alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Diminta Puasa untuk Hilangkan Rasa Takut dan Grogi

SEBAGAI orang tua, Mukhammad Akbar, 36, harus bisa memanfaatkan waktu di tengah pemerintah menerapkan sistem pembelajaran daring di tengah pandemi Covid-19. Tak mau anaknya terlena, warga Dusun Tuwiri, Desa Seduri ini pun getol melatih anaknya sebagai atlet paramotor junior. Sekaligus dipersiapkan menyambut PON.

 

KHUDORI ALIANDU, Mojosari, Jawa Pos Radar Mojokerto

 

HARI sudah sore. Namun, semangat dua calon atlet muda ini perlu diacungi jempol. Di tengah teman seusianya asyik bermain gadget, mereka justru bertekad ingin menjadi atlet paramotor profesional.

 

Remaja kakak-beradik ini adalah Wahyu Wijaya, 15, dan Arjun Langgeng Wijaya, 14. ’’Yang pertama itu kelas satu SMA Negeri 1 Mojosari dan adiknya kelas dua SMP Negeri 1 Mojosari,’’ ungkap Ilung, sapaan akrab Mukhammad Akbar, di tengah melatih kedua putranya.

 

Ilung memiliki keinginan kuat menjadikan kedua putranya ikuti jejaknya sebagai atlet paramotor yang pernah mengharumkan nama Indonesia di ajang Asian Games. Yakni, dengan meraih juara tiga di kelas power paragliding. ’’Kebetulan ini kan sekolah lagi daring. Daripada bermain tak ada manfaat, lebih baik saya latih,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Sesepuh Ponpes Cipasung Doakan Airlangga Jadi Presiden

Keduanya disebut-sebut bakal dipersiapkan dalam event Pekan Olahraga Nasional (PON) yang bakal digelar di Provinsi Aceh empat tahun lagi. Memanfaatkan lahan terbuka di wilayah Kecamatan Pungging, setiap hari Ilung getol melatih anak-anaknya terbang memakai paramotor.

’’Sebagai pemula latihannya cukup dua jam. Dari jam 15.00 sampai 17.00. Tapi, rutin,’’ ujarnya. Mengajak berlatih anaknya di usia pelajar memang tidak mudah. Dirinya harus punya strategi agar keduanya mau berlatih sesuai keinginannya. Yakni, dengan mengajak teman sebaya anaknya melihat saat dirinya sedang ada skill-nya setiap sore. Apalagi, sebelumnya mereka juga tak pernah tertarik dengan paramotor.

Tak hanya melihat, namun juga mengajak mereka terbang memakai paramotor miliknya. Alhasil, berjalannya waktu keinginan muncul dari keduanya. Bahkan, sekarang dia terbang kurang puas. Mereka punya keinginan manuver di udara. ’’Tapi, tidak saya bolehkan. Saya minta mereka tetap konsisten terbang landing. Terbang landing gitu saja. Karena jika jam terbangnya banyak, manuver itu akan bisa dengan sendirinya,’’ paparnya.

Baca Juga :  Modifikasi Custom Scrambler Ninja 250R LE Tahun 2011

Ilung menargetkan dua putranya bisa masuk lima besar dalam seleksi tingkat Pemprov Jatim. Untuk itu, latihan yang sudah berjalan tiga bulan terkhir ini banyak strategi-strategi menjadi atlet profesional terus diajarkan. Mulai dari teknik dasar hingga strategi menghilangkan rasa grogi dan takut. Yakni, dengan sering-sering berpuasa. ’’Puasa untuk tidak grogi. Itu untuk melatih mental. Biar bisa mengalahkan rasa takut. Rasa groginya itu biar bisa dilawan,’’ bebernya.

Dengan tiap hari latihan, diharapkan keduanya bisa banyak jam terbang. Sehingga, secara sadar mereka bakal bisa mengenali karakter parasut dan karakter angin. Sebab, di ajang seleksi tingkat provinsi nanti, keduanya juga bakal berkompetisi dengan para atlet seluruh Jatim. Termasuk dirinya sendiri. ’’Iya, saya juga akan bersaing dengan anak. Tapi, yang penting anak saya bisa masuk di seleksi itu dan bisa lolos untuk  dikirim mewakili dalam kejuaraan. Yang dipilih kan lima atlet,’’ jelasnya.

SEBAGAI orang tua, Mukhammad Akbar, 36, harus bisa memanfaatkan waktu di tengah pemerintah menerapkan sistem pembelajaran daring di tengah pandemi Covid-19. Tak mau anaknya terlena, warga Dusun Tuwiri, Desa Seduri ini pun getol melatih anaknya sebagai atlet paramotor junior. Sekaligus dipersiapkan menyambut PON.

 

KHUDORI ALIANDU, Mojosari, Jawa Pos Radar Mojokerto

 

HARI sudah sore. Namun, semangat dua calon atlet muda ini perlu diacungi jempol. Di tengah teman seusianya asyik bermain gadget, mereka justru bertekad ingin menjadi atlet paramotor profesional.

 

- Advertisement -

Remaja kakak-beradik ini adalah Wahyu Wijaya, 15, dan Arjun Langgeng Wijaya, 14. ’’Yang pertama itu kelas satu SMA Negeri 1 Mojosari dan adiknya kelas dua SMP Negeri 1 Mojosari,’’ ungkap Ilung, sapaan akrab Mukhammad Akbar, di tengah melatih kedua putranya.

 

Ilung memiliki keinginan kuat menjadikan kedua putranya ikuti jejaknya sebagai atlet paramotor yang pernah mengharumkan nama Indonesia di ajang Asian Games. Yakni, dengan meraih juara tiga di kelas power paragliding. ’’Kebetulan ini kan sekolah lagi daring. Daripada bermain tak ada manfaat, lebih baik saya latih,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Sesepuh Ponpes Cipasung Doakan Airlangga Jadi Presiden

Keduanya disebut-sebut bakal dipersiapkan dalam event Pekan Olahraga Nasional (PON) yang bakal digelar di Provinsi Aceh empat tahun lagi. Memanfaatkan lahan terbuka di wilayah Kecamatan Pungging, setiap hari Ilung getol melatih anak-anaknya terbang memakai paramotor.

’’Sebagai pemula latihannya cukup dua jam. Dari jam 15.00 sampai 17.00. Tapi, rutin,’’ ujarnya. Mengajak berlatih anaknya di usia pelajar memang tidak mudah. Dirinya harus punya strategi agar keduanya mau berlatih sesuai keinginannya. Yakni, dengan mengajak teman sebaya anaknya melihat saat dirinya sedang ada skill-nya setiap sore. Apalagi, sebelumnya mereka juga tak pernah tertarik dengan paramotor.

Tak hanya melihat, namun juga mengajak mereka terbang memakai paramotor miliknya. Alhasil, berjalannya waktu keinginan muncul dari keduanya. Bahkan, sekarang dia terbang kurang puas. Mereka punya keinginan manuver di udara. ’’Tapi, tidak saya bolehkan. Saya minta mereka tetap konsisten terbang landing. Terbang landing gitu saja. Karena jika jam terbangnya banyak, manuver itu akan bisa dengan sendirinya,’’ paparnya.

Baca Juga :  Bikin Pot dan Tong Sampah Karakter Kartun

Ilung menargetkan dua putranya bisa masuk lima besar dalam seleksi tingkat Pemprov Jatim. Untuk itu, latihan yang sudah berjalan tiga bulan terkhir ini banyak strategi-strategi menjadi atlet profesional terus diajarkan. Mulai dari teknik dasar hingga strategi menghilangkan rasa grogi dan takut. Yakni, dengan sering-sering berpuasa. ’’Puasa untuk tidak grogi. Itu untuk melatih mental. Biar bisa mengalahkan rasa takut. Rasa groginya itu biar bisa dilawan,’’ bebernya.

Dengan tiap hari latihan, diharapkan keduanya bisa banyak jam terbang. Sehingga, secara sadar mereka bakal bisa mengenali karakter parasut dan karakter angin. Sebab, di ajang seleksi tingkat provinsi nanti, keduanya juga bakal berkompetisi dengan para atlet seluruh Jatim. Termasuk dirinya sendiri. ’’Iya, saya juga akan bersaing dengan anak. Tapi, yang penting anak saya bisa masuk di seleksi itu dan bisa lolos untuk  dikirim mewakili dalam kejuaraan. Yang dipilih kan lima atlet,’’ jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/