alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Friday, May 20, 2022

Harus Bertaruh Nyawa, Hasil Tangkapan Dijual untuk Obat

Ular kobra terkenal dengan bisanya yang beracun. Tak jarang orang dibuatnya takut. Namun berbeda dengan Muhammad Arifin, warga Dusun Tunggulmoro, Desa Kutoporong, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Ular berbisa itu justru bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Empedu ular itu diyakini bisa dijadikan obat berbagai penyakit.

SEBAGAI pebisnis empedu ular kobra tentunya bertaruh nyawa. Bagaimana tidak, jika digigit, nyawa bisa melayang. Itulah risiko yang harus dihadapi Cak Bulus, panggilan akrab Muhammad Arifin, dalam pekerjaan yang digeluti sejak tahun 2014.

Pria berusia 43 ini mengaku, sebagian empedu kobra yang dijual diperoleh dari hasil tangkapan sendiri bersama tiga teman kerjanya yang sudah memiliki keahlian husus. Sebab, untuk menangkap ular diperlukan cara yang tepat agar tidak sampai digigit.

Sayangnya, dia tidak bisa merincikan teknik tersebut. ’’Ya hanya pakai sarung tangan, kemudian kepalanya ular itu langsung dipegang dan dipotong. Tapi kalau karyawan saya itu tanpa pakai sarung tangan, kepalanya langsung ditangkap,’’ katanya.

Baca Juga :  Airlangga: Green Energy Peluang Indonesia Selamat dari Krisis Energi Dunia

Setelah ular itu berhasil ditangkap, kemudian empedu dan darahnya diambil untuk dijadiakan sebagai obat. Namun, empedu tersebut harus dijemur selama dua hari sebelum dijadikan obat. Sedangkan, darahnya dicampur dengan madu asli dan diaduknya hingga rata.

Kemudian empedu itu dicampur dengan hasil adukan. ’’Cara mengonsumsi bisa langsung dikonsumsi mentah dicampur dengan madu murni. Tapi bisa juga dikonsumsi yang kering dimasukkan ke kapsul kosong,’’ katanya.

Menurutnya, khasiat empedu dan darah ular itu diyakini bisa mengobati berbagai penyakit. Di antaranya penyakit rematik, liver, ginjal, kencing manis, jantung lemah, asma, lemah syahwat, dan masih banyak khasiat lainnya. ’’Khasiatnya ya cukup banyak, Saya jual satu empedu dengan harga RP 25 ribu. Pembelinya dari Mojokerto, Malang, dan Surabaya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Hujan Angin, Pohon Petai Tujuh Meter Tumbang

Selain menangkap sendiri, dirinya juga membeli dari sejumlah pemburu di luar Mojokerto. Seperti di Jombang dan Probolinggo dengan harga Rp 10 ribu per ekor.  Sehingga, Arifin hanya meraup keuntungan 15 ribu dari hasil penjualan.

Dalam sebulan, dia mampu menjual 50 biji empedu. Jadi, hasil penjualannya selama satu bulan mencapai 1.250.000. ’’Itu masih kotor. Belum untuk membayar karyawan,’’ imbuhnya.

Meski hasil yang didapatkan itu tak berbanding dengan risiko yang dihadapi, Arifin tetap tekun menggeluti. Selama itu, dia mengaku baru sekali digigit ular kobra. Dia pun merasakan sakit lantaran racunnya cepat menyebar ke sekujur tubuh.

Dia pun mengobati sendiri dengan meminum ramuan empedu. ’’Awalnya saya merasa sakit. Tapi setelah minum empedu, racunnya secara pelahan mulai hilang hingga tidak terasa sakit lagi,’’ kata Arifin. (shalihin/abi)

 

 

Ular kobra terkenal dengan bisanya yang beracun. Tak jarang orang dibuatnya takut. Namun berbeda dengan Muhammad Arifin, warga Dusun Tunggulmoro, Desa Kutoporong, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Ular berbisa itu justru bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Empedu ular itu diyakini bisa dijadikan obat berbagai penyakit.

SEBAGAI pebisnis empedu ular kobra tentunya bertaruh nyawa. Bagaimana tidak, jika digigit, nyawa bisa melayang. Itulah risiko yang harus dihadapi Cak Bulus, panggilan akrab Muhammad Arifin, dalam pekerjaan yang digeluti sejak tahun 2014.

Pria berusia 43 ini mengaku, sebagian empedu kobra yang dijual diperoleh dari hasil tangkapan sendiri bersama tiga teman kerjanya yang sudah memiliki keahlian husus. Sebab, untuk menangkap ular diperlukan cara yang tepat agar tidak sampai digigit.

Sayangnya, dia tidak bisa merincikan teknik tersebut. ’’Ya hanya pakai sarung tangan, kemudian kepalanya ular itu langsung dipegang dan dipotong. Tapi kalau karyawan saya itu tanpa pakai sarung tangan, kepalanya langsung ditangkap,’’ katanya.

Baca Juga :  Satu Terapis Tewas Digorok, Satu Lagi Luka Berat

Setelah ular itu berhasil ditangkap, kemudian empedu dan darahnya diambil untuk dijadiakan sebagai obat. Namun, empedu tersebut harus dijemur selama dua hari sebelum dijadikan obat. Sedangkan, darahnya dicampur dengan madu asli dan diaduknya hingga rata.

- Advertisement -

Kemudian empedu itu dicampur dengan hasil adukan. ’’Cara mengonsumsi bisa langsung dikonsumsi mentah dicampur dengan madu murni. Tapi bisa juga dikonsumsi yang kering dimasukkan ke kapsul kosong,’’ katanya.

Menurutnya, khasiat empedu dan darah ular itu diyakini bisa mengobati berbagai penyakit. Di antaranya penyakit rematik, liver, ginjal, kencing manis, jantung lemah, asma, lemah syahwat, dan masih banyak khasiat lainnya. ’’Khasiatnya ya cukup banyak, Saya jual satu empedu dengan harga RP 25 ribu. Pembelinya dari Mojokerto, Malang, dan Surabaya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Airlangga: Green Energy Peluang Indonesia Selamat dari Krisis Energi Dunia

Selain menangkap sendiri, dirinya juga membeli dari sejumlah pemburu di luar Mojokerto. Seperti di Jombang dan Probolinggo dengan harga Rp 10 ribu per ekor.  Sehingga, Arifin hanya meraup keuntungan 15 ribu dari hasil penjualan.

Dalam sebulan, dia mampu menjual 50 biji empedu. Jadi, hasil penjualannya selama satu bulan mencapai 1.250.000. ’’Itu masih kotor. Belum untuk membayar karyawan,’’ imbuhnya.

Meski hasil yang didapatkan itu tak berbanding dengan risiko yang dihadapi, Arifin tetap tekun menggeluti. Selama itu, dia mengaku baru sekali digigit ular kobra. Dia pun merasakan sakit lantaran racunnya cepat menyebar ke sekujur tubuh.

Dia pun mengobati sendiri dengan meminum ramuan empedu. ’’Awalnya saya merasa sakit. Tapi setelah minum empedu, racunnya secara pelahan mulai hilang hingga tidak terasa sakit lagi,’’ kata Arifin. (shalihin/abi)

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/