suasana.

Adalah Herlambang, 50, pemilik warung. Menurutnya, rawon daplang diambil dari istilah yang menunjukkan tempat. Menurutnya, di lokasi berdirinya warung miliknya itu dikenal warga sekitar dengan lokasi daplang. ’’Orang sepuh (tua) menyebut lokasi daplang. Menurut cerita, istilah daplang adalah tempat awal masuknya penjajah Belanda dulu,’’ terangnya.

Akhirnya, dia pun memilih daplang sebagai pendamping dari menu rawon yang dijualnya. Tujuannya, agar masyarakat lebih familier dan gampang dihafal. Herlambang mengatakan, dia membuka warung sejak 1992 silam. Bapak dua anak ini merupakan orang pertama yang berjualan di daplang.

Baca Juga :  Juara I Lomba Dongeng Islami Se-Jatim, Bawakan Cerita Rasulullah

Awalnya hanya menjual bakso dan makanan pendamping lainnya. Karena berada di jalur wisata Pacet-Trawas, kawasan tersebut akhirnya ramai didatangi pengunjung. Hingga akhirnya banyak berdiri warung-warung lainnya. ’’Jadi, banyak yang menjajakan menu bakso. Akhirnya saya membuat inovasi baru dengan menu rawon. Dan alhamdulillah responsnya bagus,’’ ujarnya.

Rawon daplang tersebut dimulai sekitar 2012 lalu. Salah satu yang membedakan rawon pada umumnya, dia menambahkan tulang iga di dalam masakannya. Selain itu, satu porsi piring juga dilengkapi dengan irisan daging empal dan tempe.

Meski baru menginjak 5 tahun, namun rawon daplang sudah dikenal luas oleh masayarakat. Selain dari Mojokerto, pelanggan juga banyak dari luar kota. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan Lamongan. ’’Terjauh ada pelanggan khusus dari Jakarta, setiap berkunjung ke Mojokerto pasti ke sini,’’ terangnya.

Bahkan, tidak jarang juga menjadi jujukan pejabat-pejabat yang kebetulan sedang berdinas ke Kecamatan Trawas. Dia menyebutkan, mulai dari pejabat tingkat desa, kecamatan, maupun pejabat di Kabupaten Mojokerto. ’’Pak Bupati (Mustofa Kamal Pasa, Red) juga menyempatkan mampir kalau ada kegiatan ke Trawas,’’ ujarnya.

Setiap hari, warungnya dibuka mulai pukul 06.00 dan tutup 18.00. Sebelum pulang, Herlambang dibantu istrinya Waeik Sudarwati, langsung memasak untuk persiapan menu keesokan harinya.

Baca Juga :  Karena Minim Fasilitas Memadai

Untuk bahan baku sendiri, setiap hari menghabiskan rata-rata 5 kg daging sapi segar dan 20 kg iga sapi. ’’Kalau hari Minggu atau hari libur, meningkat dua kali lipat,’’ terangnya.

Daging dan iga tersebut dipasok dari Pasar Pacet dan Pandaan. Herlambang menyebutkan, untuk membuat daging iga menjadi empuk dibutuhkan proses memasak yang cukup lama. ’’Khusus memasak iga memang harus ekstra, kurang lebih harus direbus selama 1 jam,’’ urainya.

Dia mengaku, bumbu yang dipakai sama seperti bumbu rawon pada umumnya. Sedikitnya, setiap 3 hari sekali dia menghabiskan 20 kg bumbu rawon. Dia pun tak jarang ditanyai resep dari para pelanggannya. Bahkan ada yang pesan khusus hanya pesan bumbunya saja. ’’Kalau ada teman-teman atau pelanggan minta ya kita kasih,’’ tandasnya.

Warung semi permanen yang awalnya hanya seluas 3 meter x 5 meter, kini diperluas menjadi 10 meter persegi. Warung juga dibuat dengan konsep lesehan dengan background pepohonan di hutan Trawas. Bahkan, pelanggan pun bisa memanjakan mata dengan menikmati pemandangan Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang.

 

 

Selain keindahan wisata alamnya, Kecamatan Trawas juga menyuguhkan olahan kuliner khasnya. Salah satunya adalah rawon daplang. Menu makanan ini dikenal dengan olahan daging iganya.

Jika berkunjung ke Trawas, tidak ada salahnya untuk mampir ke Dusun/Desa Cembor, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Sebab, ada salah satu warung yang menyuguhkan menu yang rasanya tidak diragukan lagi. Yakni, rawon daplang.

