alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Memacu Adrenalin, Dambakan Trowulan Menjadi Trendsetter Wisata

Pesona sejarah dan budaya peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan terus menarik perhatian para seniman terkenal. Termasuk tiga pelukis tersohor nasional, Putu Sutawijaya, Joni Ramlan, dan Joko Sudibyo atau Mas Dibyo. Ketiganya kompak mengekspresikan diri dengan melukis on the spot (OTS) di kompleks Candi Wringinlawang, Desa  Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kemarin. 

FARISMA ROMAWAN, Trowulan, Jawa Pos Radar Mojokerto 

OTS di Wringinlawang kali ini dinilai sebagai tantangan mereka dalam berkesenian. Apakah nilai sejarah yang tertuang dalam karya lukisan mampu menggambarkan emosi Trowulan sebagai warisan leluhur yang artistik. Sehingga ke depan bisa menjadi trendsetter wisata yang menarik dikunjungi, baik lokal maupun internasional. Dalam OTS kemarin, ketiga maestro lukis sama-sama menghabiskan waktu hingga tiga jam di kompleks candi.

Masing-masing juga mampu menghasilkan satu lukisan yang divisualisasikan dalam kanvas besar. Meski berbeda karakter dan genre, tetapi ketiganya justru saling memuji atas karya seni yang dihasilkan. Bagi mereka, hasil bukanlah target utama. ’’Ada satu ruang yang tidak sama dengan kerja di studio, yakni ruang silaturahmi. Bagi saya, ini (OTS di Candi Wringinlawang, Red) satu pengalaman atau cara bertemu yang unik di tempat yang hebat,’’ terang Putu Sutawijaya yang jauh-jauh datang dari Jogjakarta.

Baca Juga :  Jumlah Wasit dan Pelatih Minim

Bagi Bli Putu, sapaan akrabnya, melukis OTS di Wringinlawang dapat membangkitkan energinya dalam berkesenian. Apalagi, bentuk artistik candi seperti pintu gerbang dinilai mampu membawa emosinya pada pintu utama kejayaan Kerajaan Majapahit sebagai warisan budaya dan sejarah leluhur masa lampau. Dan dengan cara OTS ini, ke depan bisa memperkenalkan nilai-nilai sejarah dan budaya lebih luas kepada publik.

’’Wringinlawang ini kan seperti welcome gate dan tempat yang artistik. Mungkin tidak hanya dalam konteks visualnya saja, bisa juga dalam konteks arsitektur yang luar biasa. Dengan cara melukis seperti ini semoga bisa kontinu memperkenalkan atau justru kami mendapatkan sesuatu yang dibisa diperkenalkan kepada publik. Kalau seniman punya perhatian justru tempat seperti ini bisa cepat menjadi trendsetter,’’ tegas pemilik galeri Sangkring Art Space, Bantul ini.

Baca Juga :  Jam Tangan Analog atau Digital?

Tak jauh beda dengan bli Putu, Mas Dibyo juga mendapat vibe berbeda dengan berkarya di studio. Bahkan, OTS di Candri Wringinlawang ini adalah pengalaman kedua Mas Dib selama berkesenian. Artinya, ada nilai tersendiri yang ia curahkan pada hasil lukisannya. ’’Pastinya hasil lukisan ini nanti aku koleksi dan disendirikan dari karya-karya lainnya. Karena tempat ini (Wringinlawang, Red) baru yang kedua kalinya saya berkarya OTS,’’ ujar pelukis bergaya ekspresionis ini.

Sementara itu, bagi Joni Ramlan, melukis OTS membawa tantangan besar bagi seniman yang terlibat. Termasuk dirinya yang sangat terpacu dalam mengekspresikan diri dengan spekulasi-spekulasi yang sudah diambil dalam waktu suasana yang berubah-ubah dan dinamis. Dan hal itu yang selama ini tidak ia temui ketika berkarya di studio atau galeri. ’’Kalau di studio kan kami bebas mengekspresikan. Sementara di OTS, kami dituntut dengan kondisi, dan ini yang membutuhkan keputusan-keputusan tepat. Dan ini justru memacu adrenalin dalam berkarya,’’ pungkas pelukis asal Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, tersebut. (abi)

 

Pesona sejarah dan budaya peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan terus menarik perhatian para seniman terkenal. Termasuk tiga pelukis tersohor nasional, Putu Sutawijaya, Joni Ramlan, dan Joko Sudibyo atau Mas Dibyo. Ketiganya kompak mengekspresikan diri dengan melukis on the spot (OTS) di kompleks Candi Wringinlawang, Desa  Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kemarin. 

