alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Sedekah Bumi Warga Pinggiran, Persembahan untuk Leluhur

SUARA gamelan sayup terdengar dari kejauhan. Semakin mendekat, aroma kemenyan dan bunga-bunga semakin kuat menyeruak di antara celah pohon dan udara pagi menjelang siang, Rabu lalu.

Di tengah pepunden di ujung desa, hari itu merupakan pengujung bulan Rajab. Warga Dusun Sekiping, Desa Kecamatan Dawarblandong, melaksanakan ruwat bumi atau sedekah desa. Warga setempat menggelar sedekah bumi sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah panen dan keselamatan warga sekitar.

Setiap tahun, acara tersebut digelar di pepunden desa. Di lokasi tersebut terdapat sumber mata air yang dahulunya adalah satu-satunya sumber mata air di kawasan tersebut sebelum ada saluran PDAM.

Baca Juga :  Primadona Baru di Lereng Pegunungan

Wayang dan tayub adalah persembahan bagi leluhur. Doa-doa dipanjatkan sebelum pementasan. Di sisi lain, warga setempat terus berduyun-duyun untuk memadati pepunden. Tokoh masyarakat, Suroso, mengatakan, pagelaran wayang dan tayub tersebut sekaligus untuk melestarikan seni tradisi. Terutama Jawa Timuran.

”Di era modern saat ini jangan sampai kesenian tradisi tergerus dan hilang seiring oleh zaman,” ujarnya. Maka dari itu, lanjut Suroso, setiap tahun desa setempat mengadakan pagelaran serupa. ”Ini wujud syukur masyarakat desa kami, atas berkat dan rahmad Allah, atas limpahan rizeki dan kelestarian budaya kami,” terangnya.

”Kita akan terus melaksanakan acara seperti ini hingga anak cucu kami kelak. Agar memahami tentang adat dan budaya tradisi,” lanjutnya.

Baca Juga :  Nikmati Hangatnya Wedangan dari Ketinggian

SUARA gamelan sayup terdengar dari kejauhan. Semakin mendekat, aroma kemenyan dan bunga-bunga semakin kuat menyeruak di antara celah pohon dan udara pagi menjelang siang, Rabu lalu.

Di tengah pepunden di ujung desa, hari itu merupakan pengujung bulan Rajab. Warga Dusun Sekiping, Desa Kecamatan Dawarblandong, melaksanakan ruwat bumi atau sedekah desa. Warga setempat menggelar sedekah bumi sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah panen dan keselamatan warga sekitar.

Setiap tahun, acara tersebut digelar di pepunden desa. Di lokasi tersebut terdapat sumber mata air yang dahulunya adalah satu-satunya sumber mata air di kawasan tersebut sebelum ada saluran PDAM.

Baca Juga :  Getol Kelola Human Capital

Wayang dan tayub adalah persembahan bagi leluhur. Doa-doa dipanjatkan sebelum pementasan. Di sisi lain, warga setempat terus berduyun-duyun untuk memadati pepunden. Tokoh masyarakat, Suroso, mengatakan, pagelaran wayang dan tayub tersebut sekaligus untuk melestarikan seni tradisi. Terutama Jawa Timuran.

- Advertisement -

”Di era modern saat ini jangan sampai kesenian tradisi tergerus dan hilang seiring oleh zaman,” ujarnya. Maka dari itu, lanjut Suroso, setiap tahun desa setempat mengadakan pagelaran serupa. ”Ini wujud syukur masyarakat desa kami, atas berkat dan rahmad Allah, atas limpahan rizeki dan kelestarian budaya kami,” terangnya.

”Kita akan terus melaksanakan acara seperti ini hingga anak cucu kami kelak. Agar memahami tentang adat dan budaya tradisi,” lanjutnya.

Baca Juga :  Primadona Baru di Lereng Pegunungan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/