Rawon adalah salah satu makanan favorit masyarakat di Jawa Timur. Namun, rawon daplang memiliki ciri khas dengan olahan tulang iganya yang lezat. Selain itu, lokasinya yang berada di tengah hutan Trawas akan menambah sejuk suasana.

Adalah Herlambang, 50, pemilik warung. Menurutnya, rawon daplang diambil dari istilah yang menunjukkan tempat. Menurutnya, di lokasi berdirinya warung miliknya itu dikenal warga sekitar dengan lokasi daplang. ’’Orang sepuh (tua) menyebut lokasi daplang. Menurut cerita, istilah daplang adalah tempat awal masuknya penjajah Belanda dulu,’’ terangnya.

Akhirnya, dia pun memilih daplang sebagai pendamping dari menu rawon yang dijualnya. Tujuannya, agar masyarakat lebih familier dan gampang dihafal. Herlambang mengatakan, dia membuka warung sejak 1992 silam. Bapak dua anak ini merupakan orang pertama yang berjualan di daplang.

Baca Juga :  Gradasi Abu-Abu Paling Diminati

Awalnya hanya menjual bakso dan makanan pendamping lainnya. Karena berada di jalur wisata Pacet-Trawas, kawasan tersebut akhirnya ramai didatangi pengunjung. Hingga akhirnya banyak berdiri warung-warung lainnya. ’’Jadi, banyak yang menjajakan menu bakso. Akhirnya saya membuat inovasi baru dengan menu rawon. Dan alhamdulillah responsnya bagus,’’ ujarnya.

- Advertisement -

Rawon daplang tersebut dimulai sekitar 2012 lalu. Salah satu yang membedakan rawon pada umumnya, dia menambahkan tulang iga di dalam masakannya. Selain itu, satu porsi piring juga dilengkapi dengan irisan daging empal dan tempe.

Meski baru menginjak 5 tahun, namun rawon daplang sudah dikenal luas oleh masayarakat. Selain dari Mojokerto, pelanggan juga banyak dari luar kota. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan Lamongan. ’’Terjauh ada pelanggan khusus dari Jakarta, setiap berkunjung ke Mojokerto pasti ke sini,’’ terangnya.

Bahkan, tidak jarang juga menjadi jujukan pejabat-pejabat yang kebetulan sedang berdinas ke Kecamatan Trawas. Dia menyebutkan, mulai dari pejabat tingkat desa, kecamatan, maupun pejabat di Kabupaten Mojokerto. ’’Pak Bupati (Mustofa Kamal Pasa, Red) juga menyempatkan mampir kalau ada kegiatan ke Trawas,’’ ujarnya.

Setiap hari, warungnya dibuka mulai pukul 06.00 dan tutup 18.00. Sebelum pulang, Herlambang dibantu istrinya Waeik Sudarwati, langsung memasak untuk persiapan menu keesokan harinya.

Baca Juga :  Bentuk Skuad Tim U-15

Untuk bahan baku sendiri, setiap hari menghabiskan rata-rata 5 kg daging sapi segar dan 20 kg iga sapi. ’’Kalau hari Minggu atau hari libur, meningkat dua kali lipat,’’ terangnya.

Daging dan iga tersebut dipasok dari Pasar Pacet dan Pandaan. Herlambang menyebutkan, untuk membuat daging iga menjadi empuk dibutuhkan proses memasak yang cukup lama. ’’Khusus memasak iga memang harus ekstra, kurang lebih harus direbus selama 1 jam,’’ urainya.

Dia mengaku, bumbu yang dipakai sama seperti bumbu rawon pada umumnya. Sedikitnya, setiap 3 hari sekali dia menghabiskan 20 kg bumbu rawon. Dia pun tak jarang ditanyai resep dari para pelanggannya. Bahkan ada yang pesan khusus hanya pesan bumbunya saja. ’’Kalau ada teman-teman atau pelanggan minta ya kita kasih,’’ tandasnya.

Warung semi permanen yang awalnya hanya seluas 3 meter x 5 meter, kini diperluas menjadi 10 meter persegi. Warung juga dibuat dengan konsep lesehan dengan background pepohonan di hutan Trawas. Bahkan, pelanggan pun bisa memanjakan mata dengan menikmati pemandangan Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang.

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/