FARISMA ROMAWAN, Trowulan, Jawa Pos Radar Mojokerto 

OTS di Wringinlawang kali ini dinilai sebagai tantangan mereka dalam berkesenian. Apakah nilai sejarah yang tertuang dalam karya lukisan mampu menggambarkan emosi Trowulan sebagai warisan leluhur yang artistik. Sehingga ke depan bisa menjadi trendsetter wisata yang menarik dikunjungi, baik lokal maupun internasional. Dalam OTS kemarin, ketiga maestro lukis sama-sama menghabiskan waktu hingga tiga jam di kompleks candi.

Masing-masing juga mampu menghasilkan satu lukisan yang divisualisasikan dalam kanvas besar. Meski berbeda karakter dan genre, tetapi ketiganya justru saling memuji atas karya seni yang dihasilkan. Bagi mereka, hasil bukanlah target utama. ’’Ada satu ruang yang tidak sama dengan kerja di studio, yakni ruang silaturahmi. Bagi saya, ini (OTS di Candi Wringinlawang, Red) satu pengalaman atau cara bertemu yang unik di tempat yang hebat,’’ terang Putu Sutawijaya yang jauh-jauh datang dari Jogjakarta.

Baca Juga :  Rindu Anak Semata Wayang

Bagi Bli Putu, sapaan akrabnya, melukis OTS di Wringinlawang dapat membangkitkan energinya dalam berkesenian. Apalagi, bentuk artistik candi seperti pintu gerbang dinilai mampu membawa emosinya pada pintu utama kejayaan Kerajaan Majapahit sebagai warisan budaya dan sejarah leluhur masa lampau. Dan dengan cara OTS ini, ke depan bisa memperkenalkan nilai-nilai sejarah dan budaya lebih luas kepada publik.

’’Wringinlawang ini kan seperti welcome gate dan tempat yang artistik. Mungkin tidak hanya dalam konteks visualnya saja, bisa juga dalam konteks arsitektur yang luar biasa. Dengan cara melukis seperti ini semoga bisa kontinu memperkenalkan atau justru kami mendapatkan sesuatu yang dibisa diperkenalkan kepada publik. Kalau seniman punya perhatian justru tempat seperti ini bisa cepat menjadi trendsetter,’’ tegas pemilik galeri Sangkring Art Space, Bantul ini.

Baca Juga :  Gangguan Jiwa dan Menyimpang Diarahkan Melalui Budaya
- Advertisement -

Tak jauh beda dengan bli Putu, Mas Dibyo juga mendapat vibe berbeda dengan berkarya di studio. Bahkan, OTS di Candri Wringinlawang ini adalah pengalaman kedua Mas Dib selama berkesenian. Artinya, ada nilai tersendiri yang ia curahkan pada hasil lukisannya. ’’Pastinya hasil lukisan ini nanti aku koleksi dan disendirikan dari karya-karya lainnya. Karena tempat ini (Wringinlawang, Red) baru yang kedua kalinya saya berkarya OTS,’’ ujar pelukis bergaya ekspresionis ini.

Sementara itu, bagi Joni Ramlan, melukis OTS membawa tantangan besar bagi seniman yang terlibat. Termasuk dirinya yang sangat terpacu dalam mengekspresikan diri dengan spekulasi-spekulasi yang sudah diambil dalam waktu suasana yang berubah-ubah dan dinamis. Dan hal itu yang selama ini tidak ia temui ketika berkarya di studio atau galeri. ’’Kalau di studio kan kami bebas mengekspresikan. Sementara di OTS, kami dituntut dengan kondisi, dan ini yang membutuhkan keputusan-keputusan tepat. Dan ini justru memacu adrenalin dalam berkarya,’’ pungkas pelukis asal Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, tersebut. (abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/