alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Meruwat Sumber Air Empat Penjuru Gunung Penanggungan

MOJOKERTO – Sumber air Petirtaan Jolotundo di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, diruwat Selasa (18/9).

Hal itu, agar keberadaan sumber airnya tetap lestari dan terjaga kealamiannya. ’’Kami ingin sumber air yang selalu memenuhi kebutuhan hidup masyarakat ini tetap terjaga dan berkah,’’ ungkap Mukadi, ketua panitia ruwatan.

Tradisi turun temurun ini juga dilakukan ritual pengambilan air di 33 titik sumber mata air dari empat penjuru Gunung Penanggungan. Antara lain, di lereng barat, lereng selatan, lereng timur, dan lereng utara.

Kata dia, ruwatan ini tak lain untuk menjaga sekaligus melestarikan dan mengenalkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Bahwa, ada tradisi yang masih terus dipertahankan oleh masyarkaat setempat. ’’Ini juga sebagai bentuk wujud syukur kami sebagai masyarakat,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Ngumbah Samurai di Malam 1 Sura, Wisatawan Gresik Diciduk

Setelah pengambilan air, masyarakat membawa tumpeng, sayuran, buah-buahan dan jajan hasil bumi. Tumpeng kemudian diarak dari gapura masuk ke Petirtaan Jolotundo hingga menuju sumber air.

Kemudian dilanjutkan Ritual Panyuwunan atau memuji Gusti Allah untuk mendapatkan restu dan keberkahan. Setelah Ritual Panyuwunan selesai dilanjutkan prosesi menyatukan 33 air yang telah diambil melalui prosesi Manunggaling Tirta Suci di Petirtaan Jolotundo.

Menurut Mukadi, sejauh ini masyarakat meyakini Gunung Suci itu merupakan gunung yang harus dijaga kesakralannya. Salah satunya dengan menjaga kelestarian sumber mata air yang tak pernah habis dan surut, meski di puncak musim kemarau sekalipun. ’’Kepercayaan kami, air merupakan sumber kehidupan dan sumber kemakmuran,’’ tandasnya.

Sebab, air merupakan kebutuhan mutlak bagi umat manusia. Sehingga, ruwatan ini diharapkan dapat menjaga keutuhan dan keseimbangan alam dan budaya yang selalu lestari di tengah masyarakat yang menjungjung tinggi adat-istiadat.

Baca Juga :  Berbahan Daur Ulang, Jadi Buruan Kota Besar

Ruwatan yang berlangsung di lereng Gunung Pawitra ini banyak menyedot perhatian masyarakat dari berbagai daerah untuk turut mencari berkah. ’’Ngalap berkah. Baru tahun ini saya ke sini. Tertarik karena bisa membuat awet muda,’’ ungkap Faustinus Sendi, 26, warga Surabaya.

Bahkan, keyakinan terkait khasiat air petirtaan ini juga setiap harinya membuat masyarakat berbondong-bondong datang. Selain mandi, mereka juga mengambil air yang diyakini mampu membantu pengobatan. ’’Hampir setiap bulan saya ke sini mandi,’’ tambah Nur Setiyawati, warga lainnya.

Alasannya pun seperti masayarakat pada umumnya. Setelah mandi di aliran petirtaan, dia merasa lebih fresh dan merasa lebih awet mudah. ’’Sugestinya bagus. Kalau habis mandi otak bisa lebih cair. Pikiran juga bisa muncul ide-ide cemerlang,’’ pungkasnya.

 

MOJOKERTO – Sumber air Petirtaan Jolotundo di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, diruwat Selasa (18/9).

Hal itu, agar keberadaan sumber airnya tetap lestari dan terjaga kealamiannya. ’’Kami ingin sumber air yang selalu memenuhi kebutuhan hidup masyarakat ini tetap terjaga dan berkah,’’ ungkap Mukadi, ketua panitia ruwatan.

Tradisi turun temurun ini juga dilakukan ritual pengambilan air di 33 titik sumber mata air dari empat penjuru Gunung Penanggungan. Antara lain, di lereng barat, lereng selatan, lereng timur, dan lereng utara.

Kata dia, ruwatan ini tak lain untuk menjaga sekaligus melestarikan dan mengenalkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Bahwa, ada tradisi yang masih terus dipertahankan oleh masyarkaat setempat. ’’Ini juga sebagai bentuk wujud syukur kami sebagai masyarakat,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Nataru, Wisata Harus Bentuk Satgas
- Advertisement -

Setelah pengambilan air, masyarakat membawa tumpeng, sayuran, buah-buahan dan jajan hasil bumi. Tumpeng kemudian diarak dari gapura masuk ke Petirtaan Jolotundo hingga menuju sumber air.

Kemudian dilanjutkan Ritual Panyuwunan atau memuji Gusti Allah untuk mendapatkan restu dan keberkahan. Setelah Ritual Panyuwunan selesai dilanjutkan prosesi menyatukan 33 air yang telah diambil melalui prosesi Manunggaling Tirta Suci di Petirtaan Jolotundo.

Menurut Mukadi, sejauh ini masyarakat meyakini Gunung Suci itu merupakan gunung yang harus dijaga kesakralannya. Salah satunya dengan menjaga kelestarian sumber mata air yang tak pernah habis dan surut, meski di puncak musim kemarau sekalipun. ’’Kepercayaan kami, air merupakan sumber kehidupan dan sumber kemakmuran,’’ tandasnya.

Sebab, air merupakan kebutuhan mutlak bagi umat manusia. Sehingga, ruwatan ini diharapkan dapat menjaga keutuhan dan keseimbangan alam dan budaya yang selalu lestari di tengah masyarakat yang menjungjung tinggi adat-istiadat.

Baca Juga :  Tujuan Luar Kota Harus Estafet

Ruwatan yang berlangsung di lereng Gunung Pawitra ini banyak menyedot perhatian masyarakat dari berbagai daerah untuk turut mencari berkah. ’’Ngalap berkah. Baru tahun ini saya ke sini. Tertarik karena bisa membuat awet muda,’’ ungkap Faustinus Sendi, 26, warga Surabaya.

Bahkan, keyakinan terkait khasiat air petirtaan ini juga setiap harinya membuat masyarakat berbondong-bondong datang. Selain mandi, mereka juga mengambil air yang diyakini mampu membantu pengobatan. ’’Hampir setiap bulan saya ke sini mandi,’’ tambah Nur Setiyawati, warga lainnya.

Alasannya pun seperti masayarakat pada umumnya. Setelah mandi di aliran petirtaan, dia merasa lebih fresh dan merasa lebih awet mudah. ’’Sugestinya bagus. Kalau habis mandi otak bisa lebih cair. Pikiran juga bisa muncul ide-ide cemerlang,’’ pungkasnya.